Oleh : Meilanto
Setelah menemui buruh tambang timah, perjalanan dilanjutkan ke Sunagiliat melewati Kampung Panji dan tambang Lakfoentiouw, Buddingh melihat langsung proses penambangan timah seperti yang ia tulis pada bukunya pada halaman 54-56 NEERLANDS OOST-INDIE REIZEN GEDAAN GEDURENDE HET TIJDYAK VAN 1852-1857. Ternyata ada pantangan saat turun ke lokasi penambangan timah. Simak tulisannya!
Al verder bragl de Kongsi-che f of President ons aan de eigenlijke tin-mijn of de parit . Doch hier deed hij zijn pajong of zonnescherm toe en zijn bengh é of Chinesche schoenen uit, dewijl de Chinesche mijnwerkers gelooven, dat de ertslagen dieper zinken, of zich verplaatsen, of van onwaarde worden zouden, indien zij (de Chinezen) met de schoenen aan de voeten en de pajong s boven het hoofd, en dus oneerbiediglijk, in de mijnen kwamen. De mijn te Lakfoentiouw is een zoogenaamde kollong-mij n of parit-kollong , waarin alleen die ertslagen worden opgedolven, welke diep in den grond liggen, b. v. 30 à 40 of 50 of meer voeten diep, – en die door deze wijze van bewerking onderscheiden wordt van de zoogenaamde koeliet-mijnen , waarvan alleen de bovenste, slechts 5 à 6′ voet diep liggende, ertslaag opgegraven wordt, – en van de koeliet-kollong—mijnen, waarvan eerst de bovenste erlslaag bewerkt wordt, en daarna de successivelijk volgende en successivelijk al dieper en dieper liggende lagen hare beurt krijgen (1). We bevonden ons uu op een uitgestrekt terrein, hetwelk allerwege p. m. 20 voelen diep was uitgegraven of met opgedoken aarde opgehoogd, en waartusschen drie gegraven slokkan’s of bandar’s (kanalen) van 2 à 3 voeten breed heenstroomden, terwijl eenige smalle waterleidingen en op schragen rustende houten goten het water uit de bandar’s overal heenvoerden, waar het tot den arbeid gebruikt moest worden. De chef leidde ons nu eerst naar een diep riviertje ter plaatse, waar men in deze een bandongan of afdamming gemaakt had, om een tebat of reservoir te hebben voor het water, hetwelk ter bewerking der inijnnoodig is, en wees ons verder de Piotjel é of de tweede bandar, die den reservoir of vergaderbak weder van het overvloedige water ontlasten moet. Toen volgden we den oever van de hoofd-bandar of het hoofdkanaal (door de Chinezen Laaitjoei-kiauw geheeten,) die hooger dan de beide anderen bandar’s gelegen is, en over een waterrad of kientjier-aijer (in het Chineesch Tjia-tiauw geheeten), – aan hetwelk een houten-ketting-pomp (Kioe-koet) of tali-aijer, om het water uit de mijn op te halen, bevestigd is, – het water uit de tebat naar de werkplaatsen in de mijn voert. Daarop volg-den wc den oever der 3 de bandar (Sjan-kiauw), die iets lager ligt en het gebruikte water naar lagere gronden afvoert, – en passeerden middelerwijl onderscheidene waterleidingen, die tot spoel-bandar’s dienen voor de wassching en zuivering der erts-aarde.
Door deze leidingen vliet de stroom met kracht heen, en, om hef afbrokkelen van den grond te beletten, zijn ze aan beide zijden met boomschors (koeliet) en papan’s of planken gevoerd oi’ bekleed, terwijl ook de bodem met planken bevloerd is, ten einde den erts, welke, na in de bandar gewasschen te zijn, op den bodem liggen blijft, gemakkelijk te kunnen opscheppen. “Vervolgens kwamen we te midden van het werkvolk, dat met patjol’s (spade) of Kioktjo’s, en poenkie’s of pinkie’s (draagmaudjes), en Tamkoon’s of draaghouten (pikolan’s), en Tjiong’s of koevoeten overal aan den arbeid was. Eenige werklieden stootten den ertsgrond langs de wanden of zijden der mijn af, of maakten den diep-liggenden bodem met koevoeten los; – anderen schejiten met de patjol’s den losgemaakten ertsgrond op de platte draagmandjes; – weder anderen bragtende gevulde poenkie’s, die met rottan aan het draaghout op den schouder bevestigd waren, naar de kleinere bandar’s of leidingen, en stortten hunne vrachten daarin uit, of deden die nog eerst in spoelmandjes, ten einde, wanneer er soms steenen bij waren, dezen in de bandar uit te zittenen weg te werpen; – en weder anderen stonden op cenige afstanden van elkander midden in de bandar’s of leidingen, om in het snel-stroomend water, – dat uit den Tjia—tong of houten trog vloeit, die bij het waterrad geplaatst is en het opgepompte water ontvangt, – den tin-erts van de leem- en zand-deelen te zuiveren, door de in de bandar’s uitgestorte erts—aarde met den patjol tegen den stroom op te verwerken. Overal was bedrijvigheid, en de arbeid der kloeke mannen geschiedde in het volle licht der zon, daar de tin-mijnen op Banka geheel open liggen, en geene onderaardsche gangen hebben, zoo als in andere mijnen.
(1) Kollong beteekent: kuil, diepte; – koelie t is: schors, bast (ook leder), bovenlaag; – en koeliet-ko’llong is: schors-kuil of bovenlaag-kuil. Gewoonlijk liggen er maar IS ertslagen boven elkander. – Overigens vergelijke men het aangetee-kende over de tinmijuen van Banka van den heer LANGE in zijn geciteerd werk, waaruit ik mijne nota’s over dit onderwerp heb aangevuld.
Maksudnya:
Selanjutnya, Ketua Kongsi mengantar kami menuju lokasi tambang timah yang sebenarnya, atau yang disebut parit. Namun di sini ia menutup payung pelindung matahari (payung) dan melepas sepatu Tionghoa (benghé), karena para pekerja tambang Tionghoa percaya bahwa lapisan bijih timah akan tenggelam lebih dalam, berpindah tempat, atau menjadi tidak berharga jika mereka masuk ke dalam area tambang dengan mengenakan sepatu dan membawa payung—yang dianggap tidak sopan.
Tambang Lakfoentiouw termasuk jenis kollong-mijn atau parit-kollong, yaitu jenis tambang yang menggali lapisan bijih yang terletak jauh di dalam tanah, misalnya sedalam 30 hingga 40, bahkan 50 kaki atau lebih. Cara ini berbeda dengan tambang kulit, yang hanya menggali lapisan paling atas sedalam 5–6 kaki, maupun tambang koeliet-kollong yang terlebih dahulu mengeruk lapisan atas, baru kemudian secara bertahap mengeruk lapisan yang semakin dalam satu per satu.
Kini kami berada di lahan yang sangat luas, yang seluruhnya telah digali sedalam sekitar 20 kaki atau ditimbun kembali dengan tanah galian. Di antaranya mengalir tiga saluran air atau bandar selebar 2–3 kaki, sementara pipa-pipa sempit dan saluran kayu yang disangga tiang mengalirkan air dari bandar ke tempat-tempat yang membutuhkannya untuk pekerjaan tambang.
Kepala tambang pertama-tama mengantar kami ke sebuah aliran sungai dalam di mana mereka telah membuat bendungan atau bandongan, guna membentuk waduk atau tebat sebagai persediaan air yang sangat dibutuhkan untuk pengolahan tambang. Ia juga menunjukkan saluran kedua atau Piotjélé, yang berfungsi membuang kelebihan air dari waduk penampung. Setelah itu kami berjalan menyusuri tepian saluran utama (bandar utama, yang disebut orang Tionghoa Laaitjoei–kiauw) yang posisinya lebih tinggi dari dua saluran lainnya. Air dari waduk dialirkan melalui kincir air atau kientjier-aijer (dalam bahasa Tionghoa disebut Tjia-tiauw), yang dilengkapi pompa rantai kayu (Kioekoet atau tali–aijer) untuk mengangkat air dari dasar tambang, lalu menyalurkannya ke area kerja. Selanjutnya kami menyusuri tepi saluran ketiga (Sjan-kiauw) yang letaknya sedikit lebih rendah, yang berfungsi mengalirkan air bekas ke area yang lebih rendah, sambil melewati berbagai saluran pembilas untuk mencuci dan memisahkan tanah dari bijih timah.
Air mengalir deras melalui saluran-saluran ini; agar tanah tidak longsor, dinding saluran dilapisi kulit kayu (koeliet) dan papan, sedangkan dasarnya dilapisi papan pula—supaya bijih timah yang tertinggal di dasar setelah dicuci dapat dengan mudah diambil.
Tak lama kemudian kami tiba di tengah keramaian pekerja, yang sibuk bekerja menggunakan cangkul (patjol atau Kioktjo), keranjang gendong (poenkie atau pinkie), pikulan kayu (Tamkoon), dan linggis (Tjiong). Sebagian pekerja mencungkil tanah bijih dari dinding atau sisi tambang, atau melonggarkan dasar tanah yang dalam dengan linggis; sebagian lain menyodok tanah bijih yang telah gembur ke atas keranjang datar; ada pula yang mengangkut keranjang yang telah penuh—yang diikat rotan pada pikulan di bahu—menuju saluran kecil, lalu menuangkan isinya, atau memindahkannya ke keranjang bilas terlebih dahulu untuk membuang batu-batu yang tercampur. Sementara itu, pekerja lain berdiri berjarak satu sama lain di tengah saluran, mencuci bijih timah dari tanah dan pasir di air yang mengalir deras—yang dialirkan dari bak kayu di samping kincir—dengan cara menyodok tanah bijih melawan arus air.
Kegiatan berlangsung sangat sibuk, dan pekerjaan para pekerja yang gagah berani dilakukan di bawah terik matahari, karena tambang timah di Bangka sepenuhnya terbuka dan tidak memiliki terowongan bawah tanah seperti jenis tambang lainnya.
(Catatan: Kolong berarti lubang atau kedalaman; koeliet berarti kulit kayu atau lapisan atas; sedangkan koeliet–kollong berarti lubang lapisan atas. Biasanya hanya terdapat satu lapisan bijih di atas lapisan lainnya. Untuk penjelasan lebih lanjut, silakan merujuk tulisan Bapak LANGE mengenai tambang timah Bangka dalam karya yang dikutip, yang menjadi sumber catatan saya mengenai topik ini). (BP / KM)*
Foto : Transportinstallatie in mijn 5 te Blinjoe; anonymous, 1914 – 1919.
Sumber : Rijksmuseum.nl. Pewarnaan AI
Catatan : Tulisan ini dikutip dari buku NEERLANDS OOST-INDIE REIZEN GEDAAN GEDURENDE HET TIJDYAK VAN 1852-1857 bagian kedua edisi ketiga yang diterbitkan tahun 1867. Buku setebal 496 ini ditulis oleh Dr. S. A. Buddingh.
Buddingh bernama lengkap Steven Adriaan Buddingh (1811-1884) seorang penulis dan pendeta Belanda abad ke-19 yang terkenal karena karya sejarah dan catatannya tentang Nusantara.
