Di Bawah Tanda Kemanusian: Hari Ketika Pemkab Babar Datang Menghidupkan yang Tersisa dari Rumah H. Ida

Oleh : Belva

Bekaespedia.com, Tanjung Nibung, Tempilang— Tidak ada yang lebih sunyi daripada suara seorang kepala keluarga menatap puing rumahnya sendiri. Pada Selasa dini hari (25/11/2025), rumah dan warung milik H. Al Huda alias H. Ida (58) musnah menjadi abu, tinggal arang dan serpihan kayu yang masih hangat ketika matahari pertama muncul. Pada hari berikutnya, ketika bau asap masih tajam di udara, pemerintah datang tidak untuk menghapus luka, tetapi untuk mengalasi kesedihan itu dengan tangan-tangan yang hadir.

Rabu (26/11/2025), hanya beberapa jam setelah tragedi tersebut, Dinas Sosial Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (Dinsos PMD) Kabupaten Bangka Barat bergerak. Tidak dengan protokol yang rumit atau langkah yang lambat, tetapi dengan keberangkatan yang seolah menjawab apa yang paling manusia butuhkan setelah kehilangan yaitu kehadiran.

Pukul 11.38 WIB, di halaman kecil yang kehitaman, para anggota Tagana Bangka Barat dan Tagana Tempilang bekerja memegang tali, memutar pasak, dan menarik kain tenda merah yang berkibar seperti sayap burung yang hendak melindungi.

Kain itu merah warna luka, warna peringatan, tetapi juga warna yang menghangatkan. Warnanya mencolok di antara kebun kelapa sawit, rumah papan, dan gubuk kecil yang mengelilingi sisa-sisa kebakaran.

Di lapangan, tangan-tangan mereka bergerak serempak: Eko Wahyudi mengatur sudut tali, Dwi Handoko memegang rangka alumunium, sementara relawan lainnya menopang sisi kiri dan kanan tenda. Mereka bekerja tanpa keributan, seolah telah terbiasa membangun harapan di tengah reruntuhan.

Lokasi tepatnya tercatat oleh kamera:

Lintang -2.022035, Bujur 105.567678, Tanjung Niur.

Koordinat yang membekukan tragedi dalam angka, namun juga menjadi saksi bahwa di titik inilah, solidaritas tiba.

Ketika tenda itu akhirnya tegak, di tanah yang masih basah oleh air sisa pemadaman, ada keheningan singkat seperti jeda napas setelah berlari panjang.

Di sana, H. Ida berdiri. Tubuhnya mungkin terlihat tegar, tapi sorot matanya memikul berat yang sulit diukur. Di balik wajah itu ada cerita tentang warung kecil yang menjadi penghidupan, tentang dua sepeda motor yang terbakar, tentang uang tunai dua ratus juta rupiah yang lenyap dalam kilatan api, tentang dokumen tanah dan kendaraan yang kini tinggal abu.

Namun di bawah tenda merah itu, ia tahu satu hal yaitu hidupnya belum jatuh seluruhnya.

Pukul 11.48 WIB, barisan warga dan petugas berkumpul. Memperlihatkan begitu banyak wajah: Doni, SH, Kepala Desa Penyampak, berdiri di baris depan; Serka Wahyudi, Babinsa Tempilang, menatap ke arah kamera; Megi Putra dari BPBD ikut hadir dan di kiri-kanan mereka, anggota Tagana Bangka Barat serta Tagana Tempilang memegang paket bantuan.

Mereka tidak hanya membawa barang, mereka membawa bentuk nyata dari kepedulian.

Bantuan yang menyeruak dalam foto berasal dari berita acara resmi Nomor 818/STB/DINSOSPMD/2025, yang memuat rincian 20 jenis logistik dengan nilai Rp 9.639.161, antara lain:

Makanan siap saji 2025

Lauk pauk siap saji

Family Kit 2024

Kasur gulung 2023

Selimut 2025

Paket sandang dewasa 2025

Tenda keluarga portable ukuran besar

Di beberapa kotak tertulis “Kemensos RI”, di beberapa tas merah tertulis “Tagana”. Semua itu tidak serta-merta menggantikan rumah yang hilang, tetapi menjadi alas supaya keluarga ini tidak terjatuh terlalu dalam.

Di tengah kerumunan, H. Ida duduk bersimpuh di tanah. Di hadapannya, sebuah kotak bantuan terbuka. Di balik senyum kecil yang tampak, ada gurat lelah yang tidak bisa disembunyikan. Tetapi senyum itu tetap hadir mungkin karena ia merasakan bahwa ia tidak sendiri, bahwa desanya tidak membiarkannya tenggelam dalam abu.

Dokumen berita acara yang ditandatangani oleh Achmad Nursyandi, S.Far., Apt., MPH, Kepala Dinas Sosial PMD Bangka Barat, menunjukkan bahwa penanganan ini bukan sekadar rutinitas birokrasi. Ia adalah respon yang terukur, mendesak dan manusiawi.

Ada jejak keseriusan dalam setiap daftar item. Ada niat dari pemerintah untuk memastikan bahwa keluarga ini setidaknya dapat bertahan beberapa hari ke depan tanpa harus memikirkan di mana mereka tidur, apa yang akan mereka makan, atau bagaimana mereka berteduh dari hujan malam.

Para petugas tidak hanya menyerahkan barang. Mereka berdialog, mereka menepuk pundak korban, mereka membantu mengangkat kotak, mereka memastikan tenda benar-benar layak dihuni.

Di desa kecil seperti Tanjung Niur, kehadiran semacam ini terasa lebih besar daripada sekadar bantuan sosial, ia adalah tanda bahwa negara tidak hanya hadir di kantor, tetapi juga di jalan-jalan kecil berdebu yang namanya jarang masuk televisi.

Kebakaran itu menghancurkan segalanya dalam hitungan menit, tetapi pemulihan tidak dilakukan dalam hitungan menit. Ia adalah perjalanan panjang, yang kadang dimulai dari hal yang sangat kecil yaitu tenda merah, selimut baru, kasur gulung, dan makanan siap saji.

Dalam setiap bencana, yang datang pertama bukanlah alat berat, bukan kebijakan, bukan investigasi penyebab api tetapi manusia. Hari itu, Rabu itu, yang datang adalah manusia-manusia berseragam biru, hitam, hijau, dan merah, yang berdiri bersama seorang bapak 58 tahun yang sedang mencoba mengumpulkan kembali potongan hidupnya.

Di bawah tenda merah, keluarga H. Ida (58) kini belajar tidur lagi di tempat yang bukan rumah, tapi juga bukan kesunyian. Ada tetangga yang datang membawa air, ada Tagana yang datang memeriksa kelayakan tenda, ada aparat desa yang kembali memastikan kebutuhan terpenuhi.

Dan di titik itu, kita tahu bahwa tragedi tidak hanya tentang apa yang hilang tetapi juga tentang apa yang masih bertahan tentang rasa saling tolong, kelekatan kampung, dan keyakinan bahwa manusia tidak diciptakan untuk berjalan sendirian.

Itulah yang terjadi di Tanjung Niur yaitu di antara abu dan air mata, pemerintah dan warga datang bukan hanya membawa bantuan, tetapi membawa cahaya kecil untuk memastikan hidup H. Ida dan keluarganya tidak padam bersama api.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *