Di Antara Dapur-Dapur Kecil Simpang Teritip: BAZNAS Bangka Barat Menyalakan Harapan Lewat Program GENTING

Laporan : Belva

Bekaespedia.com, Mentok, Bangka Barat — Pada pagi yang pelan di Bangka Barat, ketika matahari masih ragu menembus dinding-dinding rumah kayu, ada harapan kecil yang mulai menyala dari dapur lima keluarga di Simpang Teritip. Harapan itu datang bukan dalam kilau gemerlap, melainkan dalam bentuk sederhana bantuan gizi, perhatian, dan tangan-tangan yang tak pernah lelah mendampingi.

Adalah Program GENTING (Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting) yang membawa cahaya itu. Sebuah gerakan yang tak hanya mengalirkan dana, tetapi juga kasih, komitmen, dan gotong royong nilai-nilai yang sejak lama menjadi napas masyarakat Bangka Barat.

Program ini dijalankan oleh BAZNAS Bangka Barat bersama Dinas P3KAP2KB, menjangkau lima keluarga rentan stunting sejak November 2025. Masing-masing keluarga menerima Rp 400.000 per bulan, selama enam bulan, yang kemudian diolah menjadi makanan bernutrisi melalui pendampingan PLKB dan kader KB desa.

Di ruang kerja yang penuh arsip dan laporan penyaluran, Ketua BAZNAS Bangka Barat, Drs. Lili Suhendra Nato, berbicara dengan kelembutan yang menyembunyikan ketegasan dalam dirinya.

“Kami ingin memastikan bahwa ZIS yang dititipkan melalui BAZNAS benar-benar kembali kepada masyarakat dalam bentuk manfaat,” ucapnya perlahan.

“Program GENTING adalah bukti bahwa dana umat harus kembali memperkuat umat, terutama keluarga yang membutuhkan dukungan gizi”, Jum’at (21/11/2025)

Baginya, stunting bukan sekadar angka dalam laporan kesehatan. Ia adalah cerita masa depan, cerita anak-anak yang kelak akan tumbuh menjadi penjaga tanah kelahirannya.

“Melawan stunting berarti menjaga masa depan anak-anak kita,” lanjutnya. “Setiap bantuan gizi adalah investasi jangka panjang untuk kualitas manusia Bangka Barat.”

Kata-kata itu jatuh seperti pesan yang tak hanya ditujukan pada hari ini, tetapi pada puluhan tahun ke depan.

Di kantor P3KAP2KB, Sarbudiono, S.Pd, memandang program ini seperti benang-benang kecil yang ketika dirangkai bersama, membentuk kain besar bernama harapan.

“Bangka Barat harus bebas stunting. Dan peran serta lembaga seperti BAZNAS sangat kita perlukan,” ujarnya, penuh penghargaan.

Di lapangan, Eliyanti dari P3KAP2KB menjadi wajah kemanusiaan yang paling dekat dengan keluarga penerima. Setiap hari, ia memastikan bantuan benar-benar berubah menjadi gizi yang masuk ke tubuh anak-anak kecil itu.

“Ini bukan sekadar memberi, tetapi mendampingi,” katanya sambil tersenyum.

“Jika anak-anak ini pulih lebih cepat dari enam bulan, bantuan kita alihkan kepada yang lebih membutuhkan. Dan jika belum sembuh, kami akan terus mendampingi hingga tuntas.”

Dari internal BAZNAS, pesan-pesan keikhlasan tak kalah kuat.

“Hasil pengumpulan ZIS belum besar, namun ini kontribusi kami untuk masyarakat,” ujar H. Hasim Baharudin, Wakil Ketua I. “Dana itu tak pergi jauh ia kembali kepada masyarakat Bangka Barat.”

Sementara Wasis Utama Edi, S.Pd., Wakil Ketua II, memastikan bahwa setiap rupiah selalu ditimbang dengan syariah.

“Selama untuk kemajuan Bangka Barat, kita jalan terus. Yang penting sesuai syariah dan tepat sasaran.”

Kata-katanya sederhana, tetapi menggambarkan fondasi yang kokoh: integritas.

Di Simpang Teritip, bantuan itu menjelma menjadi warna-warna baru di meja makan: hijau sayur, kuning telur, merah buah. Warna yang sebelumnya jarang hadir kini menjadi bagian dari hari-hari baru penuh harapan.

Para kader KB duduk bersama para ibu, mengajarkan cara memasak wajar dan sehat. Mereka tak hanya mengawasi, tetapi menemani. Karena di setiap piring yang terhidang, tersimpan masa depan seorang anak.

Di rumah-rumah kecil itu, perubahan bergerak pelan. Namun pelan bukan berarti tak berarti. Pelan berarti tumbuh dengan akar yang kuat.

Program GENTING menghadirkan gotong royong dengan wajah baru: donatur dari berbagai latar menjadi orang tua asuh bagi keluarga rentan. Dan ketika BAZNAS Bangka Barat bergabung, gerakan ini menjadi semakin terarah, semakin kuat.

Ketua BAZNAS, Lili Suhendra Nato, menutup dengan kalimat yang terasa seperti doa:

“Stunting tidak bisa diselesaikan satu pihak saja. Ini tugas kita bersama. Selama kita bergandengan tangan, harapan itu tidak akan padam.”

Dan di dapur-dapur kecil Simpang Teritip, harapan itu kini tumbuh seperti api yang menjaga kehangatan pagi demi pagi, piring demi piring, hingga enam bulan ke depan dan mungkin jauh lebih lama lagi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *