Tangisan Laut dan Janji Anak Pesisir

Oleh : Nurul Jannatul Ma’wa (Siswa SDN 5 Pangkalanbaru)

 

Terdengar gemericik ombak yang lembut menyapa pasir. Ikan-ikan kecil berlarian gembira di antara cahaya matahari yang menembus permukaan air. Laut hari itu tampak bahagia—bersih, jernih, dan nyaman—seakan ikut tersenyum menyambut siapa saja yang datang dengan hati penuh cinta.

Nurul Jannatul Ma’wa. gadis berusia 11 tahun, anak pesisir yang tumbuh bersama debur ombak dan hembusan angin pantai. Sejak kecil, aku sangat mencintai laut. Setiap pulang sekolah, langkah kakiku selalu ringan menuju pantai, tempat favoritku melepas lelah dan bermimpi.

Di sana, aku menyaksikan ikan-ikan berenang bebas. Ada ikan cupang berwarna oranye yang berkilau diterpa sinar matahari, dan banyak ikan kecil lainnya yang hilir mudik seakan sedang bermain petak umpet di dalam air. Perahu-perahu berwarna-warni berbaris indah di tepi pantai, menambah keindahan pemandangan sore hariku.

Aku sangat bahagia bermain di pantai ini. Bagiku, pantai bukan sekadar hamparan pasir dan air asin. Ia adalah sahabat setiaku—tempatku bercerita, tertawa, dan menenangkan hati setiap kali selesai belajar di sekolah. Laut adalah bagian dari hidupku, dan aku berjanji akan selalu menjaganya dengan sepenuh cinta.

Dulu, pantai itu adalah rumah kebahagiaanku.

Setiap sore, tepat pukul 15.00, aku berlari kecil menuju bibir pantai untuk menunggu ayah pulang melaut. Debur ombak terdengar lembut, angin berhembus membawa aroma asin yang menenangkan. Dari kejauhan, kulihat perahu besar ayah membelah lautan yang berkilau keemasan diterpa cahaya matahari senja. Ayah melambaikan tangan dengan senyum bangga, dan aku membalasnya dengan tawa riang.

Perahu itu pun merapat. Ayah turun sambil membawa hasil tangkapan yang melimpah—ikan-ikan segar yang masih berkilau. Aku tersenyum gembira. Di air yang jernih, aku masih bisa melihat ikan-ikan kecil berenang lincah di antara riak ombak. Pantai kami bersih, indah, dan penuh kehidupan. Laut seakan tersenyum kepada kami.

Namun, keindahan itu tak bertahan lama.

Keesokan harinya, karena hari Minggu dan sekolah libur, aku kembali ke pantai dengan hati riang. Tetapi langkahku terhenti. Pemandangan di depanku begitu berbeda. Di sepanjang tepi pantai berdiri tower-tower besar yang menjulang tinggi. Di pasir yang dulu halus dan bersih, kini berserakan sampah bungkus makanan dan minuman. Plastik bertebaran, tertiup angin, sebagian lagi terdampar di bibir laut.

Aku terdiam. Hatiku terasa sesak.

“Ayah… kenapa pantai kita jadi seperti ini?” tanyaku lirih.

Ayah menarik napas panjang. “Itu bekas orang-orang yang datang semalam, Nak,” jawabnya pelan.

“Mereka makan di sini, tapi lupa membawa pulang sampahnya.”

“Tapi, Yah… seharusnya dibuang ke tong sampah, kan?”

Ayah mengangguk lemah. “Benar, Nak. Tapi di pantai belum ada tong sampah seperti di rumah atau di sekolahmu.”

Aku menunduk. Kini aku tak lagi melihat ikan-ikan kecil berenang di air yang jernih. Laut tampak keruh, seolah ikut bersedih. Suasana pantai tak lagi seindah dulu. Angin yang berhembus pun terasa berbeda—bukan lagi membawa ketenangan, melainkan keprihatinan.

Pantai yang dulu menjadi tempatku menunggu ayah dengan penuh bahagia, kini berubah menjadi tempat yang membuatku bertanya-tanya.

Apakah laut sedang menangis?

Angin sore berhembus pelan. Nurul berdiri di tepi pantai yang kini tak lagi sama. Pasir yang dulu lembut kini terasa kasar oleh serpihan plastik. Air yang dulu jernih kini tampak keruh. Ia memejamkan mata, mencoba mengingat suara ombak yang dulu terdengar seperti nyanyian.

Tiba-tiba, di antara desir angin dan debur ombak, Nurul mendengar sesuatu.

“Nurul…”

Ia terkejut. Ia membuka mata dan menoleh ke kanan dan kiri. Tak ada siapa-siapa.

“Nurul… dengarkan aku…”

Suara itu lembut, berat, dan dalam—seperti datang dari dasar samudra. Nurul menatap hamparan laut di depannya.

“Apakah itu kamu, Laut?” bisiknya pelan.

Ombak kecil bergulung pelan, seolah mengangguk.

“Aku lelah, Nurul…” suara itu kembali terdengar.

“Dulu aku memberi kehidupan. Ikan-ikan berenang riang, terumbu karang tumbuh indah. Ayahmu pulang dengan senyum bahagia. Tapi kini… aku sesak.”

Nurul merasakan air matanya mengalir.

Tiba-tiba seekor ikan kecil muncul di permukaan, berenang lemah mendekati bibir pantai.

“Kami sulit bernapas,” kata ikan itu lirih. “Air kami tercemar. Plastik-plastik itu menyumbat rumah kami. Banyak temanku terperangkap dan tak bisa kembali.”

Dari arah karang, seekor kepiting kecil berjalan pelan.

“Pasir ini bukan lagi tempat bermain yang aman,” katanya. “Kami sering terluka oleh pecahan kaca dan sampah tajam.”

Burung camar yang terbang rendah pun ikut bersuara, “Kami mengira plastik itu makanan. Banyak dari kami jatuh sakit.”

Nurul menutup wajahnya. Tangisnya pecah.

“Maafkan kami…” ucapnya gemetar. “Maafkan manusia yang tidak menjaga kalian.”

Angin bertiup lebih kencang, seolah membawa suara seluruh alam. Pohon-pohon kelapa berdesir sedih.

“Kami tidak membenci manusia,” suara laut kembali terdengar. “Kami hanya ingin dipahami. Kami ingin dijaga, bukan disakiti.”

Nurul mengepalkan tangannya.

“Aku mungkin masih kecil,” katanya tegas, “tapi aku tidak akan diam. Aku akan mengajak teman-temanku. Kami akan membersihkan pantai ini. Kami akan mengingatkan orang-orang untuk tidak membuang sampah sembarangan.”

Ombak tiba-tiba bergulung lebih tinggi, lalu menyentuh ujung kaki Nurul dengan lembut—seperti pelukan.

“Harapan selalu dimulai dari satu hati yang peduli,” bisik laut.

Ikan kecil itu berenang sedikit lebih lincah. Kepiting itu bergerak lebih cepat. Burung camar kembali terbang lebih tinggi.

Langit senja perlahan berubah jingga keemasan. Untuk pertama kalinya sejak lama, Nurul merasa laut tidak sepenuhnya menangis.

Karena hari itu, di tengah tangisan akibat ulah manusia, tumbuh sebuah janji kecil dari seorang anak pesisir—janji untuk mengembalikan senyum lautnya kembali.

Keesokan harinya, Nurul datang ke sekolah dengan semangat yang berbeda. Di sepanjang pelajaran, pikirannya dipenuhi satu ide besar. Ia membayangkan teman-temannya berjalan bersama menuju pantai, bukan hanya untuk menikmati angin laut, tetapi juga untuk membersihkannya. “Bagaimana kalau kita membuat pembiasaan jalan sehat ke pantai setiap hari Jumat, dua kali dalam sebulan, sekaligus kegiatan bersih pantai?” gumamnya penuh harap. Sepulang pelajaran, Nurul memberanikan diri menemui wali kelasnya, Bu Siti. Dengan suara mantap namun tetap sopan, ia menyampaikan gagasannya tentang program “Jalan Sehat dan Bersih Pantai.” Ia menjelaskan bahwa kegiatan itu bukan hanya menyehatkan tubuh, tetapi juga menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan. Bu Siti tersenyum bangga mendengar kepedulian Nurul. Menurutnya, ide itu sangat baik untuk membentuk karakter siswa yang cinta alam dan bertanggung jawab. Nurul pun merasa bahagia, karena dari kepeduliannya terhadap tangisan laut, kini lahir sebuah langkah nyata untuk menjaga pantai kembali bersih dan indah. Dengan hati berdebar namun penuh harap, aku melihat Bu Siti tersenyum hangat memahami setiap kata yang kusampaikan. Tanpa menunda waktu, beliau mengajakku menuju ruang kepala sekolah. Di sepanjang lorong, langkah kami terasa penuh makna—seolah membawa sebuah harapan besar untuk pantai tercinta.

Sesampainya di ruang kepala sekolah, kami melihat beliau sedang tekun menyelesaikan pekerjaannya. Bu Siti pun menyampaikan seluruh gagasan yang telah kuceritakan sebelumnya—tentang program Jalan Sehat dan Bersih Pantai yang dapat dilaksanakan setiap hari Jumat, dua kali dalam sebulan. Dengan suara lembut namun penuh keyakinan, Bu Siti menjelaskan bahwa kegiatan ini bukan hanya menyehatkan tubuh, tetapi juga menumbuhkan kepedulian dan cinta lingkungan pada siswa.

Kepala sekolah menyimak dengan saksama. Wajahnya yang semula serius perlahan berubah menjadi senyum bangga. Beliau mengangguk pelan, lalu berkata dengan penuh apresiasi, “Ini ide yang sangat baik. Dari kepedulian kecil bisa lahir perubahan besar.”

Kepala sekolah bangkit dari kursinya dengan wajah penuh semangat. “Ide ini tidak boleh berhenti hanya sebagai wacana,” ujarnya tegas namun hangat. Beliau kemudian menugaskan sebuah tim kecil yang terdiri dari beberapa siswa perwakilan tiap kelas—termasuk Nurul—untuk merancang program tersebut secara lebih terstruktur.

Tim itu diberi tanggung jawab menyusun nama program yang menarik dan mudah diingat, menentukan jadwal pelaksanaan setiap Jumat dua kali dalam sebulan, menyusun rangkaian kegiatan, hingga membagi peran setiap peserta. Mereka juga diminta menyiapkan slogan penyemangat, aturan kebersihan, serta rencana kerja sama dengan guru dan warga sekitar pantai.

Nurul dan teman-temannya berkumpul di perpustakaan sepulang sekolah. Dengan penuh antusias, mereka berdiskusi, menuliskan berbagai usulan nama program yang mencerminkan semangat cinta lingkungan. Ada yang mengusulkan nama yang ceria, ada pula yang penuh makna. Mereka merancang kegiatan diawali dengan jalan sehat bersama, dilanjutkan dengan aksi bersih pantai, lalu ditutup dengan refleksi singkat tentang pentingnya menjaga alam.

Bahkan, mereka berencana membuat poster dan ajakan kreatif agar seluruh siswa berpartisipasi. Bagi Nurul, ini bukan sekadar tugas dari kepala sekolah. Ini adalah langkah nyata untuk menjawab tangisan laut yang pernah ia dengar. Kini, kepedulian kecil itu telah tumbuh menjadi gerakan bersama—gerakan anak-anak sekolah yang ingin mengembalikan senyum pantai mereka.

Sepulang sekolah, tim kecil itu berkumpul di perpustakaan. Di atas meja sudah tersedia buku catatan, spidol warna-warni, dan secarik kertas besar untuk menuliskan rancangan program. Wajah mereka tampak antusias.

“Baik, teman-teman,” ujar Raka membuka diskusi, “pertama kita tentukan dulu nama programnya. Harus menarik dan mudah diingat.”

“Aku punya ide!” sahut Nurul bersemangat. “Bagaimana kalau namanya Jumat Berseri? Singkatan dari Bersih, Sehat, dan Peduli Negeri.”

“Wah, bagus!” kata Aisyah sambil menuliskan di kertas. “Atau mungkin Sahabat Pantai? Biar terasa kalau kita benar-benar menjadi teman bagi laut.”

Dimas mengangkat tangan. “Bagaimana kalau digabung? Jumat Berseri: Sahabat Pantai.”

Semua saling berpandangan, lalu mengangguk setuju.

“Sekarang jadwalnya,” kata Raka lagi. “Sesuai arahan kepala sekolah, dua kali dalam sebulan, setiap Jumat pagi sebelum pelajaran dimulai.”

“Berarti kita kumpul jam enam tiga puluh di sekolah,” tambah Aisyah, “lalu jalan sehat bersama ke pantai.”

“Setelah itu kita bagi tugas,” ujar Nurul. “Ada tim pungut sampah plastik, tim kumpulkan sampah organik, dan tim dokumentasi.”

“Jangan lupa sarung tangan dan kantong sampah,” kata Dimas. “Kita juga bisa membawa poster ajakan supaya masyarakat ikut sadar.”

Raka tersenyum bangga. “Bagaimana kalau setiap selesai kegiatan, kita duduk melingkar sebentar untuk refleksi? Siapa tahu ada yang mau berbagi perasaan atau pengalaman.”

“Itu bagus sekali,” jawab Nurul pelan. “Supaya kita ingat, ini bukan hanya bersih-bersih, tapi bentuk cinta kita pada pantai.”

Suasana diskusi terasa hangat. Mereka tak lagi sekadar teman sekelas, tetapi menjadi satu tim dengan tujuan yang sama. Di balik tawa dan ide-ide yang mengalir, tersimpan harapan besar—suatu hari nanti, pantai mereka akan kembali bersih, dan laut tak lagi menangis.

Akhirnya, Jumat yang dinanti pun tiba. Sejak pagi, suasana sekolah terasa berbeda. Wajah-wajah ceria penuh semangat memenuhi halaman. Setelah kegiatan kultum yang menyejukkan hati dan senam pagi yang menyegarkan tubuh, seluruh siswa bersiap dengan topi, sarung tangan, dan kantong sampah di tangan mereka.

Dengan langkah tertib dan rapi, mereka berjalan bersama menuju pantai. Barisan itu menyusuri rumah-rumah warga, diiringi senyum dan sapaan ramah. Tidak hanya berjalan sehat, mereka juga membawa misi. Beberapa siswa membagikan selebaran sederhana, sementara yang lain menyampaikan pesan dengan sopan.

“Bapak, Ibu, mari kita jaga kebersihan pantai kita bersama,” ucap Nurul dengan suara lembut namun penuh keyakinan.

“Laut adalah sumber kehidupan kita. Jika laut bersih, ikan-ikan sehat, nelayan pun bahagia,” tambah Raka.

Sebagian warga tersenyum bangga melihat kepedulian anak-anak itu. Ada yang mengangguk setuju, ada pula yang berjanji akan menyediakan tempat sampah di depan rumah masing-masing.

Sesampainya di pantai, anak-anak tidak menunggu lama. Mereka langsung bergerak sesuai pembagian tugas. Ada yang memungut sampah plastik di sepanjang bibir pantai, ada yang mengumpulkan botol dan bungkus makanan, ada pula yang mencatat jenis-jenis sampah yang paling banyak ditemukan. Suara ombak berpadu dengan tawa dan semangat mereka.

Nurul memandang laut yang hari itu tampak sedikit lebih jernih. Dalam hatinya, ia berbisik, “Kami datang, Laut. Kami tidak akan membiarkanmu sendiri lagi.”

Kegiatan itu tidak berhenti hanya sekali. Setiap dua Jumat dalam sebulan, mereka kembali melangkah bersama. Konsisten. Disiplin. Penuh komitmen. Sedikit demi sedikit, pantai mulai berubah. Sampah berkurang, pasir tampak lebih bersih, dan warga sekitar semakin sadar untuk tidak membuang sampah sembarangan.

Program “Jumat Berseri: Sahabat Pantai” bukan lagi sekadar kegiatan sekolah. Ia telah menjadi gerakan bersama-gerakan kecil yang lahir dari kepedulian seorang anak, lalu tumbuh menjadi harapan bagi laut yang dulu menangis.

Dan kini, setiap kali ombak menyentuh kaki Nurul, ia merasa seperti mendengar bisikan lembut-bukan lagi tangisan, melainkan ucapan terima kasih.

 

Catatan : Cerpen ini merupakan karya peserta FLS3N Tingkat Kecamatan Pangkalanbaru tahun 2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *