Oleh: Salwa Sintiya (Siswa SMP Negeri 5 Satu Atap Sungaiselan)
Pada hari Senin yang sangat indah dan cerah ada seorang anak yang bernama Anita. Anita adalah siswa dari SMP Negeri 5 Satu Atap Sungaiselan yang berasal dari Tanjung Pura. Dia adalah anak yang pintar dan cerdas, sehingga dia menjadi perwakilan sekolah untuk lomba cerdas cermat.
Hari perlombaan pun tiba, Anita bersiap-siap karena pukul 07:00 sudah mau sampai di sekolah. Sebelum dia pergi ke sekolah dia sempat berpamitan kepada ibunya untuk meminta doa agar dipermudah dan dilancarkan perlombaannya hari ini.
Dia pun berangkat ke sekolah, tidak berapa menit kemudian dia pun tiba di sekolah. Di sana dia bertemu dengan gurunya karena dia sudah ditunggu oleh gurunya untuk berangkat ke tempat perlombaan agar tidak terlambat. Di perjalanan menempuh 1 jam untuk tiba di tempat perlombaan pada pukul 08:00 dia pun tiba di tempat perlombaan. Di sana Anita beristirahat sejenak, lalu setelah dia istirahat sejenak dia pun mendapat kabar bahwa teman kelompoknya sudah terbagi.
Ternyata Anita masuk kedalam kelompok cemerlang di sana ada Zara, Edo, dan Anita. Anita sempat mencari teman kelompoknya dan akhirnya dia pun menemukannya. Dia juga sempat bertanya dan juga memperkenalkan dirinya.
“Hai, dek hal nanyak dek ni kelompok cemerlang ok, salam kenal ok name ku Anita.” Sapa Anita kepada teman-teman sambil memperkenalkan dirinya.
“Aok kalok name ku Edo.” Jawab Edo sambil memperkenalkan dirinya juga.
“Nami abdi Zara.” Jawab Zara. (Nama aku Zara)
Setelah mereka memperkenalkan diri mereka masing-masing, mereka merencanakan untuk berdiskusi agar kelompok mereka kompak. Namun ada hal yang mereka tidak ketahui, mereka akan ada perselisihan saat berdiskusi. Mereka berdiskusi bersama.
“Janteng rencang-rencang, rencanana urang ngabahas prasejarah kurio sareng kuring terang pisan nguenah prasejarah kuno, sareng paratasan di dinnya.” Kata Zara dengan percaya diri membahas dan mendiskusikan. (Jadi teman-teman, kita, aku tau banyak tentang prasejarah kuno dan juga banyak soal di bagian prasejarah kuno).
“Ka ne ngumong ape ye dek jeles ge bahasa e.” Jawab Anita dengan kebingungan.
Namun perkataan Anita membuat perasaan Zara terasa marah karena dia merasa tidak dihargai. Anita pun sempat mengolok bahasa Zara yang tidak dia pahami.
“Huhhhhh dasar bahasa e dek jeles ih tau urang dek ngerti.” Kata Anita yang sedang mengolok Zara
“Abdi henteu ngartos basa enjeun ege.” Jawab Zara. (Aku juga gk paham bahasa kamu)
“Bahasa kamu tu dek jelas.” Ejekan Anita sambil sedikit bersorak.
“Henteu ngartos basa enjeun.” Sorakan Zara yang tidak mengerti apa-apa. (Aku gak paham bahasa kamu).
Perselisihan pun semakin besar. Edo yang melihat perselisihan antara Anita dan Zara pun ingin memisahkan mereka karena dia tidak mau kelompoknya hancur dan tidak kompak. Dia pun berusaha semaksimal mungkin untuk mendamaikan teman dan kelompoknya, dia pun memisalkan dan menasihati mereka sedikit.
“Stoooppppp, jangan bekelai. Men ikak bekelai cemmane kelompok kite nek kompak kek menang cuman masalah dek paham. Jangan sampai kelompok kite hancor!” Kata Edo dengan tegas dan sedang menasihati temannya.
“Nye luk carik masalah.” Kata Anita.
“Abdi teu oge ngartos.” Jawab Zaraa. (Aku juga gak paham)
“Uda stooopppp, jangan bekelai agik mendek e cemni bai.” Kata Edo yang sedang merencanakan sesuatu.
Edo pun merencanakan sesuatu agar kelompoknya tidak terjadi perselisihan kedua kalinya dan juga agar kelompoknya kembali kompak. Dia merencanakan ide bahwa mereka akan menggunakan satu bahasa yaitu bahasa Indonesia. Edo pun bilang kepada temannya apakah mereka menyetujui rencana Edo.
“Cem ni bai pon kite berdiskusi kek pas lomba tu pakai sikok bahasa yaitu pakai bahasa Indonesia, Setuju dek?” Tanya Edo kepada teman-temannya.
Edo juga sudah bilang kepada Zara menggunakan bahasa yang diketahui oleh Zara. Edo tahu bahwa Zara tidak mengerti bahasa mereka. Namun, Edo bisa memahami semua bahasa diantara temannya yaitu Zara dan Anita karena dia sering sekali belajar bahasa daerah. Mereka semua menyetujui rencana Edo.
“Tapi, abdi teu pati tiasa basa Indonesia.” Jawab zara. (Tapi aku kurang bisa Bahasa Indonesia).
“Dek hal dek kami acak ngajer ka!” Kata Edo dengan tulus ingin mengajari Zara.
“Oke lanjeng.” Jawab Zara. (Baiklah kalau begitu).
Mereka pun sudah menyetujui rencana Edo dan mereka saling meminta maaf dan memaafkan. Setelah mereka saling memaafkan, mereka melanjutkan diskusi karena mereka sudah membuang sedikit waktu disaat ada perselisihan di antara mereka dan sedikit mengajarkan Zara menggunakan bahasa Indonesia.
“J-jadi aku mau b-bilang bahwa aku lumayan b-bisa tentang prasejarah kuno d-dan juga banyak s-soal di situ, bagaimana?” Kata Zara yang mendiskusikan walaupun dia belum terlalu bisa menggunakan bahasa Indonesia.
“Baiklah kalau aku bisa dalam bagian alam dan juga sains.” Jawan Anita.
Mereka berdiskusi membahas apa yang mereka lebih mengetahui. Mereka kini sudah menjadi sedikit kompak atas perbuatan Edo yang sudah membuat kelompoknya kembali seperti semula. Mereka memanfaatkan waktu untuk berdiskusi agar saat perlombaan mereka tidak ragu-ragu dan canggung menjawab.
Mereka terus berdiskusi sampai pukul 09:00. Setelah jam menunjukkan pukul Sembilan kini mereka pun berhenti berdiskusi karena sudah waktunya untuk masuk ke ruangan perlombaan. Mereka sudah percaya diri dan tidak ada lagi kata gugup dan takut mereka sudah berdiri tegak dengan penuh keyakinan.
“Teman-teman apakah kalian sudah siap untuk masuk ke ruangan?” Tanya Edo.
“Sudah dong tidak ada kata takut dan gugup di antara kita!” Jawab Anita.
Mereka masuk ke ruangan dengan penuh keyakinan. Tidak berlama-lama, pada pukul 10:00 mereka sudah selesai berlomba. Mereka tinggal menunggu hasil yang mereka ikhtiarkan. Setelah mereka keluar, mereka beristirahat sejenak dan juga sarapan, mereka ada mendengar kabar bahwa para juara sudah ditentukan.
Mereka mendengar kabar itu, tidak disangka bagaimana rasa penasaran di dalam diri mereka. 20 menit kemudian juri sudah mengumpulkan mereka di dalam ruangan untuk memberitahukan para juara. Mereka makin penasaran atas hasilnya. Juri pun mengumumkan perlombaan itu dan tak disangka mereka pun menjuarai perlombaan tersebut. Tak terasa bagaimana bahagia yang tumbuh dalam diri mereka.
Mereka bersorak, tertawa, menangis bahagia atas hasil yang mereka lakukan tidak sia-sia. Mereka mengambil piala dengan penuh senyum.
Setelah mereka mengambil piala, pukul 11:30, sudah untuk waktunya pulang.
“Teman-teman aku mau pulang dulu ya!” Kata Anita yang berpamitan sambil mengulurkan tangan.
“Iya aku juga mau pulang.” Kata Edo yang ikut juga mengulurkan tangan.
“S-selamat tinggal s-semuanya.” Kata zara dan memberikan sedikit tos.
Mereka berpisah dan pulang ke rumah masing-masing. Walaupun mereka berpisah tapi mereka masih berkomunikasi lewat handphone. Meskipun sebelumnya di antara mereka ada sedikit perselisihan, maka pertemuan itu menjadi yang terbaik dan tak disangka dipertemuan tapi dari awalnya ada perselisihan namun akhirnya kini mereka menjadi teman baik selamanya.
Di sini kita bisa melihat bahwa apabila ada sedikit perselisihan dan didamaikan serta ingin saling memaafkan maka manfaatnya akan bisa mendapatkan piala dan penghargaan dan juga mendapat teman baru yang sejati. (BP/ KM)*
Cerpen ini merupakan karya peserta Lomba Menulis Cerpen dalam rangka memperingati Bulan Bahasa yang diselenggarakan oleh MGMP Bahasa Indonesia, Bangka Tengah di Kantor Bahasa Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, 23 Oktober 2025.
