Penulis: Belva Al Akhab dan Tim
Bekaespedia.com, Kelapa,-Siang Ramadhan di Gedung Serba Guna Kecamatan Kelapa, Jumat (13/3/2026), terasa seperti ruang kecil tempat nilai-nilai kemanusiaan menemukan maknanya kembali. Di dalam ruangan yang sederhana itu, ratusan anak yatim piatu dan kaum dhuafa duduk berbaris dengan wajah penuh harap. Sebagian menggenggam amplop santunan, sebagian memeluk bingkisan sembako dengan hati-hati.
Bagi mereka, bantuan itu bukan sekadar materi. Ia adalah pesan bahwa mereka tidak sendiri.
Kegiatan santunan ini menjadi salah satu potret bagaimana Baznas Bangka Barat membangun jembatan solidaritas sosial antara masyarakat yang memiliki kemampuan berbagi dengan mereka yang membutuhkan. Di tengah berbagai tantangan ekonomi yang dihadapi masyarakat, gerakan zakat, infak dan sedekah menjadi salah satu instrumen penting dalam menjaga keseimbangan sosial.
Dalam acara tersebut hadir Wakil Bupati Bangka Barat H. Yus Derahman, yang menegaskan bahwa pembangunan daerah tidak hanya diukur dari proyek fisik dan angka statistik ekonomi, tetapi juga dari kekuatan nilai kemanusiaan yang hidup di tengah masyarakat.
“Ramadhan adalah bulan yang penuh rahmat, ampunan dan keberkahan. Pada bulan yang mulia ini, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak amal kebaikan serta memperkuat kepedulian terhadap sesama, terutama anak-anak yatim dan saudara-saudara kita yang membutuhkan,” ujarnya.
Bagi Yus Derahman, kegiatan santunan seperti ini menunjukkan bahwa pembangunan daerah tidak dapat dipisahkan dari kekuatan solidaritas sosial masyarakatnya.
“Nilai-nilai saling membantu, berbagi rezeki, dan menebarkan kebaikan seperti inilah yang harus terus kita pelihara dalam kehidupan bermasyarakat. Dari kepedulian sosial inilah kita membangun masyarakat yang kuat dan penuh keberkahan,” kata Yus Derahman.
Di sudut ruangan, seorang anak yatim terlihat memegang amplop santunan sambil tersenyum malu-malu. Di dekatnya, seorang nenek bernama Siti Aminah (52) duduk dengan cucunya. Ia mengaku datang dengan perasaan haru.
“Alhamdulillah, kami sangat berterima kasih kepada Bapak Wakil Bupati H. Yus Derahman dan semua pihak yang telah membantu kami. Bantuan ini sangat berarti bagi kami, terutama di bulan Ramadhan seperti sekarang,” katanya.
Cerita kecil seperti itu mungkin tidak tercatat dalam laporan pembangunan.
Namun justru di situlah makna sosial dari sebuah gerakan filantropi.
Di balik kegiatan santunan tersebut, Baznas Kabupaten Bangka Barat memainkan peran sebagai penggerak utama dalam membangun ekosistem filantropi berbasis zakat di daerah.
Ketua Baznas Bangka Barat Drs. Lili Suhendra Nato menjelaskan bahwa kegiatan santunan Ramadhan bukan hanya sekadar program tahunan, tetapi bagian dari strategi lembaga dalam mengoptimalkan peran zakat sebagai instrumen pembangunan sosial.
Menurutnya, ketika zakat, infak dan sedekah dikelola secara profesional, ia tidak hanya membantu penerima manfaat, tetapi juga memperkuat kepercayaan publik terhadap gerakan filantropi Islam.
“Baznas hadir untuk memastikan bahwa dana zakat, infak dan sedekah yang dihimpun dari masyarakat dapat kembali kepada masyarakat yang membutuhkan secara tepat sasaran. Melalui program-program sosial seperti ini, kami ingin membangun solidaritas dan keseimbangan sosial di Bangka Barat,” ujarnya.
Upaya tersebut juga didukung oleh berbagai bidang di dalam struktur organisasi Baznas Bangka Barat.
Wakil Ketua Bidang Pengumpulan Baznas Bangka Barat, H. Hasyim Baharudin, menilai bahwa meningkatnya kesadaran masyarakat untuk menyalurkan zakat melalui Baznas menjadi indikasi tumbuhnya kepercayaan publik terhadap lembaga pengelola zakat.
“Semakin banyak masyarakat yang mempercayakan zakat dan infaknya kepada Baznas, semakin luas pula manfaat yang bisa kita salurkan kepada masyarakat yang membutuhkan. Ini adalah bentuk gotong royong sosial yang nyata,” katanya.
Sementara itu, Wakil Ketua Bidang Keuangan Baznas Bangka Barat, H. Zumrowi Achyar, menegaskan bahwa transparansi dan akuntabilitas menjadi fondasi penting dalam menjaga kepercayaan masyarakat.
“Kami berkomitmen menjaga amanah masyarakat dengan memastikan bahwa setiap dana zakat, infak, dan sedekah dikelola secara transparan, profesional, dan tepat sasaran. Kepercayaan publik adalah modal utama bagi keberlanjutan gerakan zakat,” ujarnya.
Dari sisi tata kelola lembaga, Wakil Ketua Bidang Administrasi Baznas Bangka Barat, H. Nurzali, menekankan bahwa sistem administrasi yang kuat menjadi kunci dalam memastikan program sosial berjalan efektif.
“Administrasi yang tertib akan memastikan bahwa setiap program dapat berjalan dengan baik, tepat sasaran, dan berkelanjutan. Dengan sistem yang kuat, Baznas dapat menjangkau lebih banyak masyarakat yang membutuhkan,” katanya.
Sementara itu, Wakil Ketua II Baznas Bangka Barat, Wasis Utama Edi, melihat kegiatan santunan ini sebagai bagian dari upaya membangun kohesi sosial di tengah masyarakat.
“Filantropi Islam bukan hanya tentang memberikan bantuan ekonomi. Ia juga tentang membangun rasa persaudaraan dan solidaritas dalam masyarakat. Inilah nilai yang terus kami dorong melalui berbagai program Baznas,” ujarnya.
Menurutnya, ketika masyarakat saling berbagi melalui zakat, infak dan sedekah, yang terbangun bukan hanya kesejahteraan ekonomi, tetapi juga jaringan sosial yang memperkuat kehidupan komunitas.
Ratusan Penerima Manfaat
Dalam kegiatan santunan Ramadhan di Kecamatan Kelapa tersebut, bantuan diberikan kepada lebih dari seratus penerima manfaat dari kalangan anak yatim piatu dan masyarakat kurang mampu.
Berdasarkan data panitia kegiatan, bantuan disalurkan melalui beberapa lembaga sosial, di antaranya:
IPSM Kecamatan Kelapa menyalurkan santunan kepada 60 penerima
Baznas Bangka Barat memberikan santunan kepada 20 penerima
PT Thep menyalurkan 55 paket sembako
Angka-angka tersebut mencerminkan bagaimana kolaborasi antara lembaga sosial, pemerintah daerah dan sektor swasta dapat memperluas jangkauan bantuan kepada masyarakat yang membutuhkan.
Sementara itu, Sekretaris Kecamatan Kelapa, Heru, menyampaikan bahwa wilayah Kelapa selama ini dikenal memiliki tingkat partisipasi sosial masyarakat yang cukup tinggi.
Menurutnya, kegiatan santunan seperti ini dapat menjadi model bagi kecamatan lain di Kabupaten Bangka Barat dalam mengembangkan gerakan sosial berbasis masyarakat.
“Di Kecamatan Kelapa secara data memang banyak masyarakat yang aktif dalam kegiatan sosial. Ketika saya masih bertugas di Kecamatan Jebus, kami juga pernah mengajak masyarakat untuk bekerja secara sosial melalui donasi guna membantu warga yang kurang mampu,” ujarnya.
Ia berharap kegiatan seperti ini dapat terus berkembang dan menjadi inspirasi bagi wilayah lain.
“Kami berharap kegiatan ini bisa diperluas pengaruh dan pelayanannya ke kecamatan lain di Bangka Barat, sehingga semakin banyak masyarakat yang merasakan manfaat dari gerakan sosial seperti ini,” katanya.
Menjelang akhir acara, doa bersama dipanjatkan. Suara doa bergema pelan di dalam gedung, menyatu dengan harapan agar setiap kebaikan yang dilakukan menjadi amal ibadah yang diterima oleh Allah SWT.
Di luar gedung, matahari Ramadhan mulai condong ke barat.
Anak-anak berjalan pulang membawa bingkisan kecil di tangan mereka. Sebagian tersenyum, sebagian berjalan pelan sambil memeluk amplop santunan yang mereka terima.
Bagi sebagian orang, kegiatan santunan ini mungkin tampak sederhana.
Namun bagi masyarakat yang hadir di Gedung Serba Guna Kecamatan Kelapa pada siang Ramadhan itu, kegiatan tersebut adalah sesuatu yang jauh lebih besar.
Ia adalah bukti bahwa solidaritas sosial masih hidup.
Dan di Bangka Barat, cahaya kepedulian itu terus dijaga melalui gerakan zakat, infak, dan sedekah yang digerakkan oleh Baznas Bangka Barat bersama masyarakat. Sebuah ikhtiar kolektif untuk memastikan bahwa nilai kemanusiaan tetap menyala di tengah perubahan zaman.
