Bukit Kukus Diresmikan, Masyarakat Air Belo Menanam Harapan Baru Pariwisata Bangka Barat

Penulis: Belva Al Akhab, Satrio dan Tim

 

Bekaespedia.com, Mentok, – Sebuah pita merah putih terentang di antara dua sisi jalan. Di belakangnya, pepohonan berdiri dalam diam. Udara pagi masih menyimpan kesejukan. Tanah dan bukit yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Air Belo perlahan mendapatkan nama baru sebagai destinasi wisata.

 

Minggu pagi, 9 Agustus 2026, sekitar pukul 07.30 WIB, Bukit Kukus di Desa Air Belo, Kecamatan Mentok, Kabupaten Bangka Barat, resmi dibuka sebagai wisata alam.

 

Tetapi pagi itu sesungguhnya bukan hanya tentang sebuah pita yang dipotong.

 

Ia tentang bagaimana sebuah masyarakat mencoba memberi masa depan kepada ruang alam yang mereka miliki. Tentang pemuda yang melihat peluang di balik bukit. Tentang para tetua yang lebih dahulu merintis. Tentang sejarah yang ingin tetap diceritakan. Tentang harapan agar pariwisata tidak hanya mendatangkan orang, tetapi juga membawa penghidupan bagi warga.

 

Kepala Dinas Pariwisata Bangka Barat, Fachriansyah, S.IP., M.Si., mengatakan Bukit Kukus merupakan salah satu aset wisata yang dapat memperkaya potensi pariwisata Kecamatan Mentok dan Bangka Barat.

 

Menurutnya, Mentok selama ini telah dikenal dengan kekayaan wisata sejarah. Kehadiran Bukit Kukus dapat memperluas pengalaman wisatawan dengan mempertemukan alam, sejarah, edukasi, kreativitas dan ekonomi masyarakat.

 

“Sesuatu harus dimulai. Dan hari ini kita buktikan, Bukit Kukus kita launching sebagai wisata alam.” jelas Fachriansyah saat peresmian Bukit Kukus.

 

Kalimat itu menjadi penanda.

 

Sebuah tempat yang sebelumnya mungkin hanya dipandang sebagai bukit, kini hendak diubah menjadi cerita.

 

Fachriansyah tidak ingin peresmian Bukit Kukus hanya menjadi cerita tentang pemerintah yang datang dan membuka sebuah objek wisata.

 

Ia justru mengingat mereka yang berada jauh sebelum panggung peresmian berdiri.

 

Para pemuda.

 

Tokoh masyarakat.

 

Para tetua.

 

Orang-orang yang merintis Bukit Kukus ketika belum banyak orang melihat nilai wisata di dalamnya.

 

Nama almarhum Haji Simon disebut sebagai salah satu sosok yang berjasa dalam perjalanan awal kawasan tersebut.

 

Bagi mereka yang hadir, penyebutan nama itu seolah mengingatkan bahwa pembangunan tidak selalu dimulai dari gedung pemerintahan atau angka dalam dokumen anggaran.

 

Kadang ia bermula dari seseorang yang membersihkan jalan setapak.

 

Dari pemuda yang membuka akses.

 

Dari warga yang percaya bahwa tempat tinggal mereka menyimpan sesuatu yang layak diperlihatkan kepada dunia.

 

Hari ini, kerja-kerja kecil itu memperoleh panggung.

 

“Kami memberikan apresiasi dan penghormatan kepada Pak Darwis, para tokoh pemuda, para tetua, termasuk yang sudah meninggal, Pak Haji Simon dan lain-lain yang berjasa merintis Bukit Kukus ini sehingga hari ini kita saksikan launching wisata Bukit Kukus.” tambahnya.

 

Di balik sebuah destinasi, selalu ada manusia yang jarang disebut.

 

Mereka mungkin tidak tercatat sebagai pemilik ide besar.

 

Namun dari tangan merekalah sebuah tempat mulai dikenal.

 

Fachriansyah kemudian berbicara tentang masa depan.

 

Ia ingin Bukit Kukus tidak berdiri sendiri sebagai tempat wisata alam. Kawasan tersebut harus dirangkai dengan destinasi lain di Desa Air Belo dan Mentok.

 

Salah satu potensi yang disebut Jembatan Inggris.

 

Bagi pemerintah daerah, keberadaan Jembatan Inggris dapat menjadi bagian dari paket perjalanan wisata yang menghubungkan alam dengan sejarah.

 

Pengunjung nantinya tidak hanya datang, menaiki bukit, mengambil gambar, kemudian pulang.

 

Mereka harus mengetahui cerita.

 

Bagaimana Bukit Kukus dirintis.

 

Mengapa tempat itu penting.

 

Bagaimana sejarah Jembatan Inggris.

 

Bagaimana masyarakat hidup berdampingan dengan ruang yang kini mulai disebut destinasi wisata.

 

“Bukan hanya monoton orang naik, tetapi mereka harus diceritakan sejarah Bukit Kukus ini bagaimana. Sejarah Jembatan Inggris itu bagaimana.” jelasnya.

 

Kalimat itu menyentuh satu hal yang sering terlupakan dalam pembangunan wisata.

 

Sebuah tempat tidak menjadi berharga hanya karena pemandangannya.

 

Pemandangan dapat difoto.

 

Tetapi cerita membuat seseorang mengingat.

 

Bukit Kukus kelak diharapkan bukan hanya meninggalkan ribuan foto di telepon genggam pengunjung, tetapi juga meninggalkan pengetahuan tentang Air Belo.

 

Ada hal menarik yang mulai dibangun di Bukit Kukus.

 

Barcode.

 

Benda kecil yang terlihat sederhana itu ditempatkan sebagai pintu masuk menuju wisata edukasi.

 

Pengunjung dapat memindai kode untuk mengetahui jenis pohon, manfaat dan informasi mengenai tanaman yang ada di kawasan tersebut.

 

Dengan cara itu, pepohonan tidak lagi hanya menjadi latar berwarna hijau.

 

Pohon memiliki nama.

 

Memiliki fungsi.

 

Memiliki manfaat.

 

Perlahan memiliki cerita.

 

“Barcode ini untuk memberikan edukasi kepada generasi muda dan para pengunjung apa itu pohon-pohon dan apa mungkin kegunaannya.” ungkapnya.

 

Di sinilah wisata alam menemukan makna lain.

 

Seorang anak yang datang untuk berfoto mungkin pulang dengan pengetahuan baru tentang pohon.

 

Seorang wisatawan yang semula hanya ingin menikmati udara segar mungkin menjadi tahu bahwa alam di hadapannya menyimpan fungsi yang lebih besar daripada sekadar keindahan.

 

Pariwisata pun dapat menjadi ruang belajar.

 

Bukan ruang yang memiliki dinding dan papan tulis, melainkan ruang terbuka tempat pengetahuan tumbuh bersama pepohonan.

 

Fachriansyah juga membawa contoh dari Bukit Pramun di Kabupaten Belitung.

 

Di sana, katanya, sebuah mobil sedan bekas justru dapat menjadi daya tarik swafoto.

 

Benda yang mungkin dianggap tidak bernilai itu dikemas menjadi atraksi hingga mampu menghasilkan pendapatan ratusan juta rupiah.

 

“Ternyata hanya dengan bermodalkan mobil sedan bekas itu menjadi daya tarik sendiri dan sudah punya penghasilan ratusan juta.” ungkapnya penuh nada optimisme.

 

Pesannya sederhana.

 

Pariwisata tidak selalu membutuhkan kemewahan.

 

Yang diperlukan hanya kemampuan membaca sesuatu yang biasa menjadi luar biasa.

 

Mobil bekas dapat menjadi ikon.

 

Pohon dapat menjadi media edukasi.

 

Bukit dapat menjadi ruang rekreasi.

 

Sejarah dapat menjadi perjalanan.

 

Masyarakat dapat menjadi pelaku utama.

 

Bagi Bukit Kukus, kreativitas seperti itu menjadi penting agar pembangunan tidak hanya mengandalkan anggaran pemerintah.

 

Pemuda dan masyarakat harus memiliki ruang untuk menciptakan atraksi mereka sendiri.

 

Rencana pengembangan Bukit Kukus bahkan tidak berhenti di kawasan bukit.

 

Fachriansyah mendorong pemilik lahan di sekitar kawasan agar menanam tanaman buah dan tanaman produktif lainnya.

 

Lengkeng.

 

Apel.

 

Anggur.

 

Kelak, tanaman itu dapat dikembangkan menjadi wisata petik buah.

 

Wisatawan datang bukan hanya untuk menikmati panorama dari atas bukit, tetapi turun kembali ke tengah masyarakat.

 

Memetik buah.

 

Membeli hasil kebun.

 

Menikmati makanan.

 

Membawa pulang hasil pertanian warga.

 

“Jadi orang bisa wisata petik lengkeng ataupun apel ataupun anggur.” tambahnya.

 

Konsep itu menunjukkan bahwa pariwisata dapat dirancang seperti sebuah rantai.

 

Bukit membawa wisatawan masuk.

 

Kebun membuat mereka tinggal lebih lama.

 

Produk masyarakat membuat mereka berbelanja.

 

Uang yang dibelanjakan wisatawan berputar kembali di desa.

 

Jika dikelola dengan baik, pembangunan destinasi tidak hanya menciptakan tempat wisata.

 

Ia dapat menciptakan ekosistem ekonomi.

 

 

Tetapi Ada Tanah Warga yang Harus Diselesaikan

 

Di balik optimisme itu terdapat persoalan yang tidak boleh disembunyikan tentang permasalahan lahan.

 

Fachriansyah menyebut sebagian lahan di kawasan tersebut merupakan tanah warga.

 

Karena itu, ia mendorong pemerintah desa menyiapkan dasar dan dokumen pengelolaan agar kawasan wisata memiliki kekuatan hukum yang lebih jelas.

 

Ia juga menyampaikan kemungkinan meminta dukungan Komisi III DPRD Bangka Barat untuk membantu persoalan lahan, termasuk kemungkinan dukungan pembebasan lahan.

 

Persoalan ini menjadi bagian penting dari masa depan Bukit Kukus.

 

Sebab pembangunan pariwisata tidak boleh hanya bertanya bagaimana mendatangkan wisatawan.

 

Ia juga harus bertanya siapa yang memiliki tanah.

 

Siapa yang mengelola.

 

Siapa yang mendapatkan manfaat.

 

Bagaimana memastikan masyarakat tidak sekadar menjadi penonton ketika kawasan tempat mereka hidup berubah menjadi destinasi wisata.

 

Legalitas bukan sekadar tumpukan surat.

 

Ia adalah fondasi agar sebuah mimpi wisata tidak mudah runtuh ketika memasuki perjalanan yang lebih panjang.

 

Ada satu kekhawatiran yang selalu mengintai destinasi baru.

 

Keramaian bisa datang bersama pembukaan.

 

Tetapi setelah panggung dibongkar, spanduk diturunkan dan tamu pulang, tempat itu bisa kembali sunyi.

 

Fachriansyah ingin Bukit Kukus terhindar dari keadaan tersebut.

 

Ia mendorong agar setidaknya satu event digelar setiap bulan.

 

“Setiap bulan sekali ada event minimal di tempat ini supaya ini tetap menjaga daya tarik ataupun kunjungan di daerah ini.” jelasnya.

 

Event dapat menjadi denyut baru bagi destinasi.

 

Tetapi yang lebih penting, event seharusnya menjadi ruang bagi masyarakat.

 

Pemuda dapat menjadi panitia.

 

Pelaku UMKM dapat berjualan.

 

Petani dapat membawa hasil kebun.

 

Kelompok seni dapat tampil.

 

Masyarakat dapat menjadi bagian dari cerita yang mereka bangun sendiri.

 

Dengan begitu, pariwisata tidak menjadi panggung milik segelintir orang.

 

Ia menjadi ruang bersama.

 

Di zaman ketika sebuah tempat dapat terkenal hanya melalui satu video, Fachriansyah juga meminta Pokdarwis memanfaatkan media sosial secara maksimal.

 

TikTok dan platform digital lain dapat digunakan untuk memperkenalkan Bukit Kukus, sejarahnya, atraksinya, event-nya, hingga kehidupan masyarakat di sekitarnya.

 

“Silakan Pokdarwis menggunakan media sosial semaksimal mungkin. Event-event di sini ditonjolkan.” tuturnya dengan nada dalam akan makna harapan.

 

Kini kamera ponsel bisa menjadi papan nama.

 

Video pendek bisa menjadi brosur.

 

Cerita warga bisa menjadi promosi.

 

Tetapi popularitas juga membawa tanggung jawab.

 

Jika Bukit Kukus benar-benar viral, jumlah pengunjung dapat meningkat.

 

Karena itu, sejak awal masyarakat perlu memikirkan bagaimana menjaga kebersihan, mengatur jalur pengunjung, melindungi pepohonan, mengelola sampah, serta memastikan fasilitas wisata tidak merusak karakter alam yang justru menjadi daya tarik utama.

 

Jangan sampai sesuatu yang dibangun untuk memperkenalkan alam justru perlahan merusaknya.

 

Akhirnya, tibalah prosesi simbolis yang menjadi penanda resmi.

 

Fachriansyah didampingi anggota Komisi III DPRD Bangka Barat dan jajaran kepala dinas menuju lokasi pemotongan pita.

 

Atas nama Pemerintah Kabupaten Bangka Barat dan Bupati Bangka Barat, Bukit Kukus dinyatakan resmi dibuka.

 

“Dengan ucapan Bismillahirrahmanirrahim, wisata Bukit Kukus secara resmi kita buka.”

 

Tepuk tangan mengiringi pita yang terputus.

 

Agustus adalah bulan kemerdekaan.

 

Bulan ketika bangsa ini mengenang perjuangan untuk berdiri dengan kaki sendiri.

 

Di Air Belo, semangat itu menemukan bentuk yang berbeda.

 

Masyarakat sedang berusaha berdiri di atas potensi desanya sendiri.

 

Mereka mencoba menjadikan bukit sebagai sumber kehidupan.

 

Menjadikan alam sebagai ruang edukasi.

 

Menjadikan sejarah sebagai daya tarik.

 

Menjadikan kebun sebagai sumber penghasilan.

 

Menjadikan kreativitas pemuda sebagai mesin promosi.

 

Namun kemerdekaan itu juga membawa kewajiban untuk merawat.

 

“Bulan ini bulan Agustus, puncak peringatan hari kemerdekaan. Mari kita jaga dan kita rawat Bukit Kukus supaya menjadi tempat wisata yang idaman.” tutupnya.

 

Setelah pita dipotong, para pejabat mungkin akan kembali ke kantor.

 

Tamu akan pulang.

 

Kamera akan berhenti merekam.

 

Namun Bukit Kukus tetap berada di sana.

 

Dengan pepohonannya.

 

Dengan tanahnya.

 

Dengan sejarahnya.

 

Dengan masyarakat yang tinggal di sekelilingnya.

 

Dengan para pemuda yang kini memikul pekerjaan jauh lebih berat daripada sekadar menyelenggarakan grand opening.

 

Sebab pembangunan pariwisata sesungguhnya tidak diukur dari seberapa meriah sebuah destinasi dibuka.

 

Ia diukur dari apa yang terjadi setelahnya.

 

Apakah warga memperoleh penghasilan?

 

Apakah pemuda mendapat ruang untuk berkarya?

 

Apakah sejarah tetap hidup?

 

Apakah lahan masyarakat terlindungi?

 

Apakah pohon-pohon tetap berdiri?

 

Apakah sampah dapat dikelola?

 

Dan yang paling penting, apakah alam tetap menjadi alam setelah manusia datang beramai-ramai?

 

Bukit Kukus kini membuka pintunya.

 

Tetapi pintu itu seharusnya tidak hanya mengundang manusia menikmati alam.

 

Ia harus membuka jalan bagi masyarakat untuk tumbuh bersama alam.

 

Sebab wisata yang sesungguhnya bukanlah ketika sebuah bukit menjadi ramai.

 

Wisata yang berhasil adalah ketika bukit tetap hijau, sejarah tetap bercerita, masyarakat tetap berdaya, dan ekonomi desa tumbuh tanpa kehilangan akar.

 

Di sanalah pekerjaan Bukit Kukus yang sebenarnya dimulai. .

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *