Bekaespedia.com, Kelapa,+ Bangka Barat, 8 Juni 2025 – Desa Terentang, Kecamatan Kelapa, Kabupaten Bangka Barat, hari ini diselimuti suasana meriah dan penuh suka cita. Ratusan warga tumpah ruah mengikuti gelaran akbar tradisi tahunan “Sedekah Kampung” yang telah berlangsung puluhan tahun silam. Puncak kemeriahan adalah arak-arakan puluhan anak yang baru saja menamatkan hafalan Al-Qur’an, diusung dalam tandu-tandu berhias, berkeliling kampung.
Acara yang disambut antusiasme luar biasa dari masyarakat sekitar dan sekitarnya ini dimulai sejak pagi. Anak-anak yang dikhatam Al-Qur’an diarak dengan megah, menunjukkan kebanggaan desa atas generasi penerus yang berpegang teguh pada nilai-nilai agama. Tradisi ini tak henti-hentinya di arak-arakan. Berbagai rangkaian kegiatan budaya turut memeriahkannya, mencerminkan kekayaan adat istiadat Desa Terentang.

Festival budaya ini diawali dengan pentungan gong oleh Wakil Bupati Bangka Barat, H. Yus Derahman , sebagai tanda dimulainya seluruh rangkaian acara. Dentuman gong mengawali pergerakan arak-arakan dari ujung barat kampung, berputar mengelilingi desa, dan berakhir di Masjid Nurul Iman Desa Terentang. Tandu-tandu yang mengusung anak-anak khataman Al-Qur’an disertai dengan beragam ragam motif, menjadikan pemandangan yang indah dan penuh makna.
Setelah tiba di masjid, acara dilanjutkan dengan pembacaan khataman Al-Qur’an oleh anak-anak secara bergantian, disaksikan oleh guru agama dan seluruh jamaah. Momen sakral ini ditutup dengan prosesi pemberian minuman Selasih Sedudu kepada guru agama dan para tamu undangan.
Menurut Kepala Desa Terentang, Yusuf, tradisi ini dikenal juga sebagai “Sedekah Kampung Selasih Sesudu”. “Selasih Sesudu ini adalah prosesi pemberian satu sendok air berisi tumbuhan selasih dari peserta khataman Al-Qur’an kepada tokoh atau masyarakat yang hadir,” jelas Yusuf.
Yusuf menjelaskan bahwa dahulu kala, Sedekah Kampung selalu digelar setelah panen raya sebagai wujud syukur atas hasil pertanian. “Dulu sebagian besar masyarakat kita cocok ditanam di ladang, jadi sedekah kampung ini digelar setelah panen,” ujarnya. Tradisi ini bahkan sudah ada sejak zaman Belanda. Namun, sejak tahun 1997, Sedekah Kampung Desa Terentang mulai rutin digelar pada minggu pertama setelah Lebaran Haji. “Hal ini untuk memudahkan masyarakat berpartisipasi, mengingat saat ini warga desa beralih profesi ke berbagai bidang pekerjaan lain,” tambah Yusuf.

Wakil Bupati Bangka Barat, H.Yus Derahman, menyatakan apresiasinya terhadap kekompakan Desa masyarakat Terentang dalam menjaga tradisi ini. “Sedekah kampung di Desa Terentang sebagai media untuk mempererat jalinan persaudaraan dan tali silaturahmi antar warga desa dan luar desa, sudah sepatutnya dijaga dan dilestarikan,” tegas H.Yus Derahman, menegaskan komitmen Pemkab Bangka Barat untuk mendukung penuh pelestarian warisan budaya ini.
Festival kemeriahan semakin terasa ketika masyarakat berbondong-bondong menuju lapangan bola setelah acara khataman Al-Qur’an. Di sana, berbagai atraksi budaya dipertontonkan. Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Bangka Barat, Muhammad Ali, S.Ip, LLM,. bahkan memberikan kabar gembira. Ia berjanji akan memperjuangkan salah satu kegiatan di Desa Terentang, yaitu “Asoh Kembang” , untuk ditawarkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) kepada Kementerian Kebudayaan pada tahun 2026.
“Kami apresiasi sebesar-besarnya pelaksanaan sedekah kampung Desa Terentang. Kami menjanjikan kepada seluruh masyarakat Desa Terentang akan mengajukan salah satu kegiatan, yaitu Asoh Kembang, menjadi Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) kepada Kementerian Kebudayaan tahun 2026,” ungkap Muhammad Ali, disambut tepuk tangan masyarakat yang meriah.
Meskipun di tengah efisiensi anggaran tahun 2025, semangat masyarakat Desa Terentang tidak surut sedikit pun. Hal ini terlihat dari banyaknya pemangku kepentingan dan sponsor yang ikut serta menyukseskan acara. “Kita tidak menyangka dalam keadaan anggaran tahun ini yang tidak baik-baik saja, masih bisa melaksanakan kegiatan semeriah ini,” ujar Muhammad Ali penuh harap. Ia berharap anggaran tahun 2026 akan lebih baik untuk kemajuan pembangunan ini.

Festival ini juga dimeriahkan dengan atraksi pencak silat yang diperankan langsung oleh Kades Terentang, Yusuf, dan Kepala Dusun, Saizan. Tak ketinggalan, tarian Rudat yang energik ikut ditampilkan, bahkan banyak masyarakat dan Forkopimda ikut memeriahkan tarian adat ini.
Aspek kuliner pun tak luput dari perhatian. Digelar penilaian makanan khas “Dodol Bangka” , sebagai upaya melestarikan dan mengembangkan makanan tradisional. Beberapa masyarakat menyajikan dodol mereka untuk dinilai oleh juri yang terdiri dari masyarakat, Pemdes Terentang, dan Forkopimda Bangka Barat.

Festival Sedekah Kampung Desa Terentang bukan sekedar ajang seremonial, melainkan wujud nyata kesadaran tinggi masyarakat dalam melestarikan nilai-nilai kebudayaan. Menjaga warisan budaya ini berarti menjaga identitas daerah untuk generasi mendatang.












