Pertemuan BFO dan Pemimpin RI di Pesanggrahan BTW Mentok, sumber: nationaalarchief.
Oleh Dato’ Akhmad Elvian, DPMP, CECH*)
Dalam upaya penyelesaian masalah Indonesia dan Belanda, BFO sebagai badan permusyawaratan federal bentukan Belanda telah beberapa kali berkunjung ke Bangka untuk bertemu dengan pemimpin republik. Sehari setelah kedatangan Presiden Soekarno di Bangka, pada hari Minggu, 6 Februari 1949, perwakilan BFO, Ide Anak Agung Gde Agung, Dr. Ateng, Mr. Jahja dan Dr. Darmasetiawan berangkat ke Bangka, dan pada hari Senin, tanggal 7 Februari 1949, mengunjungi Soekarno di Mentok dan pada hari Selasa, tanggal 8 Februari 1949 mereka kembali ke Batavia. Kunjungan pertama ke Bangka bertemu dengan pemimpin Republik adalah guna membahas tentang kelanjutan Republik Indonesia dimasa depan. Selanjutnya pada hari Rabu, tanggal 2 Maret 1949, rombongan BFO, secara resmi dipimpin ketuanya, Sultan Hamid II beserta Ide Anak Agung Gde Agung, Djumhana Wijiaatmadja, Kaliamsjah, Ateng dan Abdul Rivai kembali berangkat ke Bangka, dan melakukan pertemuan dengan pemimpin republik di Mentok, selanjutnya pada hari Kamis, tanggal 3 Maret 1949, rombongan BFO kembali ke Batavia. Kunjungan BFO selanjutnya ke Bangka, pada hari Kamis, tanggal 21 April 1949, rombongan BFO yang berangkat ke Bangka, dan bertemu dengan pemimpin republik adalah Tatengkeng, Jahja dari Kantor Indonesia Timur di Batavia, Makmun dari Pasoendan, Sujoso, Dr. Suparno dari Madoera, perwakilan dari Kalimantan dan Djawa Timur. Pada hari Sabtu, tanggal 23 April 1949 rombongan BFO kembali ke Batavia. Melalui beberapa kali kunjungan, delegasi BFO ke Bangka, mereka dapat melihat dengan jelas bagaimana kecintaan masyarakat Bangka terhadap pemimpin republik pada saat diasingkan dan hal ini yang menjadi salah satu penyebab BFO kemudian dalam kebijakannya berbalik mendukung perjuangan pemimpin Republik Indonesia.
Setelah ditandatangani perjanjian Roem-Royen dan pemimpin republik telah kembali ke Yogyakarta serta dalam rangka menyelesaikan berbagai perbedaan pandangan dan untuk menyatukan pendapat agar Bangsa Indonesia siap untuk berunding dengan Belanda dalam konferensi yang akan dilaksanakan di Negeri Belanda, maka pada Tanggal 19-22 Juli 1949 di Yogyakarta dan kemudian pada Tanggal 31 Juli sampai Tanggal 2 Agustus 1949 di Jakarta diadakan Konferensi Inter-Indonesia yang dihadiri oleh wakil-wakil Republik Indonesia dan pemimpin-pemimpin BFO (Bijeenkomst voor Federal Overleg) atau Badan Permusyawaratan Federal. Salah satu keputusan penting yang diambil dalam Konferensi Inter Indonesia adalah, bahwa BFO menyokong tuntutan Republik Indonesia atas penyerahan kedaulatan tanpa ikatan-ikatan politik ataupun ekonomi. Sesudah berhasil menyelesaikan masalahnya sendiri secara musyawarah di dalam Konferensi Inter-Indonesia, Bangsa Indonesia secara keseluruhan telah siap menghadapi Konferensi Meja Bundar (KMB) yang dimulai pada Tanggal 23 Agustus sampai Tanggal 2 November 1949 di Den Haag negeri Belanda.
Konferensi Inter-Indonesia dapat dilaksanakan karena sebelumnya telah ada beberapa kali pertemuan pendahuluan antara tokoh BFO, dengan para pemimpin Republik saat pengasingan di pulau Bangka. Menurut Kahin, dalam Nationalism and Revolution in Indonesia (1972), kunjungan utusan BFO ke Bangka melihat optimisme pemimpin Republik akan kemenangan yang segera diraihnya. Anak Agung Gde Agung dari BFO berpendapat bahwa kesediaan pemimpin Republik di Bangka mau berunding akan timbul suatu dialog antara Indonesia (Indonesische gesprekt). Langkah itulah yang mendorong terlaksananya Konferensi Antar Indonesia bulan Juli di Yogya dan Agustus di Jakarta 1949 (Zuhdi, 2014:534).
Keputusan keputusan penting lainnya yang dicapai dalam konferensi Inter-Indonesia selain BFO menyokong tuntutan Republik Indonesia atas penyerahan kedaulatan tanpa ikatan-ikatan politik ataupun ekonomi adalah: (1). Negara Indonesia Serikat akan diberi nama Republik Indonesia Serikat, (2). Bendera Kebangsaan ditetapkan Sang Merah Putih, (3). Bahasa Nasional Bahasa Indonesia, (4). Hari Kebangsaan 17 Agustus (Hari Proklamasi RI), (5). Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat (APRIS) adalah Angkatan Perang Nasional. Dalam Pembentukan APRIS, tentara Nasional Indonesia adalah intinya.
Dirgahayu Republik Indonesia 17 Agustus 1945-17 Agustus 2025
*) Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia.












