DOSEN KILLER MEMBUNUH HIDUPKU

Bagian 2

Penulis : Agus Bahtiar Kurniawan

 

Hari berganti, Senin demi Senin terlewati dengan lebih indah dan nyaman di kelas Bahasa Inggris. Rupanya ada hikmahnya juga aku bisa dekat dan lebih kenal dengan Bu Dosen Killer. Aku merasa kami semakin dekat dan akrab baik di kampus maupun komunikasi melalui SMS di luar kampus. Bahkan tak jarang aku dan Bu Dosen Killer bertemu untuk sekedar ngobrol di kafe atau makan malam di lesehan Malioboro. Entah kenapa setiap berdua dengan Bu Dosen Killer, aku merasa nyaman dan merasa menjadi laki-laki sejati. Ternyata Bu Dosen Killer sangat berbeda saat di kampus dan di luar kampus. Di luar dia sosok wanita yang lembut, manja, bahkan mesra saat mengobrol. Tak jarang anganku melayang saat berduaan. Usiaku terpaut jauh dibawahnya. Aku 22 tahun, Bu Dosen Killer tepat berumur 39 tahun awal bulan Juli nanti. Mungkinkah ?

Liburan Semester tahun ini terasa berjalan lambat. Aku pulang ke Kulon Progo. Bu Dosen Killer Mudik Ke Samarinda tempat kelahirannya.Sesekali di waktu senggang Bu Dosen Killer mengirim pesan SMS untuk sekedar menanyakan kabarku, kabar orang tua dan adikku. Hingga pada akhir Juli komunikasi kami terputus. Nomer HP Bu Dosen Killer tidak bisa di hubungi dan saat ku kirim SMS tidak terkirim.

Minggu sore pukul 15.45 pekan ke 4 bulan Juli, HP Siemens C35 ku menerima telepon dari nomer yang tak di kenal. Dengan ragu dan bertanya-tanya kuterima panggilan masuk dari nomer asing itu.

“Hallo…maaf ini siapa? Sapaku membuka pembicaraan.

Beberapa saat penelpon itu diam tak menyahut sapaku.

“Hallo Gus…, Apa kabar?” terdengar suara yang tak asing bagiku. Ya…ini suara Bu Dosen Killer yang beberapa waktu ini diam-diam kurindu dan menggangu perasaanku hingga menjadikan resah berbalut gelisah karena tiba-tiba terpisah.

“Baik Bu, Apa Kabar Bu? Lama sekali tak berkabar dan berkirim pesan. Saya kangen Bu . Ups…maaf saya keceplosan” Kata-kata ini begitu saja deras mengalir seakan tak terkendali. Mungkin karena aku benar-benar merindukannya.

“Hmmm….kangen ya? Hehe…” ejek Bu Dosen Killer semakin memancing rinduku.

“Ketemu yuk Gus, di Alun-alun Kidul, kamu di mana sekarang? Sambung Bu Dosen Killer penuh semangat.

“Saya di rumah Kulon Progo Bu, rencana sore ini memang mau balik ke Jogja bersih-bersih kosan.” Kataku tak kalah antusias.

“Oh ya? Okelah kalau gitu kita ketemu jam 8 ya di tempat terakhir kita ngobrol. Maaf ya Gus HP ku kemungkinan jatuh dan hilang saat mengantar ibu berbelanja di pasar. Jadinya ilang deh semua kontak.” Kata Bu Dosen Killer menceritakan kronologi hilangnya HP.

“Oke Bu, sampai ketemu ya Bu nanti malam” jawabku penuh harapan baru.

“Oke Gus..da da..” kata Bu Dosen Killer sambil mengakhiri telponnya.

Bergegas aku melipat baju dan celana kumasukkan kedalam tas gendong. Kuambil helm jadulku dan kupakai lalu secepat kilat menuju ruang tengah untuk berpamitan kepada Bapak dan Ibuku. Kulihat Adik perempuanku sedang bernanja-manja dengan ibu.

“Pak, Bu, Agus ke kostan dulu ya” Kataku sambil ku raih dan ku cium tangan Ibu dan Bapakku bergantian.

Kedua orang tuaku terheran-heran karena mendadak tiba-tiba aku berpamitan kembali ke kos.

‘’Tumben Gus, buru-buru amat? Libur kan masih 2 minggu, biasanya kamu paling betah dirumah dan bahkan nambah liburnya, hehehe“. Kata Ibuku sambil mentertawakan keanehanku.

Ada acara MAPALA Pak, Bu, jadi Agus harus segera ke kampus. Agus kan ketuanya, heheh” jawabku menutupi kebohongan dan berusaha meyakinkan bahwa anak laki-laki satu-satunya ini baik-baik saja, masih normal tanpa kurang suatu apapun. Bahkan sangat normal.

“Ya sudah, hati-hati nak. Ojo ngebut-ngebut, alon-alon sing penting slamet.” Nasihat Bapakku dalam bahasa Jawa.

“Nggih Pak, Bu. Aman”. Jawabku sembari berusaha sekali lagi meyakinkan mereka.

Tak Lupa aku menghampiri adik perempuanku satu -satunya. Sambil menjitak kepalanya aku bilang “Mas sekolah dulu ya!” pletakkk.. begitu caraku menggoda adikku. Biasanya dia menangis. Dan disitulah aku merasa puas dan bisa pergi dengan tenang. Maklumlah dalam hati kecilku ini ada rasa iri, karena adikku sangat di manja dan menjadi anak kesayangan Bapak Ibuku. (BERSAMBUNG)

Exit mobile version