Oleh: Rudiyanto, S.Pd.,Gr
Guru Pendidikan Agama Islam, Kabupaten Bangka Selatan
Dewasa kini, muncul fenomena bicara kotor di kalangan anak-anak muda bahkan peserta didik. Beberapa kata yang sering digunakan sebagai bahan umpatan di kalangan anak muda bahkan peserta didik yang masuk dalam kategori kata-kata yang kotor seperti kata anjir atau anjing, babi, monyet, bajingan dan lain sebagainya. Sebetulnya, kata-kata tersebut hanyalah nama-nama hewan, akan tetapi salah penempatan dalam penggunaannya. Nama-nama hewan tersebut digunakan sebagai umpatan atau ekspresi kekesalan, olok-olokan atau bahkan untuk memanggil nama seseorang. Hal ini tentu tidak dibenarkan dalam sudut pandang manapun. Justru kata-kata kotor dan kasar tersebut cenderung membuat seseorang tersinggung, kesal, menimbulkan permusuhan, saling mengejek hingga melanggar norma-norma yang berlaku.
Oleh karena itu, bagi stakeholder pendidikan khususnya dan masyarakat pada umumnya hendaknya tidak menormalisasikan fenomena bicara kotor tersebut pada kalangan peserta didik atau anak-anak muda. Dalam perspektif Islam, kita dianjurkan untuk dapat mengeluarkan kata-kata yang baik. Jika tidak dapat mengeluarkan kata-kata yang baik, umat muslim dianjurkan untuk diam. Fenomena bicara kotor pada kalangan anak-anak muda atau peserta didik hendaknya dapat dicegah dan disikapi dengan benar. Beberapa upaya yang dapat dilakukan oleh stakeholder pendidikan atau masyarakat untuk mencegah dan menangani fenomena bicara kotor tersebut antara lain adalah sebagai berikut:
1. Mengingatkan dan Memberikan Nasehat
Stakeholder pendidikan atau masyarakat hendaknya senantiasa mengingatkan dan memberikan nasehat kepada anak-anak muda maupu peserta didik yang melakukan bicara kotor. Kita semua tidak boleh apatis atau bahkan menormalisasikan fenomena bicara kotor tersebut. Sesama muslim dianjurkan untuk saling mengingatkan dalam kebaikan
2. Mendampingi Penggunaan Gadget
Kata-kata kotor yang diikuti oleh anak-anak muda dan peserta didik mayoritas berasal dari media sosial atau gadget. Oleh karena itu, dalam hal ini orang tua memiliki porsi terbesar dalam memberikan pendampingan dalam penggunaan media sosial atau gadget agar anak tersebut dapat tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang bijak bermedia sosial
3. Mendampingi Pergaulan Anak
Selain media sosial dan gadget, pengaruh selanjutnya yang dapat melahirkan fenomena bicara kotor adalah lingkungan pergaulan anak. Oleh karena itu, para orang tua hendaknya dapat mendampingi anak-anaknya dalam memilih teman dan lingkungan pergaulan untuk anaknya agar tidak terjerumus kepada lingkungan pergaulan yang bebas
4. Menanamkan Pendidikan Karakter Sejak Dini
Anak-anak hendaknya senantiasa ditanamkan pendidikan karakter sejak dini. Hal ini dapat dimulai dari lingkungan keluarga, lingkungan sekolah formal maupun non fornal, lingkungan masyarakat. Keluarga, sekolah maupun lingkungan masyarakat memiliki kewajiban untuk senantiasa menanamkan karakter kepada anak-anak misalnya melalui budaya disiplin positif, pembiasaan, kegiatan keagamaan dan lain sebagainya
5. Memberikan Keteladanan
Keluarga, warga sekolah dan lingkungan masyarakat hendaknya dapat menjadi suri tauladan bagi anak-anak muda dan paserta didik. Dengan demikian anak-anak tersebut akan terhindar dari fenomena bicara kotor dan perilaku tercela lainnya.












