Editor : Belva Al Akhab
Bekaespedia.com, Jakarta,- Layar digital di ruang kelas tak lagi sekadar menjadi perangkat pelengkap. Pemerintah mulai mendorong agar Papan Interaktif Digital atau Interactive Flat Panel (IFP) menjadi bagian penting dalam proses belajar mengajar di sekolah.
Dukungan itu menguat setelah Menteri Keuangan Purbaya melihat langsung penggunaan IFP di SMAN 68 Jakarta dan SMPN 216 Jakarta, Selasa (11/8/2026).
Bersama Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Atip Latipulhayat, Purbaya melakukan peninjauan secara mendadak. Mereka melihat bagaimana perangkat digital tersebut digunakan dalam proses pembelajaran sekaligus meninjau pemanfaatan konten pendidikan yang disiapkan melalui Rumah Pendidikan.
Kunjungan itu memiliki satu tujuan penting bagi Purbaya untuk memastikan uang negara yang telah digelontorkan untuk digitalisasi pendidikan benar-benar menghasilkan manfaat bagi siswa.
“Saya cek tadi SMAN 68 Jakarta sampai SMPN 216 Jakarta terkait penggunaan Papan Interaktif Digital. Saya hanya lihat aja atau dengar cerita dari Pak Presiden itu berguna. Sebagai Menteri Keuangan saya ingin cek apakah betul uang yang kita belanjakan itu berguna,” ujar Purbaya di SMPN 216 Jakarta.
Setelah menyaksikan langsung pemanfaatannya, Purbaya mengaku mendapatkan gambaran bahwa perangkat tersebut memang memiliki manfaat dalam proses pembelajaran.
Menurutnya, IFP dapat membantu mempercepat proses edukasi apabila digunakan secara konsisten oleh guru dan siswa.
“Karena setelah saya lihat memang bagus sekali PID itu. Saya pikir kalau dipakai dengan konsisten bisa mempercepat edukasi ke murid-murid di SMP, SMA, SD dan lain-lain,” katanya.
Namun, ada catatan yang turut dibawa pulang dari kunjungan tersebut. Jumlah IFP yang tersedia dinilai belum mencukupi kebutuhan sekolah.
Purbaya menilai penambahan perangkat perlu dilakukan secara bertahap hingga mencapai kondisi ideal, terutama karena sekolah tingkat SMP dan SMA memiliki sejumlah kelas paralel.
“Cuma kelihatannya jumlahnya memang masih kurang banyak. Saya pikir itu perlu diwujudkan dan tahun-tahun ke depannya harus ditambah lagi,” ujarnya.
Target yang didorong Kemendikdasmen pun cukup jelas: satu perangkat IFP untuk setiap kelas.
Dengan pola tersebut, digitalisasi pembelajaran diharapkan tidak hanya dirasakan oleh sebagian kelas atau sekolah yang telah memiliki perangkat, tetapi dapat menjangkau seluruh ruang belajar secara lebih merata.
Bagi Wamendikdasmen Atip Latipulhayat, penambahan perangkat hanyalah satu bagian dari pekerjaan besar digitalisasi pendidikan.
Ada hal lain yang tidak kalah penting, yakni memastikan konten pembelajaran yang tersedia mampu membuat perangkat tersebut benar-benar berguna.
Atip mengatakan Purbaya memberikan dua perhatian utama setelah melihat penggunaan IFP secara langsung. Pertama mengenai manfaat perangkat dan kedua terkait kualitas konten yang disiapkan melalui Rumah Pendidikan.
“Saya bersama dengan Menteri Keuangan meninjau pengoperasian PID di SMA Negeri 68 Jakarta dan SMA Negeri 216 Jakarta. Tadi kami dengan Pak Menteri Keuangan melihat langsung penggunaan dari PID dan Pak Menteri Keuangan memberikan dua hal,” ujar Atip.
Ia mengatakan Purbaya melihat IFP memberikan manfaat nyata bagi pembelajaran. Karena itu, Menteri Keuangan mendukung agar jumlah perangkat tersebut terus ditambah.
“Yang pertama, beliau melihat bahwa PID ini sangat bermanfaat sekali, kata beliau. Dan beliau setuju ini harus terus ditingkatkan jumlahnya, ditambah jumlahnya, berarti anggarannya juga ditambah. Karena beliau sudah melihat sendiri sangat bermanfaat,” kata Atip.
Perhatian berikutnya menyentuh konten pembelajaran.
Atip menyampaikan bahwa Purbaya menilai konten yang disediakan melalui Rumah Pendidikan sudah sangat baik, tetapi tetap perlu dikembangkan agar pemanfaatan IFP tidak berhenti pada keberadaan perangkat semata.
“Konten yang disiapkan melalui Rumah Pendidikan sudah sangat baik dan perlu terus dikembangkan agar keberadaan PID dapat dimanfaatkan secara optimal,” ujar Atip.
Kemendikdasmen pun memastikan pengembangan perangkat akan berjalan beriringan dengan peningkatan konten.
“Oleh karena itu, dari hasil kunjungan ini, maka bagi Kementerian khususnya, akan terus meningkatkan konten pembelajaran,” katanya.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat digitalisasi pendidikan agar teknologi tidak hanya hadir sebagai benda baru di dalam kelas, tetapi benar-benar menjadi alat yang membantu guru mengajar dan siswa memahami pelajaran.
Dukungan Purbaya terhadap program IFP juga menyentuh persoalan anggaran.
Setelah melihat langsung pemanfaatannya, ia menegaskan bahwa pemerintah siap menyediakan anggaran untuk keberlanjutan program tersebut sesuai arahan Presiden.
“Jadi ini program yang bagus, yang wajib dilanjutkan menurut saya. Keuangan siap menyediakan anggaran sesuai dengan perintah Bapak Presiden,” tegas Purbaya.
Pernyataan tersebut menjadi dorongan bagi Kemendikdasmen untuk mempercepat pemerataan IFP di satuan pendidikan.
Ke depan, keberadaan satu perangkat di setiap kelas diharapkan membuat guru memiliki akses yang lebih luas terhadap teknologi pembelajaran, sementara siswa mendapatkan pengalaman belajar yang lebih interaktif.
Tetapi tantangan digitalisasi pendidikan bukan hanya soal berapa banyak layar yang terpasang.
Perangkat harus diikuti konten yang berkualitas. Guru juga perlu mampu memanfaatkannya secara konsisten. Dengan begitu, investasi negara tidak berhenti sebagai angka dalam anggaran, melainkan terlihat manfaatnya di depan papan digital ketika guru mengajar, siswa menyimak dan pembelajaran berlangsung dengan cara yang lebih dekat dengan perkembangan zaman.
Dari ruang-ruang kelas di Jakarta, pemerintah kini sedang mengarahkan satu target besar untuk mencapai satu kelas satu perangkat, dengan konten pembelajaran yang terus diperkuat.












