Ayub dan Kebun Kelekak Atok

Oleh : Azizah Qumala Sari (Siswa SDN 10 Namang)

 

Di sebuah desa kecil di Bangka Tengah, tinggallah seorang anak laki-laki umurnya sembilan tahun yang bernama Ayub. Rambutnya ikal, kulitnya berwarna sawo matang dan senyumannya selalu lebar. Ayub adalah anak yang sangat peduli dan cinta terhadap lingkungannya. Berbeda dengan teman-temannya yang asyik bermain gawai, Ayub suka pergi ke kebun kelekak bersama atoknya yang bernama Tok Sulai.

Suatu pagi di hari libur, Ayub biasanya diajak atoknya pergi ke kebun, lalu Ayub mendengar suara bising.

“Breeeng… breeeng… breng!”

“Ayub, cepat. Jangan lupa bawakan keranjangmu!”

“Siap Tok,” jawab Ayub.

Di perjalanan Ayub merasa heran lalu Ayub bertanya kepada atoknya.

“Tok, kenapa pohon-pohon besar itu di tebang?”

“Karena mereka mau menanam sawit, katanya sawit lebih menghasilkan uang,” karena mereka lupa kalau semua hutan menjadi kebun sawit maka keanekaragaman hayati akan rusak,” jawab Atok.

Sesampainya mereka di kebun, Ayub mau mandi dan menanggok ikan, lalu dia bertanya kepada Atok Sulai.

“Tok, Ayub mau mandi dan menanggok ikan.”

Lalu atok mengizinkannya. Ayub melihat banyak ikan dan labi-labi dan juga uyep, “Horeee…”

Dengan menggunakan tanggok Ayub mendapatkan ikan walaupun kecil-kecil tapi Ayub bersyukur. Ayub kembali ke pondok dan menaruh ikannya di toples. Ayub merasa lapar, kemudian ia memanggil atoknya.

“Tok, Ayub mau makan.”

Lalu atoknya memetik pucuk ubi dan terong dan juga lalapan lainnya. Atok memasak lempah daret. Setelah masak Ayub dan Atok pun makan.

“Yub, dulu ada seorang pemuda yang mau membeli kebun kelekak kita dengan harga tinggi lalu atok menolaknya.“

“Mengapa atok menolaknya? Kan pemuda itu mau membelinya dengan harga tinggi!” tanya Ayub.

“Karena Kelekak ini warisan dari leluhur dan bisa dijadikan kenang-kenangan.”

“Oh begitu!”

“Lalu Yub, Atok masih ada rahasia lagi di kelekak kita ini yaitu ada warisan dari nenek kakek kita dulu yaitu pohon durian cumasi.”

“Apa itu durian cumasi, Tok?” tanya Ayub penasaran.

“Ayub, durian cumasi itu adalah raja buah dari semua buah yang ada di Bangka ini.”

“Oh gitu ya, Tok!

“Kenapa Atok sangat suka sama durian cumasi ini, karena buahnya sangat manis dan lembut sekali.” jelas Atok lagi.

“Oh begitu ya, Tok?”

“Iya karena itu atok suka dengan durian ini.”

Tiba-tiba Ayub melihat ada buah di batang durian itu lalu Ayub memberitahu kepada Atoknya.

“Tok, Ayub melihat ada buah durian di batang cumasi itu!”

Lalu Atok pun melihatnya.

“Wah kamu benar, Yub. Memang ada buahnya.”

Lalu Atok mengambil kayu yang pajang. “Tok untuk apa kayu yang sangat panjang itu?”

“Karena Atok mau mengambil durian itu, Yub.”

“Oh”

Atok mendapatkan buah durian cumasi itu dan mengambil parang.

“Parang itu untuk apa lagi, Tok?” tanya Ayub.

“Parang ini untuk membelah durian ini, Yub.”

“Oh begitu ya, Tok. Iya jawab Atok, “ cepat tok buka durin itu.”

“Iya.”

Setelah Atok membuka durian cumasi itu Ayub terkejut melihat dagingnya sangat cantik sekali lalu Ayub memakannya.

“Wah ini enak sekali tok!”

“Itulah mengapa Atok sangat

sayang dengan pohon durian cumasi ini.” Lalu hari pun sudah petang, Ayub mengajak Atoknya untuk pulang. (BP / KM)*

 

Catatan : Cerpen ini merupakan karya peserta FLS3N Tingkat Kecamatan Namang Tahun 2026.

Exit mobile version