Keterangan Gambar: Makam Pahlawan 12 dan Makam H.M. NOOR di Taman Makam Pahlawan Padma Satria Sungailiat, Sumber Koleksi Pribadi
Oleh Dato’ Akhmad Elvian, DPMP*)
Kontak senjata antara pasukan TRI khususnya Kompi Sungailiat dengan pasukan sekutu dan NICA terjadi di Puding Besar sekitar pukul 24.00 WIB dan pertempuran berlangsung hingga dinihari Tanggal 14 Februari 1946.
Dalam pertempuran gugur anggota TRI, yaitu, Cik Ali, Raban, Nur, Salim dan Azli, semuanya berasal dari Kompi TRI Sungailiat ( Pahlawan 5).
Pertempuran berikutnya antara pasukan TRI dan Sekutu dan NICA terjadi di kilometer 16, ujung kampung Petaling, pada Tanggal 14 Februari 1946 sekitar puku 09.00 pagi. Gugur dalam pertempuran di kilometer 16, H.M. Noor, seorang pejuang yang berasal dari kampung Nibung Koba (Bangka Tengah).

Pasukan sukutu dan NICA Belanda kemudian terus melaju menuju ke Kota Pangkalpinang. Sekitar pukul 12.00 WIB, Tanggal 14 Februari 1946 di kilometer 12, Bukit Ma Andil kampung Petaling, laju pasukan sekutu dan NICA dihambat oleh pasukan TRI dari Kompi TRI Belinyu dan Pasukan Berani Mati .
Tembak menembak antara Dua pasukan terjadi sekitar pukul 11.00 WIB hingga pukul 12.30 WIB pada Tanggal 14 Februari 1946.
Belum sampai Sepuluh menit pertempuran selesai, tiba-tiba dari arah Kota Pangkalpinang datang sebuah mobil yang berisi 7 orang anggota TRI Pangkalpinang dipimpin oleh Kapten Munzir. Pasukan TRI yang baru datangpun dengan leluasa kemudian diserang oleh tentara sekutu dan NICA.
Pasukan TRI yang meninggal dalam pertempuran adalah Suardi Marsam, Abdul Somad Tholib, Adam Cholik, Salim Adok, Sulaiman Saimin, Abdul Majid Gambang, Karto Saleh, Kamsen, Ali Samid, Apip Adi, Saman Samin dan Jamher. Mereka yang gugur dikenang dengan nama Pahlawan 12.

Setelah pertempuran di Bukit Ma Andil, tentara Belanda langsung masuk ke Kota Pangkalpinang dan tanpa perlawanan Kota Pangkalpinang jatuh ke tangan sekutu dan tentara NICA sekitar pukul 16.00 WIB.
Pasukan TRI dari Pangkalpinang kemudian menyingkir ke wilayah Koba dan Tanjung Berikat, sementara tentara sekutu kemudian berhasil menduduki Kota Sungailiat dan Kota Belinyu.
Aksi pembersihan terus dilakukan oleh tentara sekutu dan NICA Belanda, terhadap TRI di seluruh wilayah pulau Bangka.
Sisa-sisa pasukan TRI, yang membangun markas di Gunung Maras juga tidak luput dari penyerbuan. Pada Tanggal 12 April 1946 tentara sekutu dan NICA berhasil menangkap dan membawa Lima orang pemimpin TRI Bangka ke markas militernya di kampung Nibung (wilayah Kabupaten Bangka).
Pada Tanggal 15 April 1946, Empat dari Lima pasukan TRI yang ditawan tersebut dihukum mati yaitu: Mayor Muhidin, Kapten H. Safiie, Kapten Yusuf Toyib, dan Kapten Suraiman Arif.
Empat orang pasukan TRI yang dihukum mati pasukan NICA Belanda di kampung Nibung kemudian dikenal masyakat Bangka dengan sebutan Pahlawan 4.
Aktifitas perlawanan TRI di pulau Bangka berhenti sekitar bulan Mei Tahun 1946, ketika Empat puluh prajurit TRI menyerah dan Duapuluh dua lainnya ditangkap.
Pada pertengahan bulan Juni 1946 pasukan penggempur Belanda meninggalkan Bangka dan hanya polisi dan Dua detasemen KNIL (Koninklijk Nederlands Indisch Leger atau Tentara Kerajaan Hindia Belanda) yang tetap di sana (Heidhues, 2008:190).
Selanjutnya untuk menghargai perlawanan rakyat Bangka dalam membela dan mempertahankan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia dalam pertempuran Tanggal 14 Februari 1946, atau bertepatan dengan Tanggal 12 Rabiulawal 1365 Hijriah, di Kampung Puding besar dan kampung Petaling serta di km 12, maka pada Tanggal 8 November 1973, makam para pejuang dan anggota TRI yang gugur sebagai kusuma Bangsa, yaitu makam H.M. Noor yang dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum kampung Petaling dan makam Pahlawan 12 yang dimakamkan dalam satu lubang di kaki bukit Ma Andil kilometer 12 kampung Petaling, digali dan pada Tanggal 9 November 1973 kerangka jenazahnya dibawa ke Kota Sungailiat, yang baru menjadi ibukota Kabupaten Bangka, untuk dimakamkan kembali di Taman Makam Pahlawan Padma Satria Sungailiat.
Pada Tanggal 10 November 1973, bertepatan dengan peringatan ke-28, Hari Pahlawan di Kabupaten Bangka pada Tanggal 10 November 1973 dilakukan upacara kenegaraan penghormatan terhadap para pahlawan kusuma bangsa.
*) Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia.












