Dari Pelangas, Negeri Sejiran Setason Dihidupkan: Negara Hadir, Desa Diperkuat, Kerukunan Dijaga sebagai Warisan Sosial

Penulis: Belva Al Akhab, Satrio, dan Tim

Bekaespedia.com, Pelangas, Bangka Barat, – Di bawah langit siang yang cerah, Lapangan Bola Desa Pelangas tak sekadar menjadi ruang upacara. Ia menjelma menjadi lanskap sosial, tempat negara, agama, dan warga desa saling menatap dalam satu kesadaran bersama bahwa kerukunan bukan warisan yang datang dengan sendirinya, melainkan nilai yang harus dirawat, dijaga dan diwariskan lintas generasi.

Jumat (19/12/2025), Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung bersama Pemerintah Kabupaten Bangka Barat secara resmi meluncurkan Desa Pelangas sebagai Desa Sadar Kerukunan Beragama. Di desa pesisir yang dikelilingi kebun, ladang dan jejak sejarah migrasi lintas etnis ini, negara menegaskan kehadirannya hingga ke akar kehidupan masyarakat.

Peluncuran ini bukan hanya peristiwa seremonial. Ia adalah penanda bahwa kerukunan kini diposisikan sebagai infrastruktur sosial, sejajar dengan jalan, listrik, dan air bersih fondasi tak kasat mata yang menopang stabilitas, pembangunan dan keberlanjutan hidup bersama.

Sejak pagi, warga Pelangas berdatangan. Ada petani dengan baju sederhana, nelayan yang baru kembali dari laut, ibu rumah tangga yang menggandeng anak-anaknya, hingga pemuda desa yang tumbuh dalam ruang sosial multi keyakinan. Mereka berdiri berdampingan, tanpa sekat, menyaksikan bagaimana negara hadir bukan sebagai penguasa yang jauh, tetapi sebagai penjaga harmoni.

Bangka Barat, dalam narasi ini, ditampilkan sebagai wilayah yang matang secara sosial sebagai daerah yang memahami bahwa keberagaman adalah kenyataan ekologis, seperti laut dan hutan, yang harus dikelola dengan kebijaksanaan, bukan dibiarkan rusak oleh konflik.

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, H. Pril Maroli, S.T., M.M., dalam sambutannya menegaskan bahwa program Desa Sadar Kerukunan adalah strategi negara menjaga kohesi sosial dari tingkat paling dasar.

“Kerukunan tidak boleh tumbuh liar. Ia harus dirancang, dirawat, dan dilindungi. Desa adalah fondasi republik, dan dari desa Indonesia yang rukun dimulai,” ucapnya, disambut anggukan warga.

Ia menyebut Desa Pelangas sebagai kelanjutan dari komitmen kebijakan yang sebelumnya dijalankan di Desa Puput. Menurutnya, konsistensi ini menandakan kesadaran politik pemerintah daerah bahwa stabilitas sosial adalah prasyarat mutlak bagi pembangunan ekonomi, investasi dan ketahanan ideologi bangsa.

Di tengah tantangan polarisasi sosial yang kerap muncul di ruang publik nasional, Pelangas diposisikan sebagai contoh bagaimana keberagaman dapat dikelola sebagai kekuatan, bukan ancaman.

Bagi Herman, Kepala Desa Pelangas, penetapan ini bukan sekadar gelar administratif. Ia memaknainya sebagai amanah sosial yang harus hidup dalam keseharian warga.

“Ini bukan simbol. Ini mandat negara. Kerukunan harus hadir dalam pelayanan desa, dalam kebijakan, dan dalam relasi antarwarga,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa Pelangas dipilih melalui proses kajian dan seleksi dari sejumlah desa di Bangka Belitung. Modal sosial berupa sejarah hidup berdampingan lintas agama, kedewasaan masyarakat dan kohesi sosial menjadi pertimbangan utama.

Dalam pandangan Herman, desa bukan hanya objek kebijakan, tetapi subjek yang bertanggung jawab menjaga harmoni mulai dari musyawarah desa hingga perayaan hari besar keagamaan.

Ritual doa lintas agama yang dipimpin Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Bangka Barat menjadi momen hening yang kuat. Tokoh Islam, Katolik, Buddha, Hindu, dan Konghucu bergantian memanjatkan doa di atas satu panggung. Sebuah gambaran tentang negara yang menjamin ruang setara bagi seluruh keyakinan.

Ketika barongsai dari komunitas Konghucu menari di lapangan, disusul lantunan hadroh dari Pondok Pesantren Miftahul Jannah, batas-batas simbolik agama melebur dalam satu irama. Inilah wajah Pelangas sebagai keberagaman yang hidup, bukan sekadar slogan.

Seorang warga tua yang duduk di pinggir lapangan berbisik, “Beginilah seharusnya negeri ini dijaga. Tidak ribut, tidak saling curiga.”

Peluncuran Desa Sadar Kerukunan Beragama di Pelangas menegaskan satu pesan penting bahwa persatuan tidak lahir dari kebetulan, melainkan dari kebijakan yang berpihak pada kemanusiaan dan dari desa yang sadar akan perannya dalam menjaga bangsa.

Dari Pelangas, pemerintah mengirimkan pesan bahwa Bangka Barat adalah wilayah yang stabil, aman dan ramah bagi semua. Sebuah daerah yang tidak hanya menjaga keberagaman, tetapi menjadikannya sebagai modal sosial, budaya, dan politik.

Negeri Sejiran Setason, dalam makna terdalamnya, bukan sekadar semboyan daerah. Ia hidup di desa-desa seperti Pelangas di ladang, di rumah ibadah, di ruang perjumpaan warga.

Dan dari desa inilah, Indonesia yang rukun terus dirawat, pelan-pelan, dengan kesadaran bahwa harmoni adalah warisan paling berharga bagi generasi mendatang.

Exit mobile version