Pemberontakan Liu Ngie di Koba- Sungailiat- Merawang dan Pangkalpinang

Keterangan Gambar: Liu Ngie beserta pengikutnya sebagai Orang Rantaian atau Kettingganger

 

Oleh Dato” Akhmad Elvian, DPMP 

Setelah perlawanan rakyat Bangka yang dipimpin oleh Depati Amir, hampir Lima puluh tahun kemudian, tepatnya pada Tahun 1899, terjadi lagi perlawanan rakyat Bangka yang kali ini dipimpin oleh orang Tionghoa Bangka.

 

Perjuangan Orang Tionghoa Bangka cukup menyita perhatian Pemerintah Hindia Belanda dan terjadi pada bulan Maret 1899 Masehi. Seorang pejuang Tionghoa bernama Liu Ngie melakukan pemberontakan terhadap Pemerintah Belanda, awalnya pemberontakan di Distrik Kubak (Koba) dan kemudian pemberontakan menjalar dan meluas ke beberapa distrik lainnya di Pulau Bangka, yaitu Distrik Sungailiat, Distrik Merawang dan Distrik Pangkalpinang.

 

Pemberontakan Depati Amir dan pemberontakan Liu Ngie terhadap Pemerintah Hindia Belanda menambah deretan panjang bagaimana bersatunya bumiputera Bangka dengan pendatang dalam hal ini dengan orang Tionghoa, terutama dengan Peranakan Tionghoa Bangka.

 

Tampaknya penjajah Belanda dijadikan sebagai musuh bersama Orang Bumiputera Bangka dan Orang Tionghoa.

Penyebab perlawanan dan pemberontakan Liu Ngie dijelaskan Heidhues, bahwa Distrik Koba memiliki Sembilan tambang yang hampir tidak menguntungkan, tetapi Kepala Parit (atau Parithew) di sana mengambil keuntungan yang sangat berlebihan dari kuli, dengan menetapkan harga yang sangat tinggi di toko-toko mereka dan menerapkan sanksi berat dalam bentuk uang atau tambahan kerja atas pelanggaran kecil yang dilakukan kuli.

 

Dengan membiarkan kuli terlilit hutang, membuat tidak mungkin untuk kuli-kuli meninggalkan pertambangan, apalagi kembali ke Tiongkok (Heidhues, 2008:144-145).

 

Liu Ngie adalah seorang pelarian kuli tambang dari Mentok. Pemberontakan kemudian meluas pada bulan Oktober 1899, di distrik Merawang dan Distrik Sungailiat dengan sekitar 200-300 pengikutnya, pemberontakan Liu Ngie kemudian dilanjutkan di Distrik Pangkalpinang.

 

Liu Ngie dan saudaranya kemudian tertangkap di Distrik Merawang pada Bulan Februari 1900, kemudian diikuti dengan penangkapan pengikut- pengikutnya pada Bulan November 1899.

 

Sebelum dieksekusi, Liu Ngie ditahan di Penjara Mentok (Byzendergevangenis) yang merupakan rumah penjara di Residentie Banka en Onderhorigheden dengan tingkat penjagaan yang ketat.

 

Rumah Penjara Mentok juga menerapkan aturan penahanan bagi pelaku kejahatan dengan diikat menggunakan rantai termasuk dengan rantai yang diberikan beban pemberat yang dipakaikan kepada para tahanan di Kaki, Tangan dan Leher.

 

Pelaku kejahatan dan kriminal yang dirantai adalah narapidana yang dianggap mengancam stabilitas dan keamanan di Pulau Bangka agar tidak melarikan diri termasuk sosok Liu Ngie dan Saudaranya.

 

Liu Ngie kemudian dihukum gantung di depan umum di Pasar Mentok pada Tanggal 11 September 1900.

 

Keterangan Gambar: Liu Ngie beserta pengikutnya sebagai Orang Rantaian atau Kettingganger yaitu orang yang dirantai Leher dan kakinya dan dengan diberi pemberat. Menurut Heidhues, 2008:145, Residen Bangka Weber dalam sebuah surat yang menyertai surat Ezerman (1900), surat Weber memuat Foto Liu dan Saudaranya….

Respon (0)

  1. Teruskan menulis fakta sejarah, untuk generasi penerus.
    Apakah masih ada silsilah keluarga nya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *