Oleh : Meilanto
Pada edisi sebelumnya, Buddingh diantar oleh Kepala Kongsi Pertambangan melihat dari dekat proses penambangan timah. Ia menulis secara detail alat-alat dan cara kerja di tambang timah. Selanjutnya ia menulis lagi tentang peleburan timah yang dilakukan pada malam hari. Untuk melebur bijih timah, diperlukan kayu bakar yang banyak sebagaimana yang ia tulis Halaman 56-59 pada bukunya NEERLANDS OOST-INDIE REIZEN GEDAAN GEDURENDE HET TIJDYAK VAN 1852-1857.
De ertslagen vindt men gewoonlijk in aders, die tusschen een mengsel van leemachtige stof en wit rul zand hecnloopen.
De rigting is doorgaans oost en west, en de aderen geven vaak verdeelde takken even als boomtakken van zich af, welke al kleiner en dunner worden en als draden eindigen. Somwijlen wordt ook de tin-erts (of de cassiteron of cassiteriel, in het Maleisch: batoe-tima ) in rijen of losse klompen, die men “stroomen” noemt, verspreid gevonden. Op het oog en op eenigen afstand ziet de erts er als gewone zwarte aarde uit, ten minste voor hem, die geen kenner is; doch in waarheid bestaat die uit onregel-matige en hoekige kristalachtige korrels, welke op fijn en door-schijnend roodachtig glas gelijken. Hoe zwaarder, harder en grooter deze korrels zijn, des te meer tin bevatten ze, en des te ligter worden ze onderscheiden van den valsclien tin-erts (batoe—tima koppong), en van de Siamang, of die ligte en kleine korrels, welke bij de smelting geen metaal achterlaten, en zelfs bij de wassehing in de bandar’s mede wegvlocijen. Na de zuivering erlangen de korrels eene donker-grijze kleur, en deze kleur had ook de erts van Lakfocntiouw, die, na de bewerking met de patjol’s in de bandar, door zijne meerdere zwaarte bezonken was en van tijd tot tijd werd uitgeschept om hem in wind en zon te laten droogen en vervolgens naar het smelthuis te brengen.
Toen we nu al den arbeid in de open lucht bezien hadden, gingen we naar een der smeltovens. De oven was uit grijs achtig-witte klei of leem en zand gebouwd, en stond onder een dak van atap of nipa, hetwelk nog een’ tweeden oven overdekte.
In het midden van het fornuis, dat ongeveer 6 voet hoog en misschien 10 voet breed is, ziet men eene ronde opening, en aan de voorzijde van het fornuis een in den grond gegraven diep gat of kuil, waarin de aarden smeltpijp uitkomt, die uit de gezegde opening in het midden van het fornuis naar beneden loopt. Wanneer de erts gesmolten zal worden, (hetgeen, gelijk gezegd is, wegens de vreeselijke hitte altijd des nachts geschiedt), worden in de naauw-toeloopende opening cenigc houtskolen (arang) gedaan, en het vuur door een’ nabijzijnden poepoet (1) of blaasbalg (gewoonlijk een holle boomstam met een’ zuiger,) aangeblazen. De erts wordt bij kleine hoeveelheden op de gloeijende arang geworpen, en het door de hitte gesmolte tin loopt door de smeltpijp in de kuil, welke beneden aan het fornuis tot dit oogmerk gegraven is. Het in dezen kuil geloopeu tin wordt eerst met een ijzeren schuimspaan van de bovenop drijvende stukjes arang , aseh, enz. gezuiverd, en daarna met een’ ijzeren lepel uitgeschept, en in de houten vormen gegoten, welke digt bij het fornuis in fijne natte aarde geplaatst zijn. Deze vormen zijn van twee zoogenaamde ooren voorzien, en hebben de gedaante van schuitjes, waarom men ook gewoonlijk van “schuitjes tin” spreekt. Zoodra het tin in den vorm half-bekoeld is, wordt het nog eens van alle vuilnis gezuiverd, en, geheel bekoeld en koud geworden zijnde, uit den vorm genomen , en ziet men dan het glinsterende “schuitje” tevens met den naam der mijn en van het eiland Ban ka op de beide ooren gemerkt, en zulks als afdruk van de houten ooren der vormen, waarin doorgaans aan de eene zijde de letter B (d. i. Banka) en aan de andere zijde de eerste letter van den naam der mijn in Chineesch karakter gesneden zijn. Somwijlen echter worden deze letters met een stokje op het schuitje geteekend of geschreven, wanneer het tin in de vormen ten halve is afgekoeld en dus nog zacht of week is. Overigens wegen de tinblokken of schuitjes, waarvan één smelter er 50 à 60 per’nacht smelten kan en die bij het smelthuis worden opgestapeld, elk een’ halven pikol, of de twee schuitjes 125 Amst. ponden (1). De bij de smelting overgebleven tin-slakken, of de Tra , worden met ijzers fijn ge-slagen , gezift en daarna nog eens gesmolten.
Van het smelthuis keerden we naar de lloema-Kongsi terug, en passeerden de plaats, waar de houtskolen voor de smelterij gebrand worden. Ik zag echter niet anders dan 4 hooge muren van leem of klei, waarin eenige gaten waren, en waarop eeu dak van aarde scheen te rusten. De heer VON i’ABtii zeide ‘mij, dat die muren een’ groeten stapel hout bevatteden, hetwelk gereed lag om tot arang gebrand te worden, en dat de houtmijt niet van onderen, maar van boven wordt aangestoken, zoodat het bovenste hout het vuur aan het lager gelegene hout moet mededeelen, terwijl de aarden bedek-king, die tijdens het branden der mijt telkens met nieuwe aarde moet aangehoogd worden, van zelfs al lager en lager zakt, naarmate er meer hout wordt doorgebrand, en op deze wijze al het reeds doorgebrande hout uitdooft. De gaten in den muur zijn de luchtgaten, waardoor de vlam of het vuur, naar boven geen’ uitweg vindende, genoopt wordt naar beneden te branden.
(1) De naam poepoet wordt ook door de Maleijers aan den stormwind gegeven, dien ze angicn-pocpoe t (ook angien-riboet) heeten.
(1) Het distrikt Blienjoe brengt jaarlijks ongeveer 15,000 pikols tin op. In 1854 waren er op Banka 247 linmiinen, die 76,238 pikols eassiteron hadden opgeleverd, en waren er van de 14,434 Chinezen op Banka 7,606 bij de mijnen werkzaam. Nieuwe lagen tin-erts werden er in dat jaar to A ijer-pamoedja gevonden.
Maksudnya
Biji timah ini umumnya ditemukan dalam urat-urat yang membentang di antara campuran tanah lempung dan pasir putih yang gembur. Arah uratnya biasanya dari timur ke barat, dan sering kali bercabang layaknya ranting pohon—semakin ke ujung semakin kecil dan tipis, hingga berakhir seperti benang. Kadang-kadang, biji timah (cassiteron/cassiterit, dalam bahasa Melayu disebut batu timah) juga ditemukan tersebar dalam barisan atau gumpalan lepas yang disebut “aliran”.
Dilihat sekilas dari kejauhan, biji ini tampak seperti tanah hitam biasa, setidaknya bagi mereka yang bukan ahli. Namun sesungguhnya ia terdiri dari butiran kristal tidak beraturan dan bersudut tajam, yang menyerupai kaca kemerahan halus dan tembus pandang. Semakin berat, keras, dan besar butirannya, semakin tinggi kandungan timahnya, dan semakin mudah dibedakan dari biji timah palsu (batu timah kopong) serta dari siamang—butiran ringan dan kecil yang tidak menghasilkan logam saat dilebur, bahkan ikut terbawa arus saat pencucian di tempat pengolahan (bandar). Setelah dimurnikan, butiran tersebut berubah warna menjadi abu-abu gelap; begitulah warna biji dari Lakfoentiouw ini, yang setelah dikerjakan dengan cangkul di bandar, tenggelam karena beratnya, lalu sesekali diangkat untuk dijemur di bawah angin dan matahari sebelum dibawa ke rumah peleburan.
Setelah melihat seluruh proses pekerjaan di ruang terbuka, kami menuju salah satu tungku peleburan. Tungku tersebut dibangun dari tanah liat berwarna putih keabu-abuan dan pasir, beratap rumbia atau nipah yang juga menaungi satu tungku lagi. Di tengah tungku—yang tingginya sekitar 6 kaki dan lebarnya mungkin 10 kaki—terdapat lubang bundar, dan di bagian depan terdapat lubang dalam yang digali ke dalam tanah, tempat ubin peleburan tanah liat yang mengalir dari lubang tengah tadi berakhir.
Saat hendak melebur biji timah (yang seperti disebutkan, selalu dilakukan pada malam hari karena panas yang menyengat), arang kayu dimasukkan ke lubang yang menyempit itu, dan api ditiup menggunakan alat penghembus (poepoet¹)—biasanya berupa batang kayu berlubang yang dilengkapi pendorong. Biji timah dimasukkan sedikit demi sedikit ke atas arang yang membara, dan timah yang meleleh karena panas mengalir melalui saluran peleburan ke dalam lubang di bawah tungku yang memang digali untuk keperluan ini.
Timah yang telah terkumpul di lubang tersebut pertama-tama dibersihkan dari potongan arang, abu, dan kotoran lain yang mengapung di permukaannya menggunakan sendok penyaring besi, lalu diambil dengan sendok besi dan dituang ke dalam cetakan kayu yang diletakkan di atas tanah basah halus di dekat tungku. Cetakan ini memiliki dua bagian seperti telinga, dan bentuknya menyerupai perahu kecil—itulah sebabnya timah ini biasa disebut “timah perahu”.
Segera setelah timah di dalam cetakan setengah dingin, ia dibersihkan kembali dari segala kotoran, dan setelah benar-benar dingin dikeluarkan dari cetakan. Terlihatlah “perahu” timah yang berkilau, dengan tanda nama tambang dan nama pulau Bangka yang tercetak di kedua sisi “telinganya”—berbekas dari cetakan kayu yang di satu sisinya diukir huruf B (singkatan Bangka), dan di sisi lainnya huruf pertama nama tambang dalam aksara Tionghoa. Kadang-kadang huruf ini digoreskan dengan tongkat kecil saat timah masih setengah dingin dan lunak.
Setiap balok atau perahu timah beratnya setengah pikul, atau dua perahu setara dengan 125 pon Amsterdam¹. Seorang pelebur dapat menghasilkan 50 hingga 60 perahu setiap malam, yang kemudian ditumpuk di rumah peleburan. Sisa peleburan atau terak timah yang disebut tra, dipukul halus dengan alat besi, disaring, lalu dilebur kembali.
Dari rumah peleburan kami kembali menuju kediaman kongsi, dan melewati tempat pembakaran arang untuk keperluan peleburan. Yang saya lihat hanyalah empat dinding tinggi dari tanah lempung yang memiliki beberapa lubang, dan di atasnya tampak ditutup dengan lapisan tanah. Tuan VON FABER menjelaskan bahwa di balik dinding itu tersimpan tumpukan kayu besar yang siap dibakar menjadi arang. Tumpukan kayu ini tidak dinyalakan dari bawah, melainkan dari atas, sehingga api menyebar ke bagian bawahnya. Lapisan tanah penutup yang harus terus ditambah selama proses pembakaran perlahan turun seiring kayu yang terbakar, sekaligus memadamkan bagian yang sudah selesai dibakar. Lubang-lubang di dinding berfungsi sebagai saluran udara, memaksa api membakar ke bawah karena tidak memiliki jalan keluar ke atas.
¹ Catatan: Nama poepoet juga digunakan oleh orang Melayu untuk menyebut angin kencang atau badai, yang mereka sebut angin-poepoet (juga angin-ribut).
¹ Catatan: Distrik Blienjoe menghasilkan sekitar 15.000 pikul timah setiap tahunnya. Pada tahun 1854, terdapat 247 tambang timah di Bangka yang menghasilkan 76.238 pikul biji timah, dan dari 14.434 orang Tionghoa di Bangka, sebanyak 7.606 orang bekerja di sektor pertambangan. Pada tahun yang sama, lapisan biji timah baru ditemukan di Aijer-pamoedja.
Foto : Blinjoe. Smelting shed for the processing of tin-containing slag. Anonymous, 1907 – 191.
Sumber : Rijksmuseum.nl. Pewarnaan AI
Catatan : Tulisan ini dikutip dari buku NEERLANDS OOST-INDIE REIZEN GEDAAN GEDURENDE HET TIJDYAK VAN 1852-1857 bagian kedua edisi ketiga yang diterbitkan tahun 1867. Buku setebal 496 ini ditulis oleh Dr. S. A. Buddingh.
Buddingh bernama lengkap Steven Adriaan Buddingh (1811-1884) seorang penulis dan pendeta Belanda abad ke-19 yang terkenal karena karya sejarah dan catatannya tentang Nusantara.












