Puisi  

Kopi tanpa gula pahit, Hati tanpa Allah Sempit

Karya Yanto In Action  

 

Gelas kecil di meja kayu tua,

Kopi hitam mengalir hangat lewat.

Tanpa gula rasanya menusuk lidah,

Seperti hati kosong tak punya arah.

 

Uapnya melayang perlahan ke udara,

Mengingatkan pada jejak yang tersembunyi.

Rasa pahit yang meresap di lidah,

Bayangan kerinduan pada Sang Pencipta yang mulia.

 

Jari mengelus permukaan gelas dingin,

Pikiran terombang-ambing tanpa pijakan.

Kopi pahit bisa ditahan sebentar,

Hati tanpa Tuhan benar-benar sempit ruangannya.

 

Sinari matahari pagi yang lembut,

Menari di atas permukaan cairan pekat.

Tanpa gula rasa tak pernah manis,

Tanpa Allah hati tak pernah damai sejahtera.

 

Tangan mengangkat gelas perlahan ke bibir,

Rasa pahit menyebar sepanjang tubuh.

Hati yang keriput mencari pelarian,

Hanya pada-Nya bisa menemukan kedamaian.

 

Kopi habis, gelas kosong berdiri diam,

Pikiran mulai jernih melihat jalan.

Pahitnya kopi jadi pelajaran hidup,

Sempitnya hati hilang saat cinta pada-Nya tumbuh.

 

Angin pagi menyapu wajah dengan lembut,

Hati kini terbuka lebar seperti laut.

Tak perlu gula untuk rasa manis,

Dengan Allah hati selalu penuh kasih.

 

Gelas kosong kini bersih dan terawat,

Hati kini penuh dengan cahaya-Nya.

Kopi pahit jadi renungan dalam,

Hati dengan Allah selalu luas dan damai.

Rias, 30 Maret 2026

Exit mobile version