Menghindari Sifat Ujub

Oleh Rudiyanto S.Pd.,Gr

Guru Pendidikan Agama Islam dan Penulis Kabupaten Bangka Selatan

No HP / WA : 085368920586

 

Bekaespedia.com,- Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) ujub adalah rasa bangga, keangkuhan dan kesombongan. Sedangkan dalam perspektif Islam, menurut iman Al-Ghazali, ujub merupakan rasa menganggap hebat nikmat yang ada pada diri sendiri dan merasa tenang dengannya, tetapi lupa menyadarkannya kepada Allah SWT. Menurut imam Bisyr Al-Hafi, ujub adalah mengganggap banyak amal diri sendiri dan menganggap sedikit amal orang lain. Berdasarkan definisi tersebut, maka dapat penulis simpulkan bahwa sifat ujub adalah rasa bangga diri terhadap sebuah pencapaian, ilmu, amal saleh diri sendiri dan memandang rendah pencapaian, ilmu, amal saleh orang lain serta lupa menyandarkannya bahwa segala sesuatu adalah atas kehendak Allah SWT.

Sebagai renungan dan pengingat kita, dalam kehidupan kita sehari-hari mungkin secara tidak sadar kita merupakan salah satu orang yang telah melakukan perbuatan ujub. Sebagai contoh misalnya kita berbangga diri karena telah memberikan bantuan untuk pembangunan sebuah masjid, merendahkan tetangga yang miskin dan kurang mampu, haus validasi dan pujian orang lain, selalu mengeluh dan putus asa dan lain sebagainya. Hal-hal sepele tersebut secara tidak sadar kita lakukan dan perbuatan tersebut masuk ke dalam kategori sifat ujub.

Sifat ujub ini akan membawa kita kepada perbuatan dosa dan mendatangkan kemurkaan Allah SWT. Orang-orang yang memiliki sifat ujub akan menganggap bahwa hanya dirinyalah yang paling hebat diantara orang lainnya. Ia akan selalu meremehkan kemampuan orang lain dan haus akan pujian. Selain itu, yang paling bahaya adalah orang yang memiliki sifat ujub akan lupa bersyukur atas segala nikmat yang diberikan oleh Allah SWT. Dampak buruk dari perbuatan ujub antara lain adalah dapat mengurangi dan menggugurkan pahala kita, menjadikan kita sebagai orang yang takabur dan dapat membinasakan diri kita sendiri. Dengan kita merasa paling hebat dan merendahkan orang lain, tanpa kita sadari pahal amal saleh yang telah lakukan akan berkurang, gugur dan bahkan hilang. Dengan kita berlaku sombong, lupa bersyukur, maka nimat dari Allah SWT akan dicabut. Bahkan Rasulullah SAW memasukkan sifat ujub atau mengagumi diri sendiri ke dalam tiga perkara yang membinasakan manusia selain kikir (bakhil) yang ditaati dan hawa nafsu yang diikuti.

Beberapa upaya yang dapat kita lakukan untuk menghindari sifat ujub antara lain adalah sebagai berikut:

 Senantiasa bersikap tawadhu

Sikap tawadhu merupakan sikap rendah hati yang harus dimiliki oleh seorang manusia agar tidak terjerumus kepada perilaku ujub. Dengan senantiasa bersikap tawadhu atau rendah hati, maka seseorang akan selalu sadar bahwa manusia memiliki keterbatasan dan segala sesuatu adalah atas kuasa Allah SWT

 Senantiasa mengingat kematian

Sebaik-baik pengingat adalah kematian. Agar terhindar dari sifat ujub, manusia harus senantiasa mengingat dan mengambil hikmah dari peristiwa kematian. Seseorang yang senantiasa mengingat kematian akan cennderung taat menjalankan ibadah dan menjauhi larangan Allah SWT

 Senantiasa memuhasabah diri

Muhasabah diri merupakan sikap mengoreksi dan merefleksi diri sendiri. Dengan senantiasa memuhasabah diri, maka seseorang akan berusaha memperbaiki diri dan menyadari bahwa segala sesuatu adalah titipan Allah SWT

 Memperbanyak syukur

Salah satu upaya untuk menghindari sifat ujub adalah dengan memperbanyak bersyukur. Keberhasilan atau pencapaian yang kita dapatkan hendaknya disandarkan kembali kepada Allah SWT. Cara mudahnya ialah dengan senantiasa mengucapkan alhamdulillah.

Pada akhirnya, kita semua akan kembali kepada Allah SWT. Harapan kita semua adalah kita dapat pulang dalam keadaan sedang beriman kepada Allah SWT, menjalankan perintah-perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-larangan-Nya.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *