DOSEN KILLER MEMBUNUH HIDUPKU

Bagian 3

Penulis : Agus Bahtiar Kurniawan

 

Jam 16.30 kumulai perjalanan menuju kota tercinta, kota harapan yang menyimpan beribu makna. Jogjakarta. Ada rasa dan asa menyelinap masuk tanpa izin kedalam hatiku. Jalan serasa panjang dan waktu seakan berjalan tersendat. Mungkinkah ini karena rindu? Entahlah aku tak tahu. Yang pasti kuingin malam nanti akan kembali menikmati kebersamaan berdua dengan Bu Dosen Killer pujaan hatiku.

Sandyakala menyapa saat diriku memasukii gerbang kota. Matahari terperosok masuk di ufuk barat. Lampu-lampu kota berlomba menarik simpati para pengguna jalan. Berkedip-kedip, genit dan menjanjikan kesejukan jiwa. ”Oh…Jogjakarta..I’m coming” gumamku menikmati syahdunya senja saat itu.

Sampai di kos aku tanggalkan helem, jaket, sepatu dan jam tanganku, aroma keringat bercampur debu jalanan menjadi hidangan pembuka bagi para nyamuk yang ada di kos. Para penghuni kos yang lain belum ada yang kembali ke kos, mereka masih berlibur di kampung halaman sampai liburan usai. Aku pun semestinya begitu, tapi karena ada acara yang spesial aku harus di sini untuk bertemu Bu Dosen Killer alias singa betina yang kini bagiku adalah kucing anggora yang cantik; menarik dan manja.

Jam 19.00 aku mengirim SMS pada Bu Dosen Killer dengan HP Siemens C35 yang sering drop batrenya itu. “ Malam Bu, jam 8 malam ini jadi ketemu???

Beberapa menit lamanya aku menunggu balasan dari Bu Dosen Killer. Ada rasa berdebar dan penasaran dalam hati. “ lama seakali menunggu. Sesekali aku melirik jam tangan, lain waktu aku melihat layar Hp. Begitu seterusnya. Bergantian…lama sekali…terasa.

Tii tat tit tut tit tat tit….nada monofonik dering disertai getar dari HP Siemens C 35 membuat aku mendadak sigap meraih dan menekan tombol terima.

“Hallo Bu, jadi kan kita ketemu? “Tanyalu tak berbasa-basi lagi’

“ Hehehe…sabar Gus, dasar anak-anak..” seloroh Bu Dosen Killer setengah menggoda. .

“Ini aku sedang siap-siap, oh iya, kita ketemu di tempat biasa ya Gus, lesehan yang jual bajigurnya itu lho…” Lanjutnya.

“ Oke Bu Dosenku yang galak dan judes tapi ngangenin hehehe….” jawabku sambil membayangkan wajahnya yang kemerahan tersipu-sipu.

“ Dasar gombal perayu wanita kamu Gus” kata Bu Dosen Killer dengan suaranya khas manja wanita dewasa. Anganku pun kembali melayang sejenak. Buru-buru kusadarkan diri agar tak tambah melayang dan makin merusak plafon kosku yang sebagian sudah mengggembung ke bawah.

Srrrreetttt….srrrrrreettt…srreeeeeeeeeettttttttt………. sreeeeeetttt kusemprotkan minyak wangi Gatsby Splash Cologne warna biru harga pelajar. Kali ini lebih banyak dari biasanya, dan menyeleruh sampai selangkangan dan ujung-ujung celana.

Setelah mematikan lampu kamar dan mengunci pintu kos, ku bergegas menghampiri motor tua kesayangan dan menstarter penuh semangat. Satu, dua, tiga, empat, lima kali belum menyala. Kucoba lagi. Sampai berkali-kali. “Ah sial…!” Pikirku.

Keringat mulai mengucur. Panik dan stres jadi satu.” Tidak biasanya begini, bajigur!” umpatku. Kubuka penutup tangki motor, dan kuintip isinya. Ya ampuunnn….kering kerontang seperti padang pasir. Tak ada isinya. Benar-benar menyebalkan!

Ku dorong motor tuaku sampai ke kios bensin eceran milik Bude Tatik. Setelah mengisi bensin dan sedikit berbasa-basi ku stater lagi si motor tua. Akhirnya setelah 8 kali menggenjot pedal stater kaki, motor menyala dengan suara berisiknya. Jam tanganku menunjuk waktu 19.45.

Gawaaaatt….bisa terlambat ini. Biasanya aku selalu tepat waktu. Bahkan selalu datang 30 menit lebih awal dari kesepakatan. Maklumlah aku memang sangat bersemangat setiap ketemu dengan Bu Dosen Killer ku yang judes dan cantik.

Sepeda motorku serasa kurang tenaga, lampu merah bagiku adalah musuh di jalan saat itu. Lambat dan sangat pelan lajunya.

Akhirya satu tikungan lagi harus terlewati untuk sampai di Alun-alun Kidul. Saat itu jam 20.12 atau terlambat 12 menit saat aku berhenti di parkiran lesehan langganan kami. 12 menit menjadi kesalahan besar bagiku. “Duh…terlambat!” gerutuku.

Kumelihat sekeliling. “Kok gak ada mobil Katana Biru” pikirku.

Satu-satunya mobil yang terparkir hanya satu. Sedan BMW hitam berplat nomor KT 4444 IK. Plat luar Jawa. Bu Dosen Killer mungkin sudah ganti mobil. Sambil berjalan menuju lesehan aku menelponnya.

“Haii Gus, aku di sini, sebelah kirimu!” sahut Bu Dosen Killer terdengar di Hp ku.

Aku menoleh kekiri kearah bawah pohon beringin tua. Terlihat dikeremangan sebuah tangan melambai-lambai lembut kerahku. Rupanya Bu Dosen Killer sudah menungguku. Tapi ada yang lain kali ini.

Tampak sesosok pria berkepala botak dengan perut buncit bundar duduk disamping Bu Dosen Killer.

“Siapakah dia? “ tanyaku dalam hati penuh rasa penasaran. Sambil berjalan menuju ke arah mereka, pikiranku berkecamuk seperti puncak perang dunia ke 2. Mungkin itu bapaknya. Atau paling tidak Om nya dari Samarinda. Entahlah…

“Malam Bu, Malam Om” Sambil kuulurkan tangan, ku menyapa mereka berdua dan mengulurkan tanganku.

“Malam Gus, Apa Kabar?” sahut Bu Dosen Killer menyambut jabat tanganku. Menyusul Om Botak perut buncit bundar menyalamiku.

“Tanganmu dingin sekali Gus” Bu Doden Killer membuka obrolan.

“Eh…anu… iya Bu, tadi saya cuci tangan diparkiran.” Kataku setengah berbohong menutupi kegugupanku. Entah mengapa aku sangat gugup kali ini. Apalagi saat Om Botak perut buncit bundar menatapku, seakan ingin mengorek rahasia dimataku. Sangat tidak nyaman rasanya.

“Oh Iya Gus, kenalkan ini Om Edi. Dulu beliau kakak kelasku saat masih SMA di Kota Samarinda”. jelas Bu Dosen Killer mencoba mengurai kekakuan dan kerisauan hatiku saat itu.

“Om Edi ini Dekan di UII Gus, sudah 15 tahun lebih tinggal di Jogja” sambung Bu Dosen Killer lagi.

“Bang Edi, ini Agus, Mahasiswa yang sering ku ceritakan itu lho…” lanjut Bu Dosen Killer memperkenalkanku pada Om botak perut buncit bundar.

Om Botak perut buncit budar mengannguk-angguk sambil tersenyum tipis penuh arti. Ku balas dengan senyuman juga, walaupun mungkin tidak tulus.

“Mau pesan apa Gus?” tanya Bu Dosen Killer sambil menepuk lutut kananku dan seakan meredakan kecemasan dan rasa penasaranku,

“Eh.. pesen anunya Ibu, eh maksud saya Bajigur “ Jawabku sambil mencoba mengendalikan diri.

Setelah ngobrol kesana kesini akhirnya suasana menjadi sedikit mengalir seiring derasnya peluhku saat itu.

Jam 21.05 saat itu. Kurang dari 1 jam, tapi tak seperti biasanya waktu berajalan begitu lambat. Mungkin karena aku merasa canggung dan tidak nyaman mrengobrol bertiga. Apalagi dengan orang-orang yang umurnya jauh lebih tua. Mungkin setara seperti ujian skripsi. Tegang, kaku dan cemas.

“Begini Gus, “ suara lembut Bu Dosen Killer tiba-tiba memecah sunyi, setelah sesaat kami kehabisan bahan obrolan.

“Sengaja aku menemuimu malam ini, sekalian mengabarkan padamu, karena Ibu anggap kamu orang terdekatku disini. Kalau tak ada aral melintang. tanggal 3 Agustus nanti, aku dan Om Edi akan melangsungkan pernikahan di Samarinda” lanjut Bu Dosen killer.

Kata-katanya terangkai indah mengalir dari bibir tipis merah alami yang menawan. Namun suara merdunya itu seperti ledakan bom di Herosima bagiku. Serasa tersambar bom atom! Sesaat mataku gelap, jantung berhenti berpacu. Otot-otot seluruh tubuh lumer……seakan dicabut satu persatu. Lemas, lunglai, panas dan dingin menjadi satu.

Mungkin menyadari aku sangat terpukul, Bu Dosen Killer mencoba menghibur dengan senyum manisnya sembari berkata “ Doakan kami bahagia ya Gus, aku berharap kamu sukses dan menjadi lulusan terbaik nantinya. Doaku mengalir selalu untukmu.”

Kalimat yang lirih, tapi begitu keras menghantam jiwa dan ragaku. Entah jawaban apa yang akan keluar dari mulutku. Mati rasa. Mati gaya.

Setelah beberapa saat terdiam dan berusaha tegar, mulutku mencoba berucap dengan sedikit bergetar

”Semoga Ibu dan Om Edi bahagia di dunia dan akhirat ya… Agus mohon maaf tak bisa menghadiri pernikahan Ibu dan Om Edi, terimakasih atas kebaikan dan perhatian Ibu selama ini, sejak mengenal Ibu, Agus jadi lebih semangat kuliah”

Kalimat ini terucap dan mengalir begitu saja. Pilu dan dalam sekali bagiku,

Sambil berkaca-kaca Bu Dosen Killer meraih tanganku, menjabat dan menggenggamnya dengan erat.

Tanganku ini terasa dingin, kaku dan beku. Berlipat-lipat dinginnya dibanding ketika aku datang tadi. Perasaanku hampa. Seperti rumah besar yang tiba-tiba ditinggalkan penghuninya.

Kutarik nafas dalam dan berusaha untuk menghimpun kekuatan, walau hanya sekedar untuk bangkit dari tempatku duduk lesehan.

Aku bangkit dan menyalami keduanya sambil berpamitan disertai perasaan hancur luluh “ Saya pulang dulu Bu, Om, sekali lagi selamat ya…”

“Iya Gus, hati-hati dijalan. Salam untuk Bapak, Ibu dan Adikmu ya” Bu Dosen Killer sekali lagi menggenggam tangan dan perlahan melepaskannya. Kulihat ada beberapa buliran bening menitik beriringan dari sudut mata membasahi pipi halus mulusnya.

‘Ya Bu, terimakasih” Aku membalikkan badan. Semua kata-katanya sudah tak penting lagi bagiku. Sambil mencoba berjalan tegak walaupun tubuh dan jiwa ini gontai, aku menuju parkiran motor. Dalam diriku sudah berjanji tak akan pernah menoleh ke belakang. Aku sangat kecewa. Ternyata selama ini aku tak ubahnya hanya seperti lelaki penghibur bagi Bu Dosen Killer.

Motor tua menyambutku sedih. Ku duduk sebentar menenangkan diri diatas pangkuannya. Sesaat kemudian kucoba menghidupkan mesinnya, Sekali engkol saja langsung hidup. Rupanya motor tuaku mengerti perasaanku saat itu. Dia tak mau menambah kesedihanku. Gila..rasanya seperti sudah gila.

Gerimis menyapu lembut kedua tangan saat mulai kupacu motorku dan kutambah kecepatan. Secepat-cepatnya aku ingin lari dari perasaan ini. Aku ingin menolak kenyataan malam ini. Bu Dosen Killler akan menikah tanggal 3 Agustus. Tepat di hari Ulang Tahunku yang ke 23. Terimakasih Bu Dosen Killer atas hadiahnya! Anda berhasil membunuhku!. Dan masih banyak lagi sumpah serapah lain yang mengantri bergumpal-gumpal dijiwaku.

Alun-alun Kidul, Alun-alun Lor, Perempatan Kantor Pos, Jalan KH. A. Dahlan menjadi saksi kegundahanku malam itu. Sepuluh meter sebelum lampu merah perempatan Serangan lampu lalu lintas berwarna kuning. Kutambah kecepatan agar tak perlu lagi berhenti karena lampu warna merah yang akan menyala. Jalanan menurun memunculkan jiwa pembalapku yang tiba-tiba hadir. Sampai menjelang jembatan Kali Winongo, sepintas terlihat sesosok manusia yang tiba-tiba menyeberang dari sisi kiri jembatan. Dan ciiiitttttt….. Braaakkkkkk ! Aku sudah tak bisa lagi menghentikan laju motorku. Aspal basah sangat mendukung dan menambah licin permukaan jalan. Tubuhku terpelanting dari jok motor, dan melayang terperosok masuk ke sungai Winongo. Dan…. Gelap.

Kubuka mata ini perlahan. Sebisa mungkin ku buka, agar aku tahu di alam mana aku berada saat itu. Samar tertangkap warna hijau masuk ke retinaku.. Semakin lama tampak kian jelas. Kuberada disebuah ruangan yang berisi alat-alat elektronik dan dipenuhi bunyi-bunyian khas ruang ICU.

Tiba-tiba tangan lembut menyentuhku dari arah kiri tempatku terbaring. “Gus…kamu sudah siuman? Alhamdulillah Ya Allah…”.

Aku hanya terdiam dan tak ingat apapun dan tak kenal siapapun . Aku Amnesia.

Toboali 2 Februari 2025. (Habis)

Exit mobile version