Penulis: Ola Olviolita, Manisha Khoilara, Muhammad Izatan (Mahasiswa Universitas Bangka Belitung Program Studi Sosiologi)
Fenomena doom spending di kalangan Gen Z mencerminkan keterkaitan antara kecemasan dan perilaku konsumsi. Tekanan yang mereka hadapi sering kali mendorong perilaku belanja impulsif sebagai bentuk pelarian. Menurut survei yang dilakukan oleh Nielsen dan Conference Board Global Consumer Confidence Survey, Indonesia berada di peringkat keenam dari 106 negara dalam hal tingkat konsumsi masyarakat dunia pada tahun 2025. Posisi ini menempatkan Indonesia di belakang India, Filipina, Vietnam, Amerika Serikat, dan Arab Saudi dalam fenomena doom spending di kalangan Gen Z, yang dikenal sebagai perilaku konsumsi berlebihan.
Doom spending adalah fenomena kompleks yang mencerminkan reaksi terhadap kecemasan, yang dipengaruhi oleh media sosial, kondisi ekonomi, serta perilaku konsumtif sebagai respons terhadap stres dan ketidakpastian finansial di masa depan. Generasi Z sering kali merasa tertekan karena kesulitan mencapai tujuan keuangan pribadi mereka. Akibatnya, mereka cenderung menghabiskan uang untuk kesenangan jangka pendek, tanpa mempertimbangkan konsekuensi jangka panjang.
Salah satu karakteristik kehidupan yang berkaitan dengan fenomena doom spending adalah mentalitas “YOLO” (You Only Live Once). Banyak Gen Z yang berpegang pada prinsip ini, sehingga mereka cenderung mengejar kesenangan instan. Sebagian dari mereka beranggapan bahwa jika masa depan tampak tidak menentu, lebih baik menghabiskan uang untuk pengalaman dan barang yang memberikan kebahagiaan saat ini, tanpa memikirkan konsekuensi jangka panjang. (BP)*
