Bekaespedia.com, Garut, – Jempol yang bergerak di layar ponsel sering kali hanya berakhir pada deretan video hiburan, tren terbaru, atau informasi yang belum tentu benar. Namun, di tengah derasnya arus digital itu, ada pertanyaan penting yang kini coba dijawab dunia pendidikan, bisakah media sosial menjadi ruang belajar sekaligus tempat lahirnya karya anak muda?.
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) bersama Komisi X DPR RI menjawabnya dengan mendorong Gerakan Humas Muda.
Gerakan ini tidak sekadar mengajak pelajar lebih aktif di media sosial. Lebih jauh, mereka dibekali kemampuan literasi digital, komunikasi publik, serta keterampilan menghasilkan karya positif yang dapat memberi manfaat bagi lingkungan.
Semangat tersebut mengemuka dalam Lokakarya “Humas Muda: Belajar Bermakna, Berkarya Bersama” yang digelar Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat Kemendikdasmen bersama Komisi X DPR RI di Institut Pendidikan Indonesia (IPI) Garut, Jawa Barat, Jumat (7/8/2026).
Sebanyak 100 peserta dari jenjang SMP, SMA, SMK, serta guru mengikuti kegiatan tersebut.
Di hadapan para peserta, ruang digital dipandang bukan lagi sekadar tempat untuk mengonsumsi informasi. Media sosial juga dapat menjadi ruang untuk menuangkan gagasan, membangun komunikasi dan menciptakan karya.
Namun, kebebasan di ruang digital juga memiliki konsekuensi.
Setiap unggahan, komentar, foto, video, maupun informasi yang dibagikan dapat meninggalkan jejak dan membawa dampak. Karena itu, peserta didik didorong memahami risiko di ruang digital, menjaga privasi, melindungi data pribadi, serta mampu memilah informasi sebelum membagikannya.
Gerakan Humas Muda juga menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem pelindungan anak di ruang digital. Hal ini sejalan dengan implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak (PP TUNAS), yang diperkuat melalui Peraturan Menteri Komunikasi dan Digital Nomor 9 Tahun 2026.
Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan IPI Garut, Lucky Rahayu, menilai tantangan terbesar di era digital bukan lagi sekadar kemampuan mengakses teknologi, tetapi bagaimana teknologi digunakan dengan karakter dan tanggung jawab.
“Di era digital saat ini, setiap orang dapat menyampaikan informasi dengan sangat mudah. Namun, tidak semua orang mampu menggunakannya dengan penuh tanggung jawab ataupun inspirasi,” ujar Lucky.
Menurutnya, kemudahan teknologi harus berjalan beriringan dengan pengetahuan dan karakter. Sebab, kemampuan menggunakan teknologi tanpa tanggung jawab justru dapat menimbulkan persoalan baru.
“Perbedaannya terletak pada karakter, pengetahuan, dan tanggung jawab itu sendiri,” katanya.
Lucky menegaskan, pendidikan tidak boleh berhenti pada upaya mencetak peserta didik yang unggul secara akademik. Sekolah juga harus membentuk generasi yang mampu berpikir kritis dan berkomunikasi secara baik.
“Pendidikan hari ini tidak cukup hanya melahirkan generasi yang cerdas, tetapi juga generasi yang mampu berpikir kritis, berkomunikasi dengan baik, dan menggunakan teknologi untuk menghadirkan manfaat bagi khalayak,” ujarnya.
Pesan untuk tidak sekadar menjadi pengguna media sosial juga disampaikan Anggota Komisi X DPR RI, Ferdiansyah.
Ia mengajak pelajar menjadikan Gerakan Humas Muda sebagai ruang untuk mengembangkan potensi diri dan menghasilkan sesuatu yang memiliki nilai.
“Bekerja itu melakukan aktivitas untuk mencapai tujuan, tetapi berkarya adalah mengaktualisasikan diri, mengekspresikan diri, serta menciptakan nilai dan dampak jangka panjang,” tegas Ferdiansyah.
Menurutnya, pelajar harus memiliki kemampuan untuk memilih dan memilah konten sebelum dipublikasikan. Kebebasan berekspresi harus tetap disertai kesadaran mengenai apa yang pantas disampaikan kepada publik.
“Anak-anak semua harus tahu memilih dan memilah mana yang pantas dipublikasikan dan mana yang tidak. Bahasa Indonesia diutamakan, bahasa asing dikuasai,” katanya.
Sementara itu, Kepala Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat Kemendikdasmen, Yudhistira Nugraha, mengingatkan pelajar agar tidak hanya datang ke sekolah untuk menerima pelajaran, tetapi juga menemukan makna dan menghasilkan karya dari proses tersebut.
“Jangan hanya hadir di sekolah, tetapi temukan makna dalam apa yang kita pelajari. Jadikan sekolah sebagai ruang berkarya dan berinteraksi,” ujar Yudhistira.
Ia juga mendorong peserta didik mengubah posisi mereka di ruang digital, dari sekadar penikmat menjadi pencipta.
“Jangan hanya menjadi konsumen informasi, jadilah pencipta karya,” katanya.
Bagi Yudhistira, seorang Humas Muda harus memiliki keberanian untuk mencoba. Kegagalan bukan alasan untuk berhenti, melainkan bagian dari proses belajar.
“Seorang Humas Muda harus berani mencoba, tidak takut gagal, dan terus berkolaborasi untuk menciptakan dampak nyata bagi pendidikan bermutu untuk semua,” ujarnya.
Semangat berkarya itu kemudian bertemu dengan konsep Pembelajaran Mendalam yang dikembangkan Kemendikdasmen.
Kepala Pusat Kurikulum dan Pembelajaran Kemendikdasmen, Laksmi Dewi, menjelaskan Pembelajaran Mendalam merupakan pendekatan yang menempatkan murid sebagai bagian penting dalam proses pembelajaran.
“Pembelajaran mendalam adalah pendekatan yang memuliakan. Bagaimana guru dan murid saling menghargai, bertoleransi, dan berinteraksi secara positif,” ujar Laksmi.
Dalam pendekatan tersebut, murid tidak ditempatkan sekadar sebagai objek yang menerima materi dari guru. Mereka didorong menjadi mitra dalam proses pembelajaran.
“Di dalam proses ini, murid bukan sekadar objek, melainkan mitra guru dalam melaksanakan pembelajaran. Kita ingin menciptakan suasana belajar yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan,” katanya.
Harapannya, sinergi antara guru dan murid tidak hanya menghasilkan kemampuan akademik, tetapi juga membentuk manusia yang berkembang secara utuh melalui olah pikir, olah hati, olah rasa dan olahraga.
Pada akhirnya, Gerakan Humas Muda ingin mengubah cara pelajar memandang layar di tangan mereka.
Satu layar yang sama bisa digunakan untuk sekadar menggulir hiburan tanpa henti. Namun, layar itu juga bisa menjadi ruang untuk membaca, belajar, berdiskusi, membuat karya, dan menyampaikan gagasan yang membawa manfaat.
Di tengah banjir informasi, pelajar tidak cukup hanya dituntut cerdas menggunakan media sosial. Mereka juga perlu belajar menjadi cerdas menciptakan isi media sosial.
Sebab, masa depan ruang digital tidak hanya ditentukan oleh teknologi, tetapi juga oleh karakter orang-orang yang mengisinya.












