Belajar Tidak Lagi Sekadar Menghafal, Memuliakan Murid Jadi Kunci Pembelajaran Mendalam

Editor : Belva Al Akhab

 

Bekaespedia.com, Jawa Timur,-Bagi sebagian murid, pelajaran bisa terasa seperti deretan rumus, teori, dan tugas yang harus diselesaikan. Namun, ketika sebuah konsep bisa disentuhkan dengan dunia nyata, belajar berubah menjadi pengalaman yang lebih hidup.

 

Gagasan itulah yang kini didorong Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui pendekatan Pembelajaran Mendalam (Deep Learning).

 

Bukan sekadar mengejar seberapa banyak materi yang selesai diajarkan, pendekatan ini menempatkan pengalaman murid sebagai pusat pembelajaran. Proses belajar diarahkan agar berlangsung secara Berkesadaran (Mindful), Bermakna (Meaningful), dan Menyenangkan (Joyful).

 

Pesan tersebut mengemuka dalam Apresiasi Karya Implementasi Pembelajaran Mendalam (Aksi PM) jenjang SMK yang digelar di Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi Bidang Otomotif dan Elektronika (BBPPMPV BOE) Malang, Jawa Timur, Minggu (9/8/2026).

 

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mengatakan, perubahan pendidikan harus dimulai dari bagian paling mendasar, yakni pendekatan pembelajaran yang berlangsung di dalam kelas.

 

“Kita ingin memperbaiki problematika pendidikan kita itu dari hulunya, yaitu dari pendekatan pembelajaran yang kita kembangkan, yang kita sebut dengan Deep Learning atau Pembelajaran Mendalam,” ujar Abdul Mu’ti.

 

Menurutnya, Pembelajaran Mendalam tidak berhenti pada penggunaan metode tertentu. Ada perubahan cara pandang yang harus dibangun oleh guru ketika berhadapan dengan murid.

 

Sebab, setiap murid datang ke ruang kelas dengan kemampuan, pengalaman dan latar belakang yang berbeda.

 

Karena itu, Abdul Mu’ti menempatkan filosofi memuliakan sebagai inti Pembelajaran Mendalam.

 

“Pembelajaran Mendalam adalah pembelajaran yang ingin kita lakukan dengan prinsip dasar memuliakan. Kata kuncinya adalah memuliakan: memuliakan murid, memuliakan guru, dan memuliakan ilmu,” jelasnya.

 

Ia menegaskan, murid harus tetap dihargai tanpa melihat kemampuan akademik maupun latar belakang ekonominya.

 

“Murid itu harus kita muliakan apa pun kemampuan akademiknya, apa pun latar belakang ekonominya, apa pun latar belakang (lainnya) dalam Pembelajaran Mendalam itu,” katanya.

 

Bagi Kemendikdasmen, transformasi pendidikan tidak akan banyak berarti apabila hanya berhenti pada konsep. Perubahan harus terlihat dalam cara guru merancang dan menjalankan pembelajaran.

 

Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus (Dirjen Dikmen Diksus) Tatang Muttaqin mengatakan, Aksi PM menjadi ruang bagi guru SMK untuk menguji gagasan, mencari solusi atas persoalan pembelajaran, sekaligus berbagi praktik baik.

 

Ajang tersebut, kata dia, tidak semata-mata kompetisi.

 

Yang dilihat justru perjalanan sebuah pembelajaran, mulai dari persoalan yang dihadapi guru hingga dampaknya terhadap murid.

 

“Aksi PM menjadi ruang apresiasi bagi guru SMK yang telah menerapkan Pembelajaran Mendalam di kelas. Karya yang ditampilkan menggambarkan perjalanan pembelajaran secara utuh, dari masalah yang dihadapi, strategi pedagogis yang dipilih, hingga bukti pembelajaran dan dokumen pendukung,” ujar Tatang.

 

Karena itu, karya yang dinilai bukan sekadar tampilan akhir.

 

“Yang kita nilai bukan sekadar bagusnya poster, tetapi seberapa dalam pembelajaran itu mengubah pengalaman belajar murid,” tegasnya.

 

Bagi pendidikan vokasi, pendekatan tersebut menjadi penting. Dunia kerja terus berubah, sehingga siswa tidak cukup hanya menguasai teori. Mereka perlu memahami bagaimana pengetahuan digunakan untuk memecahkan persoalan nyata.

 

Krisna Kirana, guru dari SMK Negeri 2 Jiwan, Madiun, mencoba membawa konsep matematika keluar dari batas papan tulis.

 

Melalui karya “MATABOR” (Matematika Terapan Abad 21: Basis Operasi Trigonometri pada Pengeboran Presisi), ia menghubungkan materi trigonometri dengan praktik pengeboran presisi di bengkel mesin.

 

Bagi murid, matematika tidak lagi hanya berupa angka dan rumus. Konsep yang dipelajari memiliki hubungan langsung dengan pekerjaan yang kelak mereka hadapi.

 

Pendekatan tersebut mengantarkan Krisna meraih penghargaan Terbaik 1.

 

Ia meyakini pembelajaran bermakna muncul ketika murid mampu melihat hubungan antara teori dan realitas.

 

Menurutnya, guru tidak harus menciptakan inovasi yang rumit. Hal sederhana di lingkungan sekolah pun dapat menjadi titik awal untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih relevan.

 

Integrasi materi antarjurusan juga dapat menjadi pilihan untuk membuat pengalaman belajar semakin dekat dengan kebutuhan dunia kerja.

 

Jika Krisna membawa matematika ke bengkel, Yusra Khairunnisa membawa teknologi ke ruang belajar.

 

Guru SMK Negeri 1 Singosari, Malang, itu meraih penghargaan Terbaik 2 melalui inovasi pembelajaran berbasis teknologi.

 

Ia menggunakan pendekatan hybrid dengan memanfaatkan Augmented Reality (AR) untuk menciptakan pengalaman belajar yang lebih konkret sekaligus mendorong kemampuan analisis murid.

 

Melalui Diorama AR, murid dapat memindai marker dan kemudian mengeksplorasi berbagai materi, seperti furnitur, psikologi warna, hingga ergonomi secara interaktif.

 

Teknologi menjadi sarana agar pembelajaran tidak hanya informatif, tetapi juga menghadirkan pengalaman yang lebih menyenangkan.

 

Namun, Yusra tidak ingin inovasi pembelajaran dipandang sebagai sesuatu yang harus selalu besar dan mahal.

 

Ia justru mengajak guru memulai perubahan dari persoalan yang mereka temukan sendiri di kelas.

 

“Silakan dimulai dari hal kecil karena yang paling mengetahui permasalahan di kelas adalah Bapak/Ibu guru sendiri,” kata Yusra.

 

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa perubahan pendidikan tidak selalu dimulai dari teknologi canggih. Ia dapat berawal dari keberanian seorang guru untuk bertanya apa yang sebenarnya dibutuhkan murid saya?

 

Aksi PM berlangsung sejak 22 Juli hingga 9 Agustus 2026 dan melibatkan 250 satuan pendidikan sasaran pelatihan tahun 2025.

 

Dari rangkaian tersebut, terpilih 10 karya terbaik yang mendapatkan berbagai kategori penghargaan.

 

Beragam karya itu memperlihatkan satu hal tentang Pembelajaran Mendalam dapat diterapkan dengan cara yang berbeda sesuai persoalan dan karakteristik murid.

 

Ada guru yang menghubungkan matematika dengan pekerjaan di bengkel. Ada pula yang menggunakan teknologi AR untuk membuat materi lebih konkret.

 

Namun, tujuan akhirnya tetap sama—membuat murid tidak sekadar mengetahui, tetapi memahami; tidak sekadar mengikuti pelajaran, tetapi mengalami proses belajar yang bermakna.

 

Kemendikdasmen berharap praktik baik tersebut tidak berhenti di panggung Aksi PM. Pengalaman para guru diharapkan dapat menyebar dan diadaptasi oleh satuan pendidikan lain.

 

Sebab, ketika pendidikan mulai memandang murid bukan sekadar penerima materi, ruang kelas pun berubah.

 

Guru bukan hanya menyampaikan ilmu. Murid bukan hanya menghafalnya.

 

Keduanya bertemu dalam proses belajar yang berkesadaran, bermakna dan menyenangkan.

 

Di balik semua itu, ada satu prinsip yang menjadi fondasinya untuk memuliakan murid, memuliakan guru, dan memuliakan ilmu.

Exit mobile version