Bendera Pusaka Merah Putih Pernah Disimpan di Bangka

 

Oleh Ali Usman,

*pemerhati Sejarah dan Budaya Bangka. Kini tinggal di Yogyakarta. 

 

Saat terjadi Agresi Militer II Belanda ke Jogjakarta pada tanggal 19 Desember 1948, Soekarno menyerahkan bendera pusaka ke ajudannya Husein Mutahar untuk diamankan dengan pesan “menjaga bendera dengan nyawa”. Dengan bantuan Ibu Perna Dinata, Husein Mutahar memisahkan bendera pusaka menjadi 2 lembar kain merah dan putih, kemudian disembunyikan dalam tasnya untuk menghindari kecurigaan militer Belanda. Seperti pejabat Republik Indonesia lainnya, Husein Mutahar tidak luput penangkapan oleh Belanda dan dibawa ke Semarang.

 

Setelah sebulan terpenjara, Husein Mutahar berhasil melarikan diri dan menuju Jakarta. Setibanya di Jakarta, Husein Mutahar berkomunikasi dengan pejabat Republik Indonesia, seperti Sutan Syahrir, R Said Soekonto Tjokarodiatmodjo dan Soedjono. Pada bulan Juni 1949, Soedjono (Sekretaris Delegasi RI) memanggil Husein Mutahar dan menyerahkan surat Soekarno yang berisi perintah memberikan bendera pusaka ke Soedjono untuk dibawa ke Bangka, lokasi pengasingan Pemimpin Republik Indonesia. Husein Mutahar kembali menyatukan kedua kain merah dan putih menjadi bendera pusaka dan kemudian diserahkan ke Soedjono.

 

Sebagai tim delegasi RI, Soedjono diberi kebebasan bolak-balik Jakarta-Pangkalpinang dengan menggunakan pesawat PBB. Setidaknya Soedjono ke Pangkalpinang sebanyak 4 kali, yakni pada tanggal 22 Januari, 3 Februari, 1 Maret dan 6 Juli 1949. Jika penyerahan bendera Pusaka ini dilakukan pada bulan Juni 1949 sebagaimana kesaksiannya dalam buku Husein Mutahar, Pengabdian dan Karyanya, Soedjono melakukan penerbangan ke Pangkalpinang dan menyerahkan langsung bendera pusaka ke Soekarno di Pesanggrahan Mentok.

 

Pasca Kesepakatan Roem-Royen pada tanggal 7 Mei 1949, para pemimpin Republik Indonesia menunggu realisasi kesepakatan tersebut, salah satunya kembali ke Jogjakarta.

 

Soekarno menyerahkan bendera pusaka tersebut ke salah satu tokoh Bangka bernama A.M. Yusuf Rasidi dan disimpan di rumahnya di Kampung Ulu Mentok. Bendera tersebut oleh orang tua dan adiknya bernama Yang Kalsumi bukan disimpan di lemari pakaian, tapi disimpan di ruang tamu dan dimasukkan ke dalam tumpukan barang pajangan di buffet di ruang tamu.(Kelekak Sejarah Bangka, 2015).

 

Menjelang kembali ke Jogjakarta, A.M. Yusuf Rasidi menyerahkan bendera tersebut ke Soekarno di Pesangrahan Mentok. Kemudian dibentangkanlah oleh Yusuf di kamar yang ditempati Bung Karno. Setelah dibentangkan bendera pusaka tersebut, lalu Bung Karno bersujud, kemudian diciumnya bendera pusaka itu oleh Bung Karno dengan bercucuran air matanya. (Kelekak Sejarah Bangka, 2015). Pada tanggal 6 Juli 1949, Para pemimpin Republik Indonesia kembali ke Jogjakarta dengan membawa bendera Pusaka, sebagaiman kesaksian A.A. Bakar dalam bukunya : …Yang terakhir naik tangga (pesawat) ialah pak Karno. Di atas puncak tangga beliau berdiri tegak dan memandang berkeliling. Tangan kiri beliau memegang sebuah bungkusan dari tenunan Mentok yang di dalamnya terdapat Bendera pusaka, sedangkan tangan kanan beliau melambai-lambai kepada rakyat dipinggir lapangan …(Bakar, 1993:72).

 

Seiring kembalinya Yogyakarta sebagai Ibukota Republik Indonesia, bendera Pusaka berkibar lagi di Istana Presiden (Gedung Agung).

Exit mobile version