Oleh: Satrio, Belva dan Tim
Bekaespedia.com, Muntok, Bangka Barat, – Kami ingin membangun desa wisata seperti membangun perusahaan tetapi perusahaannya milik masyarakat. Hasilnya kembali ke mereka. Pekikan kalimat itu mengandung optimisme dan tanggung jawab besar bahwa pembangunan desa wisata bukan proyek sesaat, melainkan upaya kolektif demi masa depan masyarakat lokal.
Visi itu kini perlahan direalisasikan. Dari Tempilang hingga Kelapa, dari Jebus hingga Parittiga, desa-desa di Bangka Barat mulai menenun jaringan ekonomi baru, berakar dari gotong royong warga, dialiri semangat swadaya dan pendampingan dinas.
Menurut Fachriansyah, dari total 60 desa di kabupaten ini, baru 14 yang resmi ditetapkan sebagai desa wisata hingga 2024. “Tiga belas di antaranya ditetapkan tahun 2022, satu lainnya, Desa Rambat, pada 2024,” katanya saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (10/12/2025).
Namun angka semata bukan tujuan akhir yang lebih penting, menurut dia, adalah semangat tumbuh secara alami dari masyarakat.
“Kami sangat menghimbau agar desa wisata tumbuh dari hati. Bila gerak masyarakat karena sukarela, hasilnya akan lebih lestari.” tambahnya.
Bagi Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, desa wisata bukan sekadar destinasi, ia adalah roda ekonomi mikro, panggung budaya, dan pangkal harapan. Dari homestay sederhana, warung kecil, hingga oleh-oleh lokal semuanya adalah bagian dari proses pemberdayaan dan kebangkitan ekonomi pedesaan.
“Kalau ada wisata, ada akses, ada sarana-prasarana, maka potensi ekonomi akan bergerak seperti warung, oleh-oleh, homestay maka semua punya peluang.” jelas Fachriansyah dengan nada penuh keyakinan.
Di Desa Air Lintang, Kecamatan Tempilang, Pantai Pasir Kuning tak lagi sepi. Anak muda kampung kini membangun gazebo bambu, menata area parkir, dan membuka warung sederhana.
“Dulu sepi. Sekarang tiap akhir pekan ramai,” kata salah satu anggota Pokdarwis setempat. Dia mengenang bagaimana dinas tidak hanya datang, tetapi benar-benar mendampingi dari awal.
Sementara di Desa Pelangas, Kecamatan Simpang Teritip, kawasan yang mengarah ke geopark. Ibu-ibu menjemur dan mengemas keripik talas hasil bumi. “Dulu sehari laku 10 bungkus. Sekarang bisa 50. Tim dinas ajarkan cara kemasan dan promosi,” ujar pelaku UMKM lokal, Yuniarti.
Transformasi kecil ini melambangkan betapa pariwisata bisa membuka ruang ekonomi baru, terutama bagi perempuan pedesaan.
Fachriansyah menegaskan bahwa keberhasilan program ini bergantung pada manusia bukan hanya objek wisata. Untuk itu, dinas membangun kapasitas melalui pelatihan manajemen homestay, pemasaran wisata, hingga pemasaran digital. Ia menyebut, “Sekarang semua serba digital. Pokdarwis harus bisa bersaing.” tegasnya.
Pelatihan bersumber dari dana alokasi kementerian, menegaskan bahwa pemerintah mendukung penuh transformasi ini.
Tak hanya itu pembangunan fisik pun penting. “Tiga A” menjadi prinsip dasar: Atraksi, Amenitas, dan Aksesibilitas. Kalau jalan menuju pantai rusak, maka wisatawan bisa mundur meski pantainya indah. Oleh karena itu, kolaborasi lintas dinas menjadi kunci: infrastruktur jalan, transportasi, kebersihan lingkungan, semuanya harus selaras.
Saat ditanya indikator sukses, Fachriansyah menjawab dengan sederhana, namun penuh makna bukan jumlah wisatawan, melainkan pergerakan ekonomi warga.
“Kalau orang datang, makan di warung warga, menginap di homestay, beli oleh-oleh itu artinya ekonomi bergerak. Kalau perekonomian masyarakat bergerak, berarti wisata berhasil.” jawabnya.
Di Desa Air Bulin, misalnya, banyak anak muda kini bangga tinggal di kampung menjadi pemandu wisata, fotografer, atau pelaku usaha kecil. “Sekarang kami tidak malu tinggal di kampung,” ungkap seorang pemuda setempat.
Di Desa Air Limau, budaya lokal menemui panggung baru seperti tarian, musik, dan cerita rakyat kini dipertunjukkan untuk wisatawan tidak hanya sebagai atraksi, tetapi sebagai identitas dan kebanggaan.
Bahkan di antara warga desa, nama Fachriansyah kini dikenal bukan sebagai birokrat melainkan sebagai “Bapak Pembina Desa Wisata Bangka Barat.” Ia jarang terlihat di konferensi kota, tapi sering terlihat di balai desa, di tengah warga, berdiskusi sambil mendengar langsung keluhan dan harapan.
“Desa wisata tidak bisa dibangun dengan surat keputusan semata. Harus dibangun dengan hati dan waktu,” katanya pelan sebuah refleksi bahwa perubahan butuh proses, bukan sekadar peresmian.
Ke depan, rencana Dinas memperkuat tiga pilar:
Penguatan SDM Pokdarwis melalui pelatihan digital, hospitality, manajemen atraksi.
Pengembangan atraksi berbasis konservasi alam dan budaya lokal.
Kolaborasi lintas sektor dengan perguruan tinggi, komunitas kreatif, dan dunia usaha untuk memastikan keberlanjutan sosial, ekonomi, budaya, dan lingkungan.
Dengan strategi ini, desa wisata di Bangka Barat bukan hanya sekadar destinasi rekreasi, tetapi mulai menjadi model ekonomi hijau, panggung kebudayaan hidup, dan rumah harapan bagi warga pedesaan.
Saat senja datang di Mentok, terdengar suara anak-anak berlari di pantai, suara tawa ibu-ibu menyiapkan kopi Bangka dan otak-otak hangat, aroma laut yang menyapa semuanya menyatu dalam satu kesatuan. Kehidupan desa yang dibangkitkan, bukan diambil.
“Kalau pariwisata membawa manfaat nyata bagi masyarakat, maka tugas kami sudah benar,” kata Fachriansyah menutup percakapan.
Desa wisata Bangka Barat tidak lagi sekadar proyek, tetapi telah menjadi gerakan rakyat gerakan untuk bangkit, tumbuh, dan bangga. Pariwisata sejati, menurut visinya, lahir dari hati, dijalani bersama, dan dinikmati bersama.












