Berkarya Bersama Pramuka

Oleh: Meilanto

“Ayo kakak-kakak, semangat lagi latihan membuat pioneringnya. Waktunya masih 30 menit lagi!” ujar kak Rudi sambil memperhatikan peserta didiknya membuat pionering.

“Siap kakak!” jawab anggota sangga Pendobrak.

Latihan pramuka sore itu dengan tema membuat pionering. Tongkat dan tali-temali telah dikeluarkan dewan ambalan dari gudang tempat penyimpanan alat pramuka.

Kak Rudi sebagai pembina pramuka penegak dengan memegang lisensi mahir penggalang dan penegak telah lama membina pramuka di SMA Negeri 1 Bukit. Sejak tahun 2007 sampai saat ini. Telah banyak peserta didiknya yang kini mendarmabaktikan hidupnya di tengah masyarakat.

Sebagai pembina penegak, Kak Rudi paham cara pendekatan terhadap peserta didik. Strategi jitu yang ia terapkan mendapat tempat di hati peserta didiknya. Kak Rudi bukannya sekadar pembina pramuka tapi lebih dari itu. Menempatkan diri sebagai teman peserta didiknya sehingga acap kali ia menjadi teman curhat. Tempat berkeluh kesah segala macam permasalahan.

Kadang kala ia harus menjadi seorang ayah bagi peserta didiknya. Dengan sabar ia mendengarkan permasalahan yang dihadapi peserta didiknya. Ia menganggap semua peserta didiknya adalah putra putrinya.

“Kakak, bolehkah saya bercerita? Saya ingin menyampaikan permasalahan yang sedang saya hadapi?” ujar Danu, pradana putra saat latihan pramuka berakhir.

“Ouw boleh, Danu. Apa yang sedang kamu hadapi?”

“Begini, kak. Orang tua saya sudah tiga minggu ini tidak kerja, ia sakit. Sementara uang sekolah sudah jatuh tempo,” cerita Danu. Ia tampak menunduk sembari menahan bulir kesedihan. Suasana hening.

“Apakah boleh saya meminjam uang kakak untuk membayar uang sekolah?” lanjut Danu masih dalam keadaan menunduk.

“Danu, kamu sudah kakak anggap sebagai putra sendiri. Sudah selayaknya kakak membantu Danu dan juga teman-temanmu yang lain jika membutuhkan bantuan kakak!”

“Terima kasih, Kak. Nanti uang itu akan saya ganti kalau hasil penjualan keripik singkong di warung dekat rumah sudah mencukupi.”

“Tidak apa-apa, Danu. Yang penting kamu harus semangat lagi sekolahnya!”

Kampung Bukit mempunyai sungai yang bisa menopang ekonomi warga. Di atas sungai itu membentang jembatan kayu yang kurang memadai. Sungai itu diberi nama Sungai Bulang. Lebar sekitar 10 meter. Sungai itu sangat panjang sampai berbatasan dengan kabupaten tetangga. Jembatan itu adalah salah satu akses jalan warga ke seberang sungai selain menggunakan perahu.

Penghujung tahun, hujan turun dengan intensitas lebat. Warga harap-harap cemas jika jembatan penghubung dua wilayah itu ikut hanyut. Dan ternyata benar adanya.

Dinihari itu, hujan kembali mengguyur Kampung Bukit. Volume air dari bagian hulu ditambah dengan hujan yang terus mengguyur dengan intensitas lebat membuat sungai meluap dan akhirnya jembatan penghubung itu ikut hanyut terbawa arus. Beruntung tidak ada korban jiwa dalam musibah pada dinihari itu.

Pagi hari, kampung ramai. Warga berbondong-bondong ke tepi sungai melihat jembatan yang sudah tidak ada lagi. Aktifitas warga terhenti total. Tidak ada lalu lalang kendaraan di atas jembatan kayu. Menggunakan perahu tidak dianjurkan warga karena arus sungai masih kencang.

Sebagai daerah yang jauh dari pusat kota, rusaknya jembatan penghubung di Kampung Bukit tidak diketahui pemerintah kabupaten. Akses sinyal masih blank spot di daerah itu. Pemerintah desa sudah melakukan rapat untuk membangun jembatan darurat.

Jembatan darurat yang menggunakan batang kelapa dan kayu lain sebagai dinding. Sebagai orang yang paham dengan seluk beluk dunia pramuka, kak Rudi tidak tinggal diam. Dalam waktu singkat ia mengumpulkan anggota pramuka binaannya untuk ikut serta membantu masyarakat membangun jembatan.

Setelah arus sungai sudah pelan, pembangunan jembatan darurat pun dimulai. Kak Rudi bersama anggota pramuka dan warga bahu membahu membangun jembatan supaya bisa menggerakkan kembali ekonomi warga. Tidak hanya pikiran, tenaga kak Rudi juga sangat dibutuhkan. Setelah tiga hari ekonomi warga lumpuh, jembatan bisa difungsikan. Sekolah kembali melakukan aktifitasnya setelah meliburkan siswa. Memang siswa SMA Negeri 1 Bukit ada juga anak para warga dari seberang sungai.

Jembatan itu hanya bersifat sementara. Kepala Desa bersama warga menyampaikan musibah itu kepada pemerintah kabupaten dan akhirnya dibangunlah jembatan sementara. Anggota BPBD Kabupaten diterjunkan untuk membangun jembatan menggunakan rangka baja. Kini jembatan itu masih menjadi penghubung antarwilayah di Sungai Bulang.

Peran serta Kak Rudi dan anggota pramuka binaannya dalam membantu masyarakat sangat diharapkan warga lainnya. Tri Satya dan Dasa Darma Pramuka telah terpatri dalam hati Kak Rudi dan anggota pramuka. Ikut serta membangun masyarakat dan kasih sayang sesama manusia. (BP / KM)*

 

Catatan: Cerpen ini telah dibukukan dalam antologi Muda Berkarya yang diterbitkan oleh PT. LAN Tulungagung, Oktober 2023.

Exit mobile version