Anak Ayam Dalam Parit

Oleh: Hikkih Maulana P. S. (SDN 7 Pangkalanbaru)

 

Ini adalah kisah yang aku alami saat aku menyelamatkan anak ayam di sekitar rumahku. Saat itu hujan yang sangat deras petir yang menyambar dan di mana-mana. Aku bersembunyi di balik selimut sampai tidur pulas. Hujan sudah berhenti aku pun mengecek sekitar halaman rumah. Lalu aku mendengar suara induk ayam kebingungan mencari sesuatu. Aku mendekat ke sumber suara. Lalu aku melihat anak ayam terjatuh ke dalam parit di depan rumah tetangga. Aku bergegas menyelamatkan anak ayam itu dan berkata,

“Kenapa kamu bisa terjatuh?” tanyaku.

Aku bersiap siap untuk berangkat les lalu aku mendengar suara anak ayam sedang berteriak. Aku mendekat ke sumber suara dan aku melihat anak ayam yang aku selamatkan tadi siang yang aku temukan.

“Kenapa kamu bisa terjatuh lagi?”

Aku melihat anak ayam yang bernapas tidak beraturan dan suara yang lemah.

Ibu melihat sekeliling tetapi tidak ada induk dari anak ayam itu. Aku berpikir sejenak lalu aku mencari anak ayam yang sudah lemas. “Kita apakan anak ayam ini?” tanya aku.

“Buang saja anak ayam itu, anak ayam itu tak akan hidup!” jawab ibu.

“Aku tak bisa hidup tanpa ibuku!” jawab aku sambil sedih.

Aku menaruh anak ayam di dalam kardus yang ku beri cahaya lampu dan makan minum untuk ia makan nanti. Anak ayam masih terlihat kedinginan dan ku beri ia kain untuk menggantikan pelukan ibunya.

“Kamu harus bertahan malam ini. Besok aku akan mencarikan indukmu!” kataku sambil sedih.

Akupun pergi tidur dengan pikiran tidak tenang walaupun aku akhirnya tertidur lelap.

Pagi harinya aku langsung berlari ke tempat anak ayam dan aku melihat anak ayam masih terlihat lemas dan mencoba makan dengan tubuh lemas. Aku mencarikan induk dari anak ayam yang aku temukan. Aku mencari dan mencari hingga siang hari tetapi aku tak menemukannya. Aku putus asa lalu kembali ke rumah dan berkata ke anak ayam.

“Maaf aku tak menemukan indukmu anak ayam!” kataku dengan suara lemah.

Lalu aku mencari ibu dan berkata,

“Ibu aku tak kunjung menemukan induk dari anak ayam,” kataku sedih.

“Sudahlah anak ayam itu tidak akan bersama dengan induknya lagi!” jawab ibu.

“Setidaknya aku mau berusaha untuk menemukan induk dari anak ayam itu,” kataku sambil bersedih.

“Kamu harus bertahan, aku akan mencoba mencari indukmu lagi esok harinya ya!” kataku sambil bersedih.

Aku bersiap untuk berangkat mengaji. Hingga sore harinya aku bersiap lagi untuk berangkat les. Aku berpamitan dulu pada anak ayam.

“Da anak ayam aku akan kembali pukul 17 nanti ya!” kataku sambil khawatir di pikiranku. Aku pulang dan langsung berlari ke tempat ayam dan melihat kalau anak ayam ternyata kakinya sudah patah sebelah kanan. Aku khawatir dengan kesehatan anak ayam itu.

“Aku baru sadar kalau kakimu patah, maaf anak ayam!” kataku sedih.

Lalu aku tidur dengan pikiran tidak tenang. Pagi hari aku berlari ke tempat anak ayam dan melihat anak ayam itu sudah mati. Aku memegang tubuh anak ayam yang lemas dan kaku itu.

“Harusnya aku menemukan kamu lebih cepat waktu itu tetapi sekarang kamu sudah mati dan kaku!” kataku sambil menangis.

Aku mencari ibu dan berkata,

“Ibu aku minta maaf atas semua kenakalan dan kesalahanku!” kataku sambil menangis.

Disini kita bisa belajar bahwa sosok ibu sangat berharga bagi kita, anak-anaknya. (BP / KM)*

 

Tulisan ini merupakan karya peserta Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) Tahun 2025 Tingkat Kecamatan Pangkalanbaru.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *