Oleh : Hanif Abizar (Siswa SDN 32 Mendobarat)
Di sebuah desa yang bernama Lembah Hijau, ada seorang anak yang bernama Riki. la duduk di kelas 4 SD. Ia dikenal senang bermain gawai dan jarang mengikuti kegiatan di luar kelas.
Suatu hari Bu Rani, guru IPA mereka, membawa kabar yang mengejutkan.
“Anak-anak, minggu depan kita akan mengadakan lomba lingkungan pelestarian antarkelas.”
Semua anak bersorak senang. Tapi tidak dengan Riki, ia malah tertunduk lesu.
Yang lebih mengejutkan lagi, Bu Rina menunjuk Riki sebagai ketua tim.
“Riki, karena kamu memiliki nilai tertinggi di kelas, kamu Ibu pilih jadi ketua tim, ya.” kata Bu Rina, sambil tersenyum.
Riki hanya bisa mengangguk, padahal dalam hati ia mengeluh.
“Kenapa harus Aku? Aku pun tidak suka kotor-kotoran!”
Keesokan harinya mereka ke hutan di pinggir desa. Di sana mereka melihat sampah plastik berserakan, pohon ditebang sembarangan.
“Hutan ini tidak layak,” kata Pak Rofi guru IPA yang mengantar mereka ke hutan ini. Mereka pun mulai berdiskusi, “Bagaimana kita bersihkan hutan ini, dan membuat taman baca di sini!” kata Mita.
Beberapa anak langsung setuju dan di sana Riki mulai penasaran, lalu khayalan Riki pun mulai muncul. Membuat tempat duduk dari ban karet bekas. Rak buku dari kardus di sana. Riki mulai penasaran.
Keesokan harinya mereka mulai bekerja. Mereka mengumpulkan ban bekas dan kardus bekas. Mita mulai menyapu daun-daun kering dan menanam bibit pohon
Di sekitar lokasi, Riki yang enggan berkotor-kotoran, kini ia yang paling bersemangat.
la jadi murid yang paling rajin dari murid lainnya. Ia datang paling pagi, mengecat ban bekas warna-warni, membuat lemari dari kardus bekas dan menyiram pohon.
Dan ada papan nama bertuliskan “Taman Baca Lembah Hijau.”
Hari itu Riki yang sedang membaca buku. Burung-burung berkicauan, sinar matahari masuk ke sela-sela daun.
“Rasanya tenang sekali!” gumam Riki. Ia pertama kalinya merasakan seindah itu. Lalu Riki melirik teman-temannya.
“Enak sekali ya, bumi ini memang asyik!”
Dua minggu berlalu, hari lomba pun tiba. Ada yang membuat video kampanye air.
Ada yang membuat tanaman di sekolah, dan saatnya giliran kelas Riki. Mereka menunjukkan foto-foto proses membuat taman baca. Mereka mengajak juri dan guru berkunjung ke taman baca tersebut. Saat juri dan guru berkunjung ke tempat tersebut, semua juri dan guru kagum. Salah satu juri berkata, “Kalian tidak hanya membersihkan hutan ini tapi membuat taman baca yang bagus. Hebat!”
Tim kelas 4 diumumkan sebagai juara pertama. Semua anak bersorak senang. Tidak dengan dodi. Yang sangat bagus bukanlah piala tapi pengalaman Riki mencintai alam. Riki membuat akun media sosial khusus untuk menjaga alam seperti cara menyiram tanaman yang benar, menanam bunga dan lain-lainnya.
Keesokan harinya Riki dan teman-temannya pergi membersikan sampah di selokan dan menanam tanaman di sekolah. la mendapatkan pelajaran baru, mencintai alam dan tumbuhan. Riki yang biasanya senang bermain gawai dan berdiam di rumah, kini ia berubah.
Dia sering membaca di taman baca yang mereka buat. Mereka sering bermain petak umpet dan menyiram tanaman. Mereka membuat kerajinan tangan. Dari bahan alam sekitar dan menanam kembali tanaman. Mereka banyak menuai pujian dari masyarakat sekitar dan mendapatkan penghargaan dari Bapak RT dan sekolah. Jadi jagalah alam dan tumbuhan di sekitar kita selagi kita bisa. (BP / KM)*
Catatan : Cerpen ini merupakan karya peserta FLS3N Tingkat Kecamatan Mendobarat Tahun 2026.












