Duta Genre Bangka Barat 2026: Menanam Mimpi, Mencegah Pernikahan Dini

Penulis: Belva Al Akhab dan Satrio

Bekaespedia.com, Mentok,+Di aula Gedung Batu Rakit Pemkab Bangka Barat, suara tawa remaja bersahutan dengan gemuruh mimpi yang baru ditanam. Seleksi Duta Genre Bangka Barat 2026 berlangsung bukan hanya sebagai lomba, tetapi sebagai ritual kecil peradaban tempat negara hadir lewat tangan seorang kepala dinas yang percaya pada masa depan anak-anaknya.

Nama itu, Sarbudiono, S.Pd.

Kepala DP3AP2KB Bangka Barat yang dalam beberapa tahun terakhir dikenal sebagai pembina generasi muda di Bangka Barat. Di tengah kekhawatiran tentang pernikahan dini, putus sekolah, dan pergaulan bebas, ia memilih bekerja pelan, membangun kesadaran dari sekolah ke sekolah.

“Alhamdulillah, kegiatan Genre ini untuk menampung aspirasi generasi muda. Kegiatan yang bermanfaat dan dilaksanakan secara nasional,” katanya, merujuk pada program Generasi Berencana dari BKKBN.

Namun di balik kalimat resmi itu, ada kegelisahan yang tak tertulis yaitu bagaimana menjaga anak-anak desa agar tidak kehilangan masa depan.

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa pernikahan usia anak masih terjadi di berbagai wilayah Indonesia. Sementara laporan UNICEF menegaskan bahwa dukungan komunitas dan edukasi sebaya mampu menekan risiko putus sekolah dan pernikahan dini.

Di Bangka Barat, Sarbudiono menjadikan Duta Genre sebagai jawaban lokal atas persoalan global itu.

“Lewat Genre, mereka jadi corong kita. Jangan sampai ada anak putus sekolah. Carilah ilmu setinggi-tingginya. Pemerintah membuka peluang seperti beasiswa,” ujarnya.

Kalimat itu bukan sekadar motivasi. Ia adalah strategi pembangunan manusia dimulai dari kesadaran remaja.

Program Genre lahir dari kebijakan nasional keluarga berencana, tetapi di tangan Sarbudiono, ia menjadi gerakan sosial berbasis sekolah.

Para finalis dilatih berbicara di depan publik, berdiskusi tentang kesehatan reproduksi, menolak pernikahan dini, hingga menjadi mentor sebaya.

“Mereka membawa dampak positif untuk membangun generasi muda ke depan,” kata Sarbudiono.

Pesan ini sejalan dengan semangat Undang‑Undang Perkawinan No.16 Tahun 2019 yang menaikkan batas usia pernikahan demi melindungi kesehatan dan pendidikan remaja.

Namun Sarbudiono tidak menghakimi mereka yang sudah terlanjur menikah muda.

“Jangan putus asa. Bangun keluarga dengan baik. Rencanakan keturunan dengan kondisi ekonomi dan kesehatan yang siap,” pesannya.

Di sana, kepemimpinan Sarbudiono terlihat tegas pada prinsip, lembut pada manusia.

Seusai seleksi, Sarbudiono terlihat duduk bersama peserta dari sekolah desa pesisir. Ia menanyakan cita-cita mereka yaitu guru, bidan, polisi, bahkan penulis.

Ia mendengarkan, tertawa, memberi semangat.

Bagi remaja itu, Sarbudiono bukan pejabat. Ia seperti guru yang datang dari masa depan.

“Mari generasi muda menatap masa depan dengan baik. Tantangan bukan untuk mematahkan semangat, tapi pemacu untuk berbuat lebih baik,” katanya.

Di tengah ruang yang sederhana, kalimat itu terasa seperti janji.

Di era pejabat berlomba membangun citra lewat baliho, Sarbudiono memilih ruang kelas dan aula sekolah. Ia membangun kebijakan dari kerja mendampingi remaja, berbicara tentang keluarga dan menyalakan kesadaran sosial.

Dalam literatur pembangunan sosial seperti buku Pembangunan Berbasis Keluarga disebutkan bahwa keberhasilan pembangunan daerah ditentukan oleh kualitas keluarga dan pendidikan remaja.

Sarbudiono menjadikan gagasan itu nyata di Bangka Barat.

Seleksi Duta Genre bukan sekadar agenda tahunan. Ia menjadi simbol kepemimpinan yang berpihak pada generasi.

Di luar aula, kehidupan berjalan seperti biasa. Tambang, laut dan pasar tetap ramai. Namun di dalam aula itu, Bangka Barat sedang menulis masa depan.

Remaja-remaja itu pulang membawa mimpi baru yaitu kuliah, bekerja dan membangun keluarga sehat.

Di tengah mereka berdiri Sarbudiono, bukan sebagai pemenang lomba tetapi sebagai pembina generasi.

Seleksi Duta Genre Bangka Barat 2026 akhirnya menjadi lebih dari kompetisi. Ia menjelma menjadi simbol propaganda positif pembangunan manusia Bangka Barat bahwa pembangunan daerah dimulai dari remaja yang sadar masa depan.

Dari Gedung Batu Rakit, Sarbudiono menyalakan lentera kecil.

Mungkin, dari lentera itulah masa depan Bangka Barat akan diterangi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *