Asal Usul Tradisi Perang Ketupat Di Tempilang

Ilustrasi : google AI

 

Oleh : Belva Al Akhab

Di pesisir pantai Batu Puteh Tempilang, Kabupaten Bangka Barat, tersimpan legenda pilu sekaligus heroik tentang keluarga yang berjuang melawan takdir. Kisah ini berawal dari pasangan suami-istri, Bujang Cermai dan Dayang Murni, yang terdampar di karang berbatu putih setelah ombak menghempaskan perahu mereka. Tanpa bekalan atau tempat berlindung, mereka bertahan dengan berladang dan memancing. Namun, hidup mereka berubah total saat Bujang Cermai mengalami mimpi misterius: suara gaib memperingatkan agar anak perempuan yang kelak lahir harus dinamai Putri Batu Puteh, atau malapetaka akan menimpa keluarga itu.

 

Dengan hati berdebar, pasangan ini menanti kelahiran sang anak. Tahun pun bergulir, dan lahirlah seorang bayi perempuan yang cantik bak bulan purnama. Sesuai petunjuk mimpi, mereka menamainya Putri Batu Puteh, harap-harap cemas janji itu akan melindungi buah hati mereka.

 

Memasuki usia remaja, Putri Batu Puteh kerap menghilang tanpa jejak setiap tengah hari, lalu kembali menjelang sore. Kegelisahan menyelimuti hati Bujang Cermai dan Dayang Murni. Suatu hari, Dayang Murni memutuskan menyusuri pantai untuk mencari sang putri. Setelah berjam-jam berjalan hingga ke Pantai Pasir Kuning, ia kelelahan dan tertidur di bawah pohon besar. Saat terbangun, Putri Batu Puteh sudah berdiri di depannya, tersenyum tanpa bisa menjelaskan ke mana ia pergi.

 

Malam itu, mimpi buruk datang menghantui Dayang Murni. Pangeran Wirasara, penguasa kerajaan siluman buaya, mengaku jatuh cinta pada Putri Batu Puteh dan hendak membawanya ke dunia gaib. Dalam mimpi itu, Dayang Murni berteriak minta tolong pada Atok Bejanggut Kawat, sosok sakti penjaga alam. Pertarungan sengit pun terjadi. Dengan kesaktiannya, Atok Bejanggut Kawat berhasil mengusir Pangeran Wirasara. Sebelum pergi, ia berpesan: keluarga ini harus melakukan ritual Malang Baye, Taber Kampung, dan Perang Ketupat untuk melindungi Putri dari balas dendam siluman.

 

Dengan tekad bulat, Bujang Cermai dan Dayang Murni menyiapkan ritual sesuai petunjuk. Malang Baye dilakukan dengan membentangkan rotan di laut, dihiasi kayu berbentuk salib dan daging ayam sebagai persembahan. Sementara Perang Ketupat dijalankan dengan melempar ubi gadung—simbol perlawanan terhadap roh jahat. Ubi itu diolah menjadi tepung dan air taber untuk disiramkan ke pohon-pohon besar, tempat bersemayam makhluk halus.

 

Ritual ini tak sekadar tradisi, melainkan bukti cinta orang tua yang rela melakukan apa saja demi anaknya. Setiap tahun, mereka mengulanginya dengan hati berdoa, berharap Putri Batu Puteh tetap aman. Perlahan, warga sekitar pun mengikuti ritual ini sebagai bentuk solidaritas.

 

Hingga kini, Pesta Adat Perang Ketupat dan Taber Kampung tetap dilestarikan di Desa Tempilang. Masyarakat percaya tradisi ini telah ada sejak zaman orang Lom (pra-Islam) atau setidaknya sejak letusan Gunung Krakatau tahun 1883. Ritual ini bukan hanya tentang perlawanan terhadap siluman, tetapi juga simbol persatuan warga melawan segala bentuk ancaman, baik nyata maupun gaib.

 

Bagi keturunan Bujang Cermai dan Dayang Murni, kisah Putri Batu Puteh adalah pengingat akan kekuatan cinta keluarga dan pentingnya menjaga warisan leluhur. Setiap lemparan ketupat dan tetesan air taber adalah doa yang menyiratkan harapan: “Jangan biarkan kejahatan merenggut kebahagiaan kami.”

 

Sumber referensi :

1. Draft Materi Seminar Perlindungan Ekspresi Keragaman Budaya ” Tradisi Taber Kampung dan Perayaan Pesta Adat Perang Ketupat di Tempilang” Kementrian Pendidikan Dan Kebudayaan Balai Pelestarian Nilai Budaya Tanjung Pinang, Tahun Anggaran 2012.

2. Wawancara Keman (dukun laut Desa Tempilang)

Exit mobile version