Apa Pelajaran yang Bisa Dipetik dari Pak Long H.AS. Hanandjoeddin?

Oleh: Meilanto (Guru SDN 13 Koba, Bangka Tengah)

 

Nama H.AS. Hanandjoeddin bukan nama asing bagi masyarakat Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Namanya pernah diajukan sebagai pahlawan nasional bersamaan dengan pengajuan Depati Amir tahun 2018 walaupun gelar pahlawan nasional untuk H.AS. Hanandjoeddin masih ditunda. Nama H.AS. Hanandjoeddin begitu besar peran sertanya di kancah Revolusi Kemerdekaan dan pengabdiannya selama menjadi Bupati Belitung setelah penulis membaca buku biografinya. Sang Elang Serangkai Kisah Perjuangan H.AS. Hanandjoeddin di Kancah Revolusi Kemerdekaan RI dan Kiprah dan Kenangan Sosok Bupati H.AS. Hanandjoeddin Memenuhi Panggilan Rakyat yang ditulis oleh Haril M. Andersen dan Bambang Sutrisno.

Pada mulanya penulis atau barangkali masyarakat umum bertanya-tanya, “H.AS” itu singkatan dari apa? Setelah membaca biografinya ternyata “H” singkatan kata “Haji”. Sementara itu, huruf “A dan S” merujuk pada dua versi. Pertama bisa lihat pada halaman 431 Bab 66 yang berjudul Gelar “AS” dari Presiden Soekarno. “Pak Surya dan Pak Karbol serius mendengar perbincangan ini. Senyum mengembang di bibir Pak Surya. Senang mendengar obrolan Yang Mulia Presiden dengan prajuritnya.”

Pada paragrap lainnya, “Bukan Bung Karno namanya kalau tidak kaya dengan ungkapan unik yang terlontar spontan. Presiden pertama RI ini tiba-tiba berkata, “Kalau begitu, kamu saya berikan gelar Akademi Senter. AS. Akademi itu sekolah, tempat menempa diri. Senter itu pusat pelaksana. Ya bisa, bisa!”

Paragrap selanjutnya dituliskan, “Akademi Senter (AS) yang dimaksud Presiden Soekarno mengandung makna medan gerilya sebagai pusat untuk menempa diri. Hanandjoeddin pun berjanji pada dirinya sendiri bahwa akan menggunakan gelar ‘dadakan’ yang diberikan Bung Karno itu pada setiap penulisan namanya. Dia akan mencantumkan dua huruf itu di depan namanya, sejak hari itu hingga akhir hayatnya.”

Sementara itu jika kita menggunakan mesin pencarian google dan sejenisnya dengan mengetik “H.AS. Hananjdoeddin”, “H.AS” mengacu pada singkatan “Haji Ahmad Sanusi”. Dari dua versi singkatan “AS” ini perlu ditelusuri lebih dalam jangan sampai menimbulkan tanda tanya di tengah-tengah masyarakat? Atau barangkali penulis yang belum mendapatkan literatur tentang hal itu.

Nama besar H.AS. Hanandjoeddin diabadikan menjadi bandar udara internasional di Pulau Belitung, ruas jalan di Kota Malang, Pangkalan Angkatan Udara di Pulau Belitung dan akan diusulkan menjadi nama ruas jalan pada bagian tengah Pulau Belitung yang menghubungkan Kota Tanjungpandan dan Manggar. Dengan diabadikannya nama H.AS. Hanandjoeddin, diharapkan masyarakat bisa mengenang dan menghormati jasa-jasanya serta mengenalkan keteladanannya sehingga nilai-nilai luhur kepahlawanan dan semangat juangnya tidak dilupakan oleh generasi saat ini dan yang akan datang.

Lantas apa pelajaran yang bisa dipetik dari Pak Long H.AS. Hanandjoeddin?

 

Pantang Penyerah

Sosok Hanan kecil lahir dari keluarga sederhana dengan orang tua berprofesi sebagai petani. Diusia menginjak enam tahun, kedua orang tuanya berpisah. Usia yang masih sangat belia untuk membutuhkan kasih sayang kedua orang tua. Sebagai seorang single parent, umak banting tulang mencukupi kehidupan Hanan dan adik-adiknya. Bahkan Hanan kecil turut membantu sang ibu mencari nafkah dengan mencarikan daun mengkuang dan rotan di hutan. Selain itu ia tidak malu menjajakan jajak ibu angkatnya saat sekolah di Sekolah Rakyat. Kerasnya hidup di kampung dan kute membuat H.AS. Hananjoeddin bisa survive saat menjadi tentara dan turun langsung ke lapangan mengetahui permasalahan masyarakat saat menjadi Bupati Belitung.

Keterbatasan ekonomi tidak menghalangi Hanan untuk sekolah. Selalu ada jalan bagi orang-orang yang pantang menyerah. Hanan diangkat oleh orang kaya, Haji Hasyim, yang masih memiliki hubungan kekerabatan dengan Umak Hanan. Dengan diangkatnya Hanan, membuka jalan baginya untuk mengenyam pendidikan. Hanan dimasukkan ke Sekolah Rakyat di Tanjungpandan kemudian melanjutkan ke Ambacht School di Manggar.

 

Tidak melupakan agama

Pendidikan agama sebagai bekal dalam mengarungi hidup. Begitu pula dengan Hanan. Di Tanjungpandang, pendidikan agama Hanan peroleh dari Kek Udin. Kek Udin sebagai guru ngaji tikar membimbing Hanan dan anak-anak seusianya membaca Mengkadam, Al Qur’an, salat, arab gundul, dan doa harian serta ilmu agama lainnya. Lima tahun Hanan nyantri pada Kek Udin sehingga ia memiliki pengetahuan syariat dan fiqih dari ulama dari Kampung Air Sagak itu. Pengetahuan agama ini menjadi bekal berguna bagi Hanan dalam menjalani kehidupan di kemudian hari. Selain itu Hanan juga masuk Sekolah Arab saat malam hari selepas bekerja untuk menambah bekal ilmu agamanya.

Dari kisah Hanan di atas dapat kita petik pelajaran penting bahwa, agama sebagai pondasi utama dalam mengarungi hidup. Dengan bekal ilmu agama, membentuk karakter Hanan menjadi pribadi yang berakhlak mulia, beriman dan bertakwa sampai kemudian ia menjadi tentara dan Bupati. Ilmu agama tetap dipegang teguh oleh Pak Long. Terlihat dari Pak Long yang sering melakukan Safari Jumat ke kampung-kampung dan memperhatikan masalah keagamaan masyarakat (tanpa mengeyampingkan masalah lainnya).

 

Penurut

Pertemuan Hanan dengan Haji Hasyim sebagai pembuka jalan bagi Hanan untuk merubah arah hidup. Dengan perasaan antara sedih dan gembira, Umak Hanan merelakan Hanan untuk diangkat oleh Haji Hasyim dan hijrah ke kute Tanjungpandan. Hanan menuruti hatinya walau berat untuk berpisah dengan umak, kakek, nenek dan adik-adiknya. “Mun kao ngerase ngasin kan kamek ne, kao harus diam di ruma Bang Hasyim, (Kalau kamu merasa kasihan dengan kami, kamu harus tinggal di rumah Bang Hasyim),” begitu kata ibunya setengah memaksa. Dari kalimat tersebut tersirat harapan sang umak kepada Hanan untuk sekolah yang akan merubah hidup dan mengangkat derajat keluarga Hanan. Jika Hanan tidak menuruti kemauan keluarganya saat itu, tentu penulis dan para pembaca tidak akan mengenal nama H.AS. Hanandjoeddin yang kini namanya besar walaupun Pak Long Hanan sudah berkalang tanah.

 

Cinta Tanah Air

Masalah cinta tanah air, tak perlu diragukan lagi. Pak Long Hanan bergabung di kesatuan TNI AU bersama Abdurahhman Saleh dan kawan-kawan. Tentunya kita juga cinta tanah air (silakan tanya pada diri masing-masing) walaupun tidak bergabung dengan kesatuan militer. Sebagai warga sipil nilai-nilai cinta tanah air yang ditanamkan oleh Pak Long dengan lebih mengutamakan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi dan golongan patut kita teladani. “Sewaktu Belanda menggempur Pangkalan Udara Bugis Malang pada 21 Juli 1947, Hanandjoeddin bersama anggotanya harus bertempur mati-matian melawan serangan udara Belanda. Namun, apa daya, pesawat peninggalan Jepang yang telah susah payah mereka perbaiki, hancur berantakan. “Sang Elang” marah lalu menjelma menjadi macan gerilya yang siap menerkam musuh NKRI,” tulis Haril dalam bukunya.

Rasa cintanya terhadap tanah air, dibuktikan Pak Long dengan memenuhi tuntutan warga Belitong untuk menjadi orang nomor satu di Kabupaten Belitung, walaupun jabatan tentaranya harus lepas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *