Bumi yang Berisik

Oleh : Fayyola Gracella Jesslyn (Siswa SD Stania Koba)

 

Angin sore terasa berisik, kering, membawa debu, dan menyisakan sesak di dada. Suatu sore anak bernama Ciko duduk di tepi sungai yang kecil. Sungai itu terasa keruh dan banyak sampah yang menyangkut di bebatuan dan terlihat seperti berjalan mengikuti arus sungai itu yang kecil. Dulu Ciko dan teman-temannya sering bermain, tertawa dan berlari-lari tanpa takut. Tapi sekarang melihat sungai itu saja sudah jijik.

“Mengapa jadi begini ya?” bisiknya. Ciko merasakan bumi seperti memanggilnya untuk membersihkan sungai itu. Saat malam hari Ciko yang ingin tidur, tidak bisa tidur karena ia merasa bumi seperti memanggilnya meminta tolong untuk membersihkan sungai itu.

“Ciko……” bumi sangat berisik memanggilnya.Keesokan harinya, Ciko pergi lagi ke sungai itu dan hatinya tergerak untuk membersihkan sungai itu. Saat ia mulai ingin membersihkan sungai, ada seorang anak kecil yang menghampirinya dan berkata “kakak, apa yang sedang kau lakukan?” tanya anak kecil itu.

Ciko pun menjawab, “kakak sedang membersihkan sungai ini agar terlihat bersih lagi.” Jawab Ciko.

“Kakak, apa boleh aku ikut membantu kakak?” tanya adik kecil itu.

Ciko pun berkata, “tentu saja boleh.”

Sedikit demi sedikit, orang-orang yang ada di sana ikut membantu Ciko untuk membersihkan sungai. Setelah selesai membersihkan sungai, Ciko duduk di tepi sungai itu dan ia sekarang merasakan ketenangan dan tidak ada lagi sampah yang menyangkut. Setiap sepulang sekolah Ciko menyempatkan untuk pergi ke sungai itu dan mengambil sampah yang ada. Saat malam hari, Ciko ingin tidur, ia tidak lagi merasa bumi menggangunya dan bumi memberi Ciko ketenangan saat tidur. Sekarang Ciko sangat mengurangi pemakaian sampah plastik. Contohnya dulu ia sering memakai botol plastik tetapi sekarang ia memakai botolnya sendiri. Ibu Ciko yang melihat itu bingung mengapa Ciko tidak mau lagi memakai botol plastik. Keesokan harinya ibu Ciko bertanya, “Ciko mengapa kau tidak mau lagi memakai botol plastik?” tanya ibu.

“Aku ingin menjaga bumi, bu. Aku tidak lagi memakai sampah plastik ini agar sampah plastik di bumi ini berkurang dan tidak merusak bumi. Selama ini bumi sudah cukup kuat dengan sampah yang kita buang sembarangan bu.” Jawab Ciko.

Ibu Ciko yang mendengar itu merasa bangga dan kaget karena Ciko yang bisa berpikir seperti itu. Tetangga-tetangga yang mendengar itu memberi Ciko apresiasi, dan sekarang tetangga-tetangga mulai mengurangi sampah plastik. Dulu mereka memakai botol plastik tetapi sekarang mereka memakai botol sendiri.

Dari sini sekarang Ciko sudah menolong bumi. Tetangga juga sekarang sering pergi ke sungai itu dan turis-turis tertarik pergi ke sungai itu karena kebersihan, dan ketenangannya. Dulu turis-turis itu sering membuang sampah sembarangan di sungai itu tapi sekarang mereka tidak lagi membuang sampah di situ, justru sekarang mereka membawa sampah itu pulang dan membuangnya pada tempat sampah. Sekarang di semua tempat ada tempat sampah, seperti di depan rumah warga, yang jika kelak penuh akan diambil oleh pasukan kuning untuk didaur ulang.

Tujuan utama mendaur ulang sampah adalah untuk mengurangi sampah-sampah yang ada dan menjaga sumber daya alam. Kita bisa memulai membantu pasukan kuning dengan cara memilah-milih sampah yang layak dipakai dan yang tidak dipakai lagi. sampah-sampah yang kita buang tidak harus berakhir di tempat sampah tetapi juga bisa kita manfaatkan lagi dengan cara mendaur ulangnya. Untuk menjadi barang yang berguna lagi, dengan cara ini kita sudah cukup membantu bumi untuk menjaga bumi agar tetap bersih dan sehat bagi masyarakat setempat. (BP / KM)*

 

Catatan: Cerpen ini merupakan karya peserta FLS3N Tingkat Kecamatan Koba Tahun 2026 cabang menulis cerita.

Exit mobile version