Asal-Usul Srigala Bergigi Runcing 

Oleh: Naflah Syakira Suhendra (SDN 2 Pangkalanbaru)

 

Pada zaman dahulu srigala tidak mempunyai gigi. Di suatu hari hiduplah seekor srigala bernama Srigacil, dia ingin pergi dari rumah untuk sementara waktu karena dia ingin berpetualangan.

Di perjalanan dia melihat sebuah pohon apel di sekelilingnya. Karena melihat buah apel perut Srigacilpun langsung berbunyi “kreeuk – kreeuk” jadi, dia langsung mengambil buah apel tersebut. Namun ketika Srigacil ingin memakan apel tersebut dia baru ingat jika dia tidak mempunyai gigi.

Jadi, Srigacil melewati perjalanan dengan perutnya yang kosong itu.

Hari menjelang malam, dia ingin mencari tempat untuk beristirahat. Tidak lama setelah itu dia melihat kandang ayam yang sangat besar. Srigacil langsung mengunjungi kandang ayam tersebut untuk beristirahat.

Setelah Srigacil masuk, dia melihat ayam yang sangat banyak di sana. Ayam – ayam pun bertanya, “Siapa namamu?”

“Apakah kamu lapar?”

“Dari mana kamu berasal?”

Semua ayam berkotek pada saat yang bersamaan.

Salah satu ayam memasukkan tiga buah biji jagung ke moncong Srigacil. Srigacil berterima kasih kepada ayam tersebut. ayam – ayam berkata selain pemberani dia juga sangat sopan.

Ayam betina cantik bersayap putih membuat tempat tidur dari Jerami untuk Srigacil,  “Ayo tidur, Srigacil!”

Karena kelelahan Srigacil cepat tertidur. Tapi Srigacil terbangun oleh suara kotek ayam yang panik, Srigacil lalu membuka matanya dan dia  melihat ayam di sekelilingnya beterbangan ke segala arah.

Dari pintu masuk kandang ayam, dia mengenal hewan yang bermata kuning dan tatapan yang mengerikan itu

Ya benar itu adalah rubah. Srigacil mengenal baik si rubah meski dia tahu sebaikya Srigacil tidak bertemu mereka.

Srigacil mendapatkan ide, dia  memenuhi mulutnya dengan butiran – butiran jagung dan tangkai – tangkai jerami, lalu Srigacil menarik nafas dalam-dalam dan dengan moncong terbuka lebar dia berlari ke arah si rubah sambil meraung-raung.

Karena kaget melihat binatang aneh dan sederet gigi kuning yang menyeramkan dan datang entah dari mana si rubah terbirit-birit melarikan diri dari sana.

“Terima kasih, Srigacil!” seru ayam- ayam disana. “Kamu telah menyelamatkan hidup kami,” ayam-ayam berkotek secara serempak di sana.

Lalu ayam-ayam memeluk Srigacil dengan sayap bulu mereka yang sangat lembut dan mereka juga mencium Srigacil ‘’Hahaha mengingat wajah si rubah melihat gigi palsunya Srigacil akan membuat kita tertawa seumur hidup,” ayam – ayam berkotek. Mereka semua melanjutkan tidur dengan senyum.

Keesokan harinya Srigacil jadi yang paling pertama bangun. Srigacil teringat kembali pada kejadian semalam yang sedikit menakutkan baginya. Srigacil berpikir jika dia sudah benar-benar mengalami petualangan terbesar dalam hidupnya.

Matahari sudah terbit, membentuk lingkaran di atas langit yang indah. Srigacil duduk di depan kolam kecil yang berkilauan. Dia memandangi kata-katak yang sedang berlompatan di atas teratai-teratai yang indah.

Di tengah daun hijau yang sangat besar, seekor katak yang paling besar disitu menangkap serangga di dalam mulutnya.

Setelah dicermati oleh Srigacil ternyata serangga itu adalah seorang wanita kecil yang bersayap. Wanita kecil itu berteriak- teriak meminta tolong. Tanpa pikir panjang  Srigacil langsung terjun ke dalam kolam tersebut. Srigacil mendorong kaki katak dan dengan hati – hati untuk merebut wanita kecil itu dari dalam mulut katak itu. Srigacil segera membawa wanita kecil itu ke darat.

Srigacil meniup – niup wanita kecil bersayap itu untuk menghangatkanya tapi wanita kecil itu berteriak secara terus-menerus. “Jangan takut!”  kata Srigacil. “Aku tidak akan menyakitimu, aku hanya memakan buah beri, daun- daun dan jagung-jagung.”

Akhirnya wanita kecil bersayap itu berhenti berteriak, “terima kasih sudah menyelamatkanku dari cengkraman katak besar yang mengerikan itu, dia tidak tahu siapa aku, aku ini Peri hutan!”

“Peri hutan?” kata Srigacil.

“Ya benar, meskipun aku tidak bisa berenang dan tidak bisa menggigit, tapi kemampuanku sangat luar biasa!”

Srigacil teringat pada si rubah yang mengerikan itu, terutama pada giginya yang berkilauan dan tajam Srigacil berpikir, ‘’Kalau saja aku punya gigi seperti itu pasti aku bisa melindungi teman-teman ayamku dari hewan-hewan buas yang mengerikan.” ‘’Kalau aku meminta sesuatu yang sulit, apakah kamu bisa mengabulkannya?” tanya Srigacil.

“Tentu saja bisa, kamu tidak mempercayai ku?” jawab Peri hutan dengan jengkel.

“Kalau begitu aku  mau gigi, gigi- gigi yang besar dan tajam, lebih besar dari gigi-gigi rubah itu. Untukku dan seluruh keluargaku.”

“Baiklah,” jawab Peri hutan, “keinginan mu agak rumit, aku akan mencari petunjuk di buku Kesulitan Khusus

Dia tersenyum dan menambahkan, ‘’Tapi bagaimana jika aku berutang budi ke pada mu? Dia lalu segera pergi dengan melompat – lompat dan menghilang masuk ke dalam lubang-lubang kecil di tanah, “hmmm,” kata Srigacil

“Sepertinya wanita kecil itu mempermainkan aku.”

Lalu Srigacil pulang untuk menemuai teman-teman ayamnya.

Ketika Srigacil sedang sarapan pagi dengan Teratai-teratai yang benar-benar renyah, tiba-tiba Peri hutan pun muncul, ‘’Selamat pagi semuanya, selamat makan!” sapanya. Ayam – ayam di sana bertanya- tanya dari mana suara itu datang? Mereka tidak menemukannya karena Peri hutan itu sangat kecil karena itu mereka tidak bisa melihatnya.

“Peri hutan, kamu menepati janjiku pagi tadi,” kata Srigacil dengan gembira. ‘’Tentu saja , memangnya kamu menganggap aku ini pembohong ya? kamu tahu aku selalu menepati janjiku karena aku tidak ingin menjadi orang yang pembohong dan licik!”

‘’Jadi apakah kamu benar – benar ingin membuat gigi -gigi runcing untukku dan seluruh keluargaku?” tanya Srigacil dengan senang.

“Ya! Benar sekali akan ku lakukan untukmu karena telah menyelamatkan nyawaku saat itu.”

“Jadi bagaimana cara melakukannya Peri hutan?” tanya Srigacil dengan penasaran.

“Jadi kamu harus berbaring di atas tumpukan jerami-jerami itu dan menutupi kedua matamu!” jawab si Peri hutan.

Peri hutan mengucapkan beberapa mantra dengan suara yang pelan. Ketika Srigacil bangun sederet gigi runcing telah menghiasi rahangnya.

Dia menyentuh gigi tersebut untuk memastikan gigi itu benar-benar tajam.

“Hore – hore aku sudah mempunyai gigi, teman-temanku, mulai sekarang aku bisa melindungi kalian, terima kasih Peri hutan!”

Ketika Srigacil kembali ke kelompoknya yang berada di atas gunung mereka semua tersenyum ,sambil memperlihatkan gigi-giginya.

Srigacil akan tinggal dengan ayam-ayam dan menjaganya sampai akhir hidupnya, meskipun setelah dia tua akan kehilangan beberapa gigi-giginya. (BP/ KM)*

 

Cerita ini merupakan karya peserta Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) Tahun 2025 tingkat Kecamatan Pangkalanbaru. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *