Benarkah Tingkat Stres Guru Lebih Tinggi dari Pekerjaan Lainnya?

Oleh : Rudiyanto, S.Pd

Guru Pendidikan Agama Islam SD Negeri 9 Airgegas, Kabupaten Bangka Selatan

 

Menurut Lembaga riset internasional, RAND Corporation tahun 2022, menjadi guru itu bukan pekerjaan yang ringan. Tingkat stress guru lebih tinggi dari pekerjaan lainnya. Hal ini juga pernah disampaikan langsung oleh Presiden Joko Widodo pada acara HUT ke-78 PGRI di Kelapa Gading, Jakarta pada hari sabtu, 25 November tahun 2023 lalu. Hal ini dikarenakan antara lain oleh perilaku siswa dan perubahan kurikulum yang terjadi.

Menurut hemat penulis, hal ini benar adanya. Secara rinci dapat penulis sampaikan argument berikut:

Perilaku siswa

Perilaku generasi millennial, generasi Z serta generasi Alpha sangat dipengaruhi oleh arus globalisasi dan perkembangan teknologi informasi yang begitu pesat. Akan tetapi, hal ini juga memiliki dampak buruk bagi anak yang tidak dapat mengontrol dirinya serta pengawasan orang tua yang lemah. Dalam hal ini misalnya contoh konkretnya saat ini adalah penggunaan gadget. Melalui gadgetnya, anak dapat mengakses apa saja yang diinginkannya secara bebas. Kekhawatiran mulai muncul ketika anak tersebut mengakses hal-hal yang tidak sesuai dengan Batasan umurnya. Misalnya mengakses video-video kekerasan dan pembullyan, intoleransi, konten vulgar dan lain sebagainya. Anak yang tidak memiliki kontrol diri yang baik bahkan dapat meniru tindakan tercela tersebut sesuai bahan yang ditontonnya tanpa berpikir Panjang dampak buruknya. Selain itu banyak konten bahkan aplikasi-aplikasi pada gadget yang kurang mendidik. Misalnya konten-konten atau aplikasi-aplikasi seperti game yang kebanyakan siswa menjadi terlena dan malas belajar. Tingkat stress guru disini dapat terlihat ketika anak-anak tersebut menunjukkan perilaku-perilaku tercela di lingkungan sekolah. Terlebih saat ini seorang guru cenderung tidak diperkenankan memberikan hukuman atau punishment. Padahal notebenenya hukuman atau punishment adalah alat Pendidikan yang biasa digunakan oleh guru untuk mendisiplinkan siswa. Guru harus berupaya keras untuk mencari solusi selain pemberian hukuman atau punishment terhadap perilaku-perilaku buruk siswa tersebut. Bahkan tidak sedikit guru yang menyatakan bahwa siswa sekarang dan siswa zaman dahulu sangat berbeda karakter dan perilakunya.

Perubahan kurikulum

Fenomena gonta-ganti kurikulum menjadi kendala umumnya bagi guru. Guru harus berupaya memahami kurikulum terbaru dan mengikuti diklat-diklat disamping pekerjaan mengajar. Tantangan lainnya juga mulai muncul terkait perubahan-perubahan kurikulum dewasa ini, seperti halnya minimnya kesiapan guru, minimnya sarana prasarana dan lain sebagainya. Bahkan belakangan ini viral perihal kurikulum merdeka yang akan digantikan menjadi kurikulum Deep Learning. Beragam paradigma mulai bermunculan menanggapi rencana dari Kemendikdasmen tersebut. Ada paradigma yang beranggapan bahwa proyeksi kurikulum merdeka menjadi Deep Learning hendaknya dikaji terlebih dahulu dengan mempertimbangkan beberapa hal seperti kesiapan guru, sarana prasarana sekolah dan lain sebagainya. Kemudian ada juga paradigma berfikir yang menyatakan bahwa proyeksi kurikulum merdeka ke Deep Learning hendaknya segera dilaksanakan. Hal ini mengingat dunia Pendidikan Indonesia sudah tertinggal dari negaraa-negara lain dan harus menyesuaikan dengan situasi dan kondisi perkembangan zaman.

Pada akhirnya, menurut hemat penulis tingkat stres guru tergantung bagaimana menyikapi suatu permasalahan. Permasalahan perilaku siswa, perubahan kurikulum dan lain sebagainya hendaknya disambut secara positif dan jangan dianggap sebagai beban. Pekerjaan guru adalah pekerjaan yang sangat mulia. Sehingga butuh keikhlasan dalam kita melaksanakan tugas sebagai abdi negara tersebut. Selain itu, pekerjaan apapun yang telah diberikan Allah SWT kepada kita hendaknya dapat disyukuri dengan baik. Sehingga nikmat dan keberkahan hidup dari-NYA akan senantiasa dicurahkan. (BP)*

Exit mobile version