Desa Pangkal Beras: Ketahanan Pangan dari Ladang Jempun

Penulis: Belva Al Akhab, Satrio, dan Tim

Bekaespedia.com, Pangkal Beras, Bangka Barat, –

Pagi di Desa Pangkal Beras tidak pernah benar-benar sunyi. Ia hidup dari bunyi-bunyi kecil yang nyaris tak terdengar dalam desir angin yang menyibak daun padi, langkah kaki yang menjejak tanah basah dan gesekan bulir padi yang berguling perlahan di atas terpal biru. Di halaman rumah warga, padi dijemur seperti menjemur harapan di bawah matahari yang naik pelan, seolah memberi waktu bagi desa ini untuk bernapas.

Di Pangkal Beras, padi bukan sekadar hasil panen. Ia adalah penanda hidup, jaminan hari esok dan bahasa diam tentang ketahanan pangan. Sebuah bahasa yang tidak diucapkan lewat spanduk atau jargon, tetapi melalui kerja harian yang sabar dan kolektif.

Sekitar 10 hektar lahan di kawasan Jempun menjadi pusat denyut kehidupan Pangkal Beras. Di sanalah padi ladang ditanam, dirawat dan dipanen dari tahun ke tahun. Lahan itu bukan milik korporasi, bukan pula tanah proyek dengan papan nama besar. Ia adalah lahan warga digarap sendiri, dijaga sendiri dan hasilnya kembali ke dapur mereka sendiri.

Setiap tahun, sekitar 10 hektar lahan sawah dikeringkan untuk ditanami padi ladang. Pilihan ini tidak lahir dari romantisme masa lalu, melainkan dari perhitungan hidup yang realistis. Ketika air tak lagi menentu, ketika tanah gambut kerap terendam, berladang menjadi jalan yang paling masuk akal untuk bertahan.

“Kami menanam untuk makan dulu. Kalau ada lebih, baru dijual,” kata Rusmadi, Kepala Desa Pangkal Beras, Selasa (06/01/2026).

Kalimat itu terdengar sederhana. Namun di baliknya tersimpan filosofi panjang tentang kedaulatan pangan bahwa makan lebih dulu, pasar belakangan. Sebuah prinsip yang bertolak belakang dengan logika pertanian industri yang mengejar surplus sebelum kebutuhan sendiri terpenuhi.

Berbeda dengan sistem pertanian modern yang bertumpu pada gudang besar dan rantai distribusi panjang, Pangkal Beras memilih jalan yang lebih dekat yaitu rumah sebagai pusat segalanya. Hasil panen tidak langsung keluar desa. Ia pulang.

Padi dijemur di halaman rumah, di atas terpal biru yang menjadi warna khas desa. Anak-anak berlarian di antara bulir padi, orang tua membalik jemuran dengan tangan yang hafal ritme musim, sementara karung-karung padi disusun di dalam rumah, menempel pada dinding, berdampingan dengan lemari, kursi, dan perabot sederhana.

Tidak ada lumbung desa modern. Tidak ada sistem cadangan formal. Yang ada adalah lumbung keluarga, tersebar di setiap rumah.

Secara investigatif, sistem ini memperlihatkan dua wajah ketahanan pangan Pangkal Beras. Ia kuat secara sosial, karena setiap keluarga memiliki cadangan sendiri. Namun ia juga rapuh secara struktural, karena ketika gagal panen terjadi secara luas, tidak ada jaring pengaman selain solidaritas antarwarga.

Berladang di Pangkal Beras tidak dimulai dengan mesin atau pupuk kimia. Ia dimulai dari nugel memilih benih padi terbaik. Benih itu kemudian dibebenih, disimpan dalam anyaman khusus bernama pintang. Anyaman ini bukan sekadar wadah, melainkan simbol kehati-hatian dan penghormatan terhadap benih sebagai sumber kehidupan.

Tahap puncaknya adalah ganjal nugel menanam padi secara gotong royong.

Pada hari ganjal nugel, ladang berubah menjadi ruang sosial. Tidak ada upah. Tidak ada pembagian kelas. Semua turun ke ladang, menanam bersama. Dalam praktik ini, berladang menjelma menjadi ritual sosial, bukan sekadar kerja fisik.

“Makna berladang itu gotong royong,” ujar Rusmadi.

Di tengah keterbatasan alat dan akses, gotong royong menjadi teknologi paling canggih yang dimiliki desa ini. Teknologi sosial yang diwariskan lintas generasi.

Namun ladang tidak selalu ramah. Burung nuri datang bergerombol mematuk bulir padi. Tikus merusak batang dan menggerogoti hasil kerja berbulan-bulan. Di musim tertentu, air menggenang dan tanah berubah menjadi tanah lelap yaitu tanah gambut yang menenggelamkan tanaman.

Menghadapi kondisi itu, warga beradaptasi. Mereka memilih padi air atau padi payak, varietas yang mampu bertahan di lahan terendam. Pengetahuan ini tidak datang dari buku panduan atau laboratorium, melainkan dari pengalaman kolektif membaca alam sebagai sebuah sains lokal yang tumbuh dari kegagalan dan keberhasilan yang berulang.

Namun di sinilah lapisan investigatif menjadi terang, dengan minimnya dukungan teknis dan perlindungan kebijakan membuat warga menanggung risiko sendirian. Ketahanan pangan desa berdiri di atas bahu petani kecil yang bekerja tanpa jaring pengaman yang memadai, di tengah ancaman perubahan iklim dan hama yang kian tak terduga.

Di tengah gempuran narasi krisis pangan nasional, Pangkal Beras tidak menggelar konferensi pers. Tidak ada baliho bertuliskan “desa mandiri pangan”. Yang ada hanyalah padi yang dijemur di pinggir jalan.terlihat oleh siapa saja yang lewat.

Itulah propaganda paling jujur, bahwa hasil nyata di depan mata.

Ketahanan pangan di Pangkal Beras tidak diukur dari grafik atau surplus statistik, tetapi dari ketenangan dapur. Selama nasi masih bisa dimasak dari hasil ladang sendiri, desa merasa cukup.

Apa yang dilakukan Pangkal Beras adalah perlawanan sunyi. Di saat banyak desa menggantungkan hidup pada pasokan luar, Pangkal Beras memilih menanam. Di saat sistem pangan semakin terpusat, mereka memecahnya ke dalam rumah-rumah kecil.

Namun perlawanan ini rapuh jika dibiarkan berjalan sendiri. Tanpa dukungan kebijakan, tanpa perlindungan dari hama dan perubahan iklim, ketahanan pangan desa berisiko menjadi heroisme yang kelelahan.

Di Pangkal Beras, padi menyimpan lebih dari sekadar beras. Ia menyimpan ingatan leluhur, kerja hari ini dan harapan anak-anak desa. Selama ladang Jempun masih digarap, selama ganjal nugel masih dijalankan dan selama rumah masih menjadi lumbung, desa ini akan tetap bertahan.

Ketahanan pangan Pangkal Beras mengajarkan satu hal penting bahaa

masa depan tidak selalu dibangun dari proyek besar, tetapi dari benih kecil yang ditanam bersama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *