Membersihkan Sekolahku

Oleh : Nadhifa Sholiha (Siswa SDN 13 Mendobarat)

 

Hari Minggu ini hari terakhir liburan, besok adalah hari Senin kami berempat sudah harus masuk sekolah lagi. Untuk menikmati hari terakhir liburan kami berkumpul di taman dekat sekolah kami. “Tak terasa ya liburan sekolah sudah hampir selesai,” ucap Kaisa.

“Iya, besok kita harus siap-siap bersekolah lagi!” jawabku.

“Hari ini kita mau ngapain? Aku rasanya sudah bosan bermain,” tanya Raska.

“Iya bermain terus lama-lama memang membosankan,” jawab Syapiq.

“Bagaimana kalau kita mampir ke gedung sekolah sebentar,” tanya Kaisa.

“Hmm…. Boleh juga itung-itung pemanasan sebelum belajar,” jawab Syapiq.

“Pasti seru menjelajah ke sekolah di saat tidak ada siapapun,” jawabku.

“Iya benar seperti ekspedisi pemburuan harta karun ya,” lanjut Raska.

“Katanya gedung sekolah seram kalau tidak ada siapapun, kalian nanti tidak boleh merengek minta pulang ya!” ucap Syapiq. “Tidak, kami bukan penakut!” jawabku dan Kaisa.

Kamipun pergi ke gedung sekolah yang berada tak jauh dari taman, sambil bersenda gurau sepanjang jalan. Sesampainya di depan kelas kami terkejut dengan apa yang kami lihat.

“Aaa…… tidak, kenapa kotor sekali gedung sekolah kita?” tanya kaisa.

Tak hanya halaman saja yang kotor, ruang kelas kami pun terlihat belum pernah di bersihkan sejak terakhir masuk sekolah.

“Hmm… bentar lagi masuk sekolah kenapa kelas masih kotor gitu ya?” tanya Syapiq.

“Kalau liburan bukankah Ibu Susi penjaga sekolah kita yang membersihkannya!” jawab Raska.

“Jangan-jangan terjadi sesuatu pada Ibu Susi?” tanya Syapiq.

“Bagaimana kalau kita tanya Ibu Susi saja ya, bukankah rumahnya hanya di belakang sekolah!” jawabku.

Tak butuh waktu lama untuk kami pergi ke rumah Ibu Susi, sesampainya di sana kami melihat Ibu Susi terbaring lemah di atas tempat tidur. Ternyata Ibu Susi sedang mengalami musibah dan kakinya cedera.

“Loh bagaimana kalian bisa sampai di sini. Bukankah kalian masih liburan?” tanya Ibu Susi.

“Kami tadi mampir ke gedung sekolah ibu,” jawab Syapiq.

“lya, dan kelas kami masih kotor, kami ke ke sini bermaksud untuk memberi tahu ibu,” lanjut Raska.

“Dan kelas kami masih kotor, Bu!” lanjutku.

“Aduuuh padahal sebelum kalian liburan, Ibu sudah membersihkan semuanya. Ibu kira tidak akan sekotor itu sekarang. Baiklah nanti sore akan ibu bersihkan.” jawab Ibu Susi.

Kami berempat saling memandang satu sama lain. Kami berpikir sama bagaimana Ibu Susi bisa membersihkan sekolah sedangkan dia sedang sakit.

“Ibu Susi istirahat saja biar kami saja yang membersihkan sekolah!” ucap Syapiq.

“lya Bu biar kami yang membersihkan sekolah!” lanjut Raska.

“Ya udah kalau begitu bersihkan saja ruang kelas kalian sisanya biar Ibu yang urus, ini kuncinya!” jawab ibu Susi.

“Terima kasih ibu nanti akan kami kembalikan,” jawab Syapiq.

“Jangan memaksa diri ya, nanti kalau kalian capek kembali saja ke sini!” ucap ibu Susi.

“Baik ibu,” jawab kami berempat.

Kami kembali ke sekolah untuk mulai bersih-bersih. Pertama-tama kami mengumpulkan alat yang dibutuhkan kemudian membagi tugas.

“Nah sekarang kita sudah punya tugas masing-masing, ayo bekerja!” ucap Syapiq.

Syapik dan Raska mendapat tugas menyapu dan mengepel, pertama-tama mereka menyapu lantai terlebih dahulu kemudian mengepel lantai hingga mengkilap. Sementara itu Kaisa mendapat tugas membersihkan rak buku dan meja kursi sedangkan aku mendapat tugas membersihkan semua kaca jendela sekaligus memoles pintu kelas supaya bersih. Waktu terus berlalu tak terasa matahari sudah semakin tinggi.

“Wah akhirnya selesai juga kita bersih-bersih!” ucap Syapiq.

“Iya tak terasa ya, karena dikerjakan bersama-sama jadinya cepat selesai dan terasa ringan,” jawab Raska.

Hasil kerja keras kami sungguh memuaskan, ruang kelas menjadi bersih bersinar.

“Itu karena kita bekerja sama saling membantu pekerjaan, yang terasa berat jadi terasa lebih ringan, terus untuk kita kelompok Raska, Syapiq, Kaisa dan Nadhifa toos, yuk kita kembali ke ibu Susi untuk mengembalikan kunci!” ucap Syapiq.

“Eh tunggu sebentar sebaiknya kita ke sana juga tidak membawa tangan kosong kasihan ibu Susi,” saranku.

“Ide bagus bagaimana kalau kita membeli buah-buahan, kita sisihkan sedikit uang saku kita untuk membeli buah,” jawab Raska.

“Yuk segera kita lakukan!” lanjut Kaisa.

Kami membelikan buah-buahan, setelah membeli buah-buahan kami kembali ke rumah ibu Susi untuk mengembalikan kunci.

“Kalian malah repot-repot membelikan buah-buahan dengan kalian membantu membersihkan kelas saja sebenarnya Ibu sudah merasa terbantu,” ucap Ibu Susi.

“Santai saja ibu kami tadi bergotong royong dalam membersihkan sekolah jadinya cepat selesai dan terasa ringan,” jawab Syapiq.

“Kalian memang patut diancungi empat jempol!” ucap Ibu Susi. (BP / KM)*

 

Catatan : Cerpen ini merupakan karya peserta FLS3N Tingkat Kecamatan Mendobarat Tahun 2026.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *