Oleh : Natasha (Siswa SDN 19 Mendobarat)
Di sebuah desa yang asri, tinggal seorang anak yang bernama Azis, ia duduk di kelas tiga SDN 19 Mendobarat ia suka bermain di luar rumah setiap sore. Azis bermain bola bersama teman-temannya di lapangan dekat sungai. Tetapi akhir-akhir ini sungai di desa mereka terlihat kotor. Banyak sampah plastik mengapung di air. Rumput di dekat sungai banyak sampah plastik makanan dan botol minuman.
Suatu hari, Azis bermain bola. Bola milik Azis jatuh ke tepi sungai. Saat mau mengambilnya Azis melihat ikan kecil terjebak di plastik.
“Kasihan sekali ikan kecil ini!” kata Azis dengan pelan.
Lalu ia melepaskan ikan kecil itu, tetapi ia merasa sedih melihat keadaan sungai. Keesokan harinya bu guru menjelaskan tentang pentingnya menjaga bumi.
“Anak- anak, “kata bu guru, “kalau kita membuang sampah sembarangan lingkungan akan tercemar, udara menjadi kotor dan hewan-hewan akan mati.”
Azis teringat dengan ikan kecil. Pelajaran bu guru selesai.
“Bagaimana kalau kita membersihkan sungai di dekat lapangan,” kata Azis.
Teman-teman Azis saling berhadapan, “Apa kita bisa? tanya Budi..
“Bisa kalau kita berkerja sama,” jawab Azis.
Hari Minggu pagi Azis, Budi, Lisa, dan teman-teman lainnya berkumpul di dekat sungai. Membawa sapu, karung, dan sarung tangan.
“Ayo kita mulai dari tepi sungai!” seru Lisa. Walaupun hari mulai panas tetapi mereka tetap bersemangat. Saat membersikan, Budi mengeluh, “Banyak sekali sampahnya.”
Azis tersenyum lalu berkata, “Kalau kita menyerah, sungai akan kotor.”
Lalu semua kembali bersemangat lagi. Warga Desa Cengkong Abang merasa kagum melihat anak-anak bekerja bersama. Bapak RT mendekat lalu berkata, “Kalian anak baik.”
Lalu bapak RT ikut membantu. Ada juga warga desa membantu, ada yang membawa tempat sampah besar, ada juga yang mengangkut sampah dengan gerobak sampah. Oleh karena itu, sungai yang tadinya kotor menjadi bersih.
“Akhirnya sungai kita menjadi bersih lagi,” kata Lisa.
Azis dan teman-teman pun ikut senang. Musim hujan tiba, biasanya sungai tersumbat tetapi tahun ini air sungai mengalir lancar.
Warga Desa Cengkong Abang ikut senang. Bapak RT juga ikut senang. Di sekolah, Azis juga ada lomba membuat pot bunga dari barang bekas. Azis membuat pot bunga dari kaleng, mengisi bunga matahari di pot tersebut.
Kata Azis kepada ibu “Ternyata barang bekas masih bisa digunakan ya” kata Azis.
Ibu-ibu tersenyum lalu berkata, “kalau kreasi barang bekas bisa menjadi lebih bagus.”
Azis juga membuat poster dari kardus yang bertuliskan
Jagalah bumi kita!
Buanglah sampah pada tempatnya!
lalu poster tersebut digantung di lapangan sekolah. Bu guru bangga kepada murid-muridnya karena telah menjaga lingkungan. Hari Minggu Azis dan teman-temannya duduk di tepi sungai melihat ikan dengan air jernih.
“Kalau bumi kita bersih kita juga sehat” ujar Lisa.
Dari desa kecil menjadi desa bersih. (BP / KM)*
Catatan : Cerpen ini merupakan karya peserta FLS3N Tingkat Kecamatan Mendobarat Tahun 2026.












