Puisi  

Dua Jiwa di Bawah Naungan Pohon

Karya In Action

Di bawah naungan pohon, rindang memayungi,

Dua jiwa bertemu, cinta mulai bersemi.

Satu sepeda mengayuh, irama kasih tercipta,

Dalam dekapan pagi, hati kita menyatu mesra.

 

Mentari pagi menyapa, sinarnya lembut membelai,

Wajahmu berseri, bagai bidadari dari kahyangan.

Setiap kayuhan adalah janji, setiap putaran adalah doa,

Untuk cinta abadi, yang takkan pernah pudar warnanya.

 

Angin sepoi berbisik, membawa harum bunga,

Mengiringi langkah kita, dalam perjalanan cinta.

Di antara dedaunan hijau, terukir nama kita,

Simbol kasih suci, yang takkan pernah sirna.

 

Pohon rindang menjadi saksi, bisu namun setia,

Menyimpan rahasia cinta, yang kita jaga bersama.

Dua jiwa, satu sepeda, satu impian,

Menjelajahi dunia, dalam pelukan kasih sayang.

 

Di setiap putaran roda, terjalin janji suci,

Untuk saling mencintai, hingga akhir nanti.

Pagi ini, cinta kita semakin membara,

Menghangatkan jiwa, menerangi kalbu yang lara.

 

Di bawah rindang pohon, kita berdua berdampingan,

Menikmati keindahan pagi, dalam keheningan.

Sepeda menjadi saksi bisu, cinta kita yang abadi,

Dalam setiap kayuhan, ada janji yang terpatri.

 

Dua jiwa, satu sepeda, puisi pagi yang syahdu,

Di bawah naungan pohon, cinta kita bersatu padu.

Kita berdua, dalam harmoni yang sempurna,

Menjelajahi hidup, dengan cinta yang membara.

 

Pagi ini, di bawah pohon rindang yang teduh,

Cinta kita bersemi, takkan pernah layu.

Dua jiwa, satu sepeda, impian terukir indah,

Menuju masa depan, dengan cinta yang tak pernah berubah.

Exit mobile version