Ketika “Rumah” Berubah Menjadi Jerat yang Menjerat

Karya: Yanto In Action (Guru, Penulis Motivator Pendidikan dan Da'wah Indonesia)

 

Bekaespedia.com, Rias – Toboali,- Seringkali kita berpikir musuh terberat ada di luar sana—persaingan kerja, harga naik, atau orang yang tidak suka pada kita. Tapi ternyata, ada satu bahaya yang jauh lebih diam-diam dan mematikan, dan itu justru datang dari tempat yang seharusnya paling aman: rumah sendiri.

Di akhir zaman nanti, ujian buat seorang laki-laki atau kepala keluarga itu terasa begitu berat. Bayangkan saja: saat dia pulang dengan lelah, bukannya disambut pengertian, dia justru dihina karena kantongnya kosong. Istri meminta lebih dari yang dia sanggup berikan, orang tua menuntut tanpa memandang kemampuan, dan anak-anak mungkin juga menuntut gaya hidup yang belum waktunya.

Kalau terus-menerus didesak dari segala arah seperti ini, hati siapa yang tidak sempit? Akal sehat pun bisa jadi terguncang. Karena ingin segera diamkan semua tuntutan itu, jalan pintas yang salah pun terlihat menggiurkan. Ada yang akhirnya tergoda mencuri, berhutang riba, atau melakukan hal lain yang sebenarnya merusak imannya. Padahal, harta yang didapat dengan cara kotor itu tidak akan pernah membawa ketenangan—justru itulah awal kehancuran yang sesungguhnya.

Ini bukan berarti keluarga itu jahat, tapi lebih kepada kurangnya rasa saling mengerti. Kalau keluarga tidak mau memahami batas kemampuan kepala rumah tangga, mereka tanpa sadar sedang mendorong orang yang mereka cintai ke jurang. Sebaliknya, buat kita para laki-laki, ini jadi pengingat penting: seberat apa pun tekanannya, jangan sampai kita tukarkan iman kita demi menutup mulut orang lain. Lebih baik hidup sederhana dengan hati tenang dan harta halal, daripada kaya raya tapi iman kita luntur.

Semoga kita semua dijauhkan dari ujian seperti ini. Semoga Allah berikan kita rezeki yang luas, dan juga berikan keluarga kita hati yang luas untuk saling mengerti dan saling mendoakan, bukan saling menuntut. Sebab rumah yang damai adalah benteng terbaik kita di tengah kerasnya hidup di akhir zaman.

Semoga bermanfaat!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *