Akek Tenor Darah Putih: Waliyullah dan Pejuang Sakti dari Kampung Malik yang Terlupakan Sejarah”

Ilustrasi

Oleh: Kulul Sari

Bekaespedia.com,- Di tengah sunyi catatan sejarah yang tak pernah menuliskan namanya dengan tinta emas, masyarakat Kampung Malik kecamatan Payung kabupaten Bangka Selatan justru menyimpan satu kisah besar tentang seorang tokoh luar biasa, yaitu : Akek Tenor Darah Putih.
Sosok ini diyakini sebagai pejuang garis depan dalam mengusir penjajah, sekaligus seorang waliyullah yang menyebarkan ajaran Islam di wilayah Desa Malik dan sekitarnya di Pulau Bangka.
Meski kisahnya hanya jadi “penghantar tidur” saat anak-anak sulit dininabobokkan, kisah patriotik ketika ‘bekisah’ oleh masyarakat desa Malik, dan tak terdokumentasi secara tertulis, keberadaan dan perjuangannya tetap hidup dalam ingatan kolektif masyarakat. Dituturkan dari mulut ke mulut oleh para tetua kampung. Kini, hanya segelintir orang tua yang masih mengingat jejak kisahnya, itupun sebatas serpihan cerita dari generasi terdahulu yang telah lama tiada.
Sebagai bentuk penghormatan, masyarakat meyakini sebuah makam keramat di Desa Malik sebagai tempat peristirahatan terakhirnya. Makam itu menjadi satu-satunya “prasasti hidup” yang menandai keberadaan sosok legendaris tersebut.

Diyakini hidup pada masa penjajahan, Akek Tenor dikenal sebagai pejuang, juga sebagai seorang pendakwah yang gigih. Ia mengajarkan tauhid, mengajak masyarakat menyembah Allah SWT, serta menjauhi praktik kemusyrikan yang masih mengakar saat itu. Namun tentu saja jalan dakwahnya tidaklah mudah. Ia harus berhadapan dengan orang-orang yang menentangnya.

Dengan kesabaran dan kebijaksanaan, Akek Tenor tak hanya melawan secara fisik, tetapi juga menyentuh hati yang berseberangan dengannya. Sehingga beberapa di antara para penentangnya akhirnya bertobat dan menjadi pengikutnya. Dari sinilah pengaruhnya semakin luas dan kuat di tengah masyarakat.
Selain dikenal sebagai ulama dan pejuang, Akek Tenor juga diyakini memiliki kesaktian luar biasa. Masyarakat percaya bahwa tubuhnya kebal terhadap senjata, tak satu pun mampu melukainya. Keyakinan ini semakin mengakar karena setiap perjuangan yang dipimpinnya selalu berakhir dengan kemenangan.
Namun, di balik kesaktiannya, tersimpan sebuah takdir yang tak terduga.
Suatu hari, ketika Akek Tenor sedang mengasah pedangnya, tangannya tergores hingga terluka. Dari luka itu mengalir darah, namun bukan merah seperti biasa, melainkan putih. Peristiwa ini mengejutkan masyarakat dan dianggap sebagai pertanda bahwa ajalnya telah dekat.
Tak lama setelah kejadian itu, Akek Tenor wafat.
Duka mendalam menyelimuti rakyat yang telah lama menjadikannya sebagai pelindung, guru, dan pemimpin spiritual.

Akek Tenor Darah Putih di makamkan di desa Malik Kecamatan Payung, Kabupaten Bangka Selatan.
Nama “Darah Putih” pun melekat sebagai penanda keistimewaan sekaligus misteri yang menyelimuti akhir hayatnya.
Kisah Akek Tenor Darah Putih bukan sekadar legenda, melainkan cerminan kearifan lokal, nilai perjuangan, dan dakwah yang mengakar kuat dalam budaya masyarakat. Ia mungkin terlupakan dalam buku sejarah, tetapi tetap hidup dalam ingatan dan keyakinan rakyatnya. (Koes549)

Sumber cerita & ilustrasi foto : Doni Al Malik dari kampung Malik)

Exit mobile version