Kaitan Pencak Silat dengan Rambut Batin Tikal: Pembacaan Budaya dan Kuasa Simbolik

Bekaespedia.com_Bandung, 17 Juli 2025 – Peneliti ISBI Bandung Prof. Dr. Sri Rustiyanti, M. Sn didampingi tim peneliti Dr. Wanda Listiani, M. Ds menghadiri Sidang Promosi Doktor FIB UNPAD. Dunia akademik dan seni pertunjukan Indonesia kembali menyaksikan sinergi luar biasa antara penelitian pencak silat dan Disertasi Rambut Batin Tikal. Hari ini, Kamis, 17 Juli 2025, Prof. Dr. Sri Rustiyanti, M. Sn seorang peneliti dan akademisi intelektual dari Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung, sukses mengantarkan Dr. Rita Zahara, S.Sn., M.Sn., meraih gelar doktor di bidang Kajian Ilmu Budaya di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Padjadjaran. Prof. Sri, yang bertindak sebagai salah satu promotor telah membimbing Dr. Rita Zahara dalam disertasinya yang berjudul ‘Kuasa Simbolik Rambut Batin Tikal di Kabupaten Bangka Selatan, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung’.

Pencak silat, sebagai warisan budaya tak benda sangat kaya akan dimensi spiritual, filosofis, dan mistis. Banyak aliran pencak silat, terutama yang berusia tua, memiliki hubungan erat dengan kepercayaan lokal, adat istiadat, bahkan praktik kebatinan yang diwariskan turun-temurun. Dalam konteks ini, Rambut Batin Tikal yang merupakan mitos dan kepercayaan kuat di Kabupaten Bangka Selatan memiliki kaitan yang mendalam dengan pencak silat. Rambut Batin Tikal, dalam kepercayaan masyarakat Bangka Selatan, diyakini memiliki kuasa simbolik sebagai penanda kekuatan, kekebalan, dan perlindungan gaib. Mitos ini seringkali melekat pada tokoh legendaris atau pejuang lokal yang memiliki kesaktian luar biasa. Dalam banyak tradisi pencak silat, terdapat pula kepercayaan terhadap ilmu kekebalan, ilmu pengasih, atau pagar diri yang diperoleh melalui praktik spiritual tertentu atau benda-benda pusaka. Rambut Batin Tikal bisa jadi berfungsi sebagai objek simbolik yang memberikan aura kekuatan dan perlindungan bagi pesilat atau masyarakat yang mempercayainya.

Kepercayaan terhadap kuasa simbolik Rambut Batin Tikal dapat memberikan dampak psikologis yang signifikan bagi pesilat. Keyakinan akan adanya perlindungan atau kekuatan tambahan dari mitos tersebut dapat meningkatkan kepercayaan diri, ketenangan, dan keberanian seorang pesilat. Dalam pertarungan, faktor mental seringkali sama pentingnya dengan kemampuan fisik. Seorang pesilat yang merasa terlindungi atau diberkati oleh kekuatan yang dipercaya dari Rambut Batin Tikal mungkin akan menunjukkan performa yang lebih optimal, tidak mudah gentar, dan memiliki fokus yang lebih baik.

Kisah atau mitos seputar Rambut Batin Tikal juga dapat menjadi sumber inspirasi filosofis dan artistik bagi penciptaan koreografi pencak silat, khususnya dalam konteks koreografi kontemporer seperti yang pernah dilakukan oleh Rita Zahara pada sidang Magister di Pascasarjana ISBI Bandung yang mengangkat tema dalam karya seni Bajak Laut: Lanun Kubu Bangka dipresentasikan di Pantai Pasir Padi Bangka Belitung tahun 2017. Tema-tema seperti perlawanan, ketangguhan, perlindungan, atau misteri yang melekat pada mitos tersebut dapat diterjemahkan menjadi idiom gerak baru. Gerak yang kuat namun lentur, atau bahkan gerak yang merepresentasikan unsur gaib atau karismatik, bisa terinspirasi dari narasi Rambut Batin Tikal. Dengan demikian, mitos tidak hanya sekadar cerita, tetapi menjadi pondasi budaya yang membentuk ekspresi fisik dan artistik dalam seni pencak silat, terutama ketika dikembangkan menjadi bentuk seni pertunjukan kontemporer.

Dr. Rita Zahara berupaya membongkar bagaimana mitos seperti Rambut Batin Tikal tidak hanya ada sebagai cerita rakyat, tetapi secara aktif mengkonstruksi dan mereproduksi realitas sosial serta identitas dan praktik budaya. Kajian tentang ‘Kuasa Simbolik Rambut Batin Tikal’ dalam Disertasi Dr. Rita Zahara, khususnya jika dihubungkan dengan seni pencak silat, membuka perspektif menarik tentang bagaimana unsur spiritual dan mitologis lokal dapat meresap dan membentuk ekspresi fisik serta filosofi dalam seni bela diri tradisional. Ini adalah bidang interdisipliner yang kaya, menggabungkan antropologi budaya, folklor, dan seni pertunjukan. (BP/ KM)*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *