Karya : Meilanto
“Ayah, mohon ayah jangan pergi!” rengek Sabil sambil menarik lengan Andri, ayahnya. Dengan berlinang air mata, Andri menatap Sabil, putra satunya-satunya itu.
“Sabil, kamu harus tetap semangat, ya Nak!” Andri mengusap kepala Sabil dan menciumnya. “Mohon maaf, ayah tidak bisa lagi bersama ibumu!” Dengan berat hati, Andri harus meninggalkan rumah yang selama lima tahun ini tempat ia bernaung bersama keluarga kecilnya. Suka duka ia lalui mengarungi biduk rumah tangga. Dengan berlinang air mata, sambil membawa ransel, Andri memulai langkah kecil. Ia pulang ke rumah orang tuanya di kampung.
Hubungannya dengan Rina sudah tidak bisa dipertahankan lagi. Gadis cantik yang ia lamar lima tahun yang lalu itu dengan bukti-bukti yang kuat telah mengkhianati cinta suci Andri. Rina terbukti mempunyai laki-laki simpanan. Selama ini Andri menggali dan mencari informasi tentang hal itu.
Tetapi Andri masih bertahan mengingat putra kesayangannya itu. Kini semua menjadi nyata, saat diintrogasi oleh pemuka agama, Rina mengakui bahwa ia telah berbuat yang tidak semestinya dilakukan saat ia masih berstatus istri Andri.
Rina gelap mata. Andri yang berprofesi sebagai tukang sayur itu harus ditinggalkannya. Berpaling hati ke laki-laki lain yang lebih mapan. Uang merubah segalanya. Cinta tidak bisa berkata apa-apa.
Hari demi hari ditapaki. Sabil mulai menunjukkan rasa kurang kasih sayang dari Rina, ibunya. Saat itu, Andri mengajak Sabil ikut ia saja, tapi Rina menolak dengan alasan Rina mampu menghidupi Sabil Nyatanya, Sabil semakin tak tentu arah. Rina sering tidak ada di rumah, semakin liar dengan laki-laki yang telah merebut cinta Rina darinya.
“Ayah, ibu, jangan pergi! Jangan pergi….” igau Sabil dalam tidurnya. Saat ia masih bersama kedua orang tuanya, Sabil sering dibacakan cerita oleh ayah dan ibunya. Cerita kancil dan buaya, burung elang dan ayam dan lain sebagainya selalu menemani malam-malam Sabil sebelum terlelap.
“Pokoknya, Sabil tidak boleh hidup bersamamu, ia harus bersamaku!” bentak Rina saat itu.
“Sabil, mengapa melamun, Nak?” tanya Bu Cica saat melihat Sabil melamun saat jam Pelajaran Bahasa Indonesia. Bu Cica guru kelas 6 Sabil di SD Maju Bersama. Sudah beberapa hari ini, Bu Cica melihat perubahan pada diri Sabil.
“Eeee…tidak bu!” jawab Sabil gugup.
Dengan hati nurani dan pengalaman menghadapi banyak siswa, Bu Cica terpanggil untuk melakukan pendekatan kepada Sabil.
“Nak, nanti jam istirahat temui ibu di ruang guru ya! Jangan lupa, ibu tunggu lho!” pinta Bu Cica dengan senyumnya.
“Iya, Bu,” jawab Sabil pendek.
Bel tanda istirahat berbunyi. Sabil menuju ruang guru hendak menemui Bu Cica.
“Yuk Sabil, masuk, Nak. Ibu sudah menunggumu!”
“Mohon maaf, Bu jika selama beberapa hari ini saya sering kurang fokus dalam belajar!”
“Ya gak apa-apa kok. Emangnya Sabil ada masalah apa?”
Sabil menceritakan Dengan kepolosannya, kejadian yang ia alami di rumah. Peristiwa itu sangat melekat dalam memorinya. Sabil anak seusia itu harus menghadapi rumitnya permasalahan kedua orang tuanya. Ia yang masih butuh kasih sayang dari ayah dan bunda kini harus dilanda kesedihan yang mendalam. Ayah dan ibunya telah berpisah. Ayah pulang kampung ke rumah kakek. Ibunya kerap kali tidak pulang ke rumah. Beruntung Sabil memilik bibi yang baik hati yang selalu memperhatikan kebutuhan sehari-harinya. Memang, jarak rumah Sabil dengan rumah bibinya itu berdampingan.
“Ayah, bunda, jangan berpisah, Sabil sayang dengan ayah bunda. Ya Allah satukan kedua orang tua Sabil!” adu Sabil dalam doa panjangnya setelah salat.
Hari-hari Sabil tidak lagi ceria seperti sedia kala. Ayah sudah pergi, ibu pun tidak tahu di mana keberadaannya. Barangkali ibunya bersama laki-laki yang telah merusak rumah tangga mereka. Hari-harinya kelam sekelam langit dihari itu yang hendak menurunkan hujan. Sabil harus berjuang walaupun tanpa kasih sayang kedua orang tuanya. (BP / KM)*
Catatan : Cerpen ini telah diterbitkan dalam antologi Children and their adventures yang diterbitkan oleh PT. LAN Tulungagung, Juli 2024.
