Keterangan Gambar Chit Ngiat Pan atau Sembahyang Rebut, sumber: Buku Kisah, Kultur dan Tradisi Tionghoa Bangka, hal.139, karya Rika Theo dan Fennie Lie.
Oleh : Dato’ Akhmad Elvian DPMP*)
Sembahyang Rebut oleh orang Eropa disebut Ghost Hungry (Heidhues, 2008:167). Kegiatan dilaksanakan setiap tanggal 15 bulan 7 penanggalan Imlek.
Pada masa Hindia Belanda, pada saat perayaan, pekerja tambang diberikan libur bekerja.
Bagi orang Bangka biasanya Sembahyang rebut dijadikan penanda untuk memulai membakar rebak dalam sistem perladangan, atau penanaman Padi berpindah.
Setelah Chit Ngiat Pan biasanya bulan menuju gelap atau Dua hari Kelem. Dalam konteks kampung di Bangka, semakin makmur satu kampung yang biasanya dihuni Orang Tionghoa dan Orang Melayu, maka kelentengnyapun dibangun semakin besar dan replika Thai Tse Ja dibuat semakin besar setiap tahun serta bahan bahan untuk rebutan juga disiapkan dengan berlimpah.
Dalam pembuatan Thai Tse Ja masyarakat kampung bergotong royong membuat dan mempersiapkannya.
Pada saat puncak rebutan semua orang turut serta berebut. Pada saat persiapan, pelaksanaan acara biasanya tampak persatuan antara orang Tionghoa dan Melayu.
*) Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia.
