Laporan : Belva Al Akhab
Bekaespedia.com, Mentok, – Gemuruh tepuk tangan memenuhi Gedung Batu Rakit, Kamis (15/05/2025), saat Kepala Dinas DP3AP2KB Kabupaten Bangka Barat, Sarbudiono, S.Pd, mengumumkan pencapaian bersejarah: seluruh 66 desa dan kelurahan di wilayahnya resmi menyandang status Kampung Keluarga Berkualitas. Prestasi ini menjadi bukti kolaborasi antara pemerintah, kader desa, dan masyarakat dalam membangun generasi sehat dan berdaya saing.
Kegiatan sosialisasi digelar selama dua hari (14-15 Mei 2025) dengan dua agenda berbeda. Di hari pertama, Rabu (14/05), puluhan pemangku kebijakan—termasuk camat, kepala desa, dan perwakilan dinas—berdiskusi strategi mempertahankan prestasi. Sarbudiono menegaskan, “Ini bukan sekadar seremoni. Ini komitmen untuk memastikan tidak ada satu pun desa yang tertinggal.”
Keesokan harinya, Kamis (15/05), giliran puluhan kader dari pelosok desa berkumpul. Mereka hadir dengan semangat membara, siap membawa pulang ilmu untuk diterapkan di lapangan. Rina (32), kader dari Desa Kelapa, bercerita: “Saya harus menempuh jalan 1,5 jam untuk sampai ke sini. Tapi, demi melihat desa kami berkembang, semua ini sepadan.”
Keberhasilan ini tidak lepas dari peran kader yang gigih. Firman Darmawan, S.Ip, pemateri dari BKKBN Provinsi Bangka Belitung, mengungkapkan tantangan yang dihadapi: “Banyak kader awalnya ditolak warga. Mereka dianggap mengganggu urusan privat keluarga. Tapi, dengan pendekatan humanis, perlahan warga mulai terbuka.”
Kisah Maya (29), kader Desa Simpang Teritip, menjadi contoh. Ia kerap menangis di balik pintu rumah warga yang menolak program kesehatan. “Suatu hari, seorang ibu membawa anaknya yang stunting. Berkat pendampingan, anak itu kini tumbuh sehat. Air mata saya saat itu berganti jadi senyum,” ujarnya.
Di sesi kedua, Ruslan Efendi, S.Si, memaparkan pentingnya Rumah Dataku dalam mengambil kebijakan. Kabupaten Bangka Barat kini memimpin dengan 64 Rumah Dataku, 25 di antaranya berstatus paripurna. “Data ini bukan sekadar angka. Dari sini, kita tahu di desa mana balita butuh intervensi gizi atau keluarga yang perlu pelatihan ekonomi,” tegasnya.
Contoh nyata terjadi di Kelurahan Muntok. Data Rumah Dataku mendorong dibukanya kelas parenting gratis, menurunkan angka stunting dari tahun ke tahun. “Ini bukti bahwa data yang akurat bisa menyelamatkan generasi,” tambah Efendi.
Dalam sambutan penutup, Sarbudiono menyampaikan apresiasi mendalam kepada para kader. “Mereka adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Dari 66 desa/kelurahan, 66 sudah di tahap berkembang. Target kita: dalam 3 tahun, semua mencapai tahap mandiri dan paripurna,” ucapnya penuh optimisme.
Acara ditutup dengan makan siang bersama, diiringi tawa dan canda para peserta. Yusuf (38), kader dari Desa Air Gantang, berbisik lirih: “Dulu, saya malu jadi kader. Tapi hari ini, saya bangga karena desa kami jadi contoh.”
Sarbudiono menutup dengan pesan menggugah: “Setiap anak yang terhindar dari stunting, setiap keluarga yang mandiri—itulah kemenangan kita. Bangka Barat akan terus bergerak, karena perjuangan belum usai!”












