Kera Buku

Foto (istimewa) 

 

Oleh : H. Sarnubi

Pengurus Lembaga Adat Melayu (LAM) Kabupaten Bangka

Kera buku, atau yang lebih dikenal dengan nama kerak buku, krak buku, atau kerak kecit dalam dialek kampong. Nama binatang ini walau masih dikenal, namun mungkin masih terdengar asing bagi sebagian orang. Kita lebih familiar dengan menyebutnya kerak atau kera, monyet, lutong, atau berok. Namun, perlu diketahui bahwa kera buku ini juga merupakan penghuni hutan dan rimba di Bangka. Setiap hutan di Bangka, kerak buku dapat kita jumpai. Namun sekarang habitat dan jumlahnya sudah mulai berkurang dan sudah jarang kita jumpai. Bukan berarti punah, kera buku masih dapat ditemukan di beberapa daerah seperti Pulau Lepar, Pongok, Muara Sungai Pangkalbalam, Rimba Gunung Menumbing, Maras, wilayah perbukitan di kecamatan Simpang Rimba dan beberapa daerah pesisir lainnya.

Ciri khas kera buku adalah bentuk tubuhnya yang lebih kecil dibandingkan dengan monyet atau kera biasa.

Nama “kerak buku” sendiri diduga berasal dari kata “bukeu” dalam bahasa kampong yang berarti “kecil”. Hal ini sesuai dengan ukuran tubuh kera buku yang memang lebih kecil.

Kera buku memiliki kebiasaan unik, yaitu membanting kerang-kerangan ke batu untuk memecahkannya dan memakan dagingnya. Di hutan, mereka memakan berbagai jenis buah-buahan.

Sayangnya, kera buku sering diburu oleh pemburu dan predator, sehingga jumlahnya terus menyusut. Perluasan perkebunan sawit juga menjadi ancaman bagi keberlangsungan hidup kera buku, karena mereka terpaksa bermigrasi ke hutan yang lebih lebat untuk mencari tempat tinggal yang aman. (HS)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *