Fenomena #KaburAjaDulu : Ketika Generasi Z Memilih Pergi Untuk Masa Depan Yang Lebih Baik

Oleh: Robiahatul Adawiyah, Surindah Kraoudila, dan Julian Saimiko

(Jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Bangka Belitung)

Di era globalisasi sekarang, fenomena #KaburAjaDulu sudah menjadi suatu kebiasaan yang sering terjadi terutama pada anak muda generasi Z. Fenomena ini diikuti oleh generasi Z bukan hanya untuk sekadar tren, melainkan untuk mencari kehidupan yang lebih baik di luar negeri. Selain itu, keputusan ini mencerminkan realitas sosial dan ekonomi yang dihadapi anak muda saat ini, seperti ketidakpastian dalam mendapatkan pekerjaan, upah yang rendah dibandingkan dengan biaya hidup yang terus meningkat, dan ketidakadilan dalam lingkungan kerja.

Menurut hasil survei dari CNN Indonesia, terkait dengan fenomena #KaburAjaDulu, terdapat 41% generasi Z dari tahun kelahiran 1997 sampai dengan 2009 yang mempunyai keinginan untuk pindah ke luar negeri. Jika dibandingkan dengan generasi lainnya, seperti generasi X (26%) dan generasi milenial (32%), maka keinginan generasi Z untuk #KaburAjaDulu ke luar negeri lebih besar.

Fenomena ini terjadi karena ada beberapa faktor utama yang menjadi penyebab, yaitu lapangan pekerjaan yang terbatas. Jumlah lulusan baru setiap tahunnya terus meningkat, namun masih sedikit pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan mereka. Anak muda juga banyak yang mengalami kesulitan dalam mendapatkan pekerjaan yang layak. Hal ini disebabkan oleh persaingan yang ketat dan kurangnya peluang yang tersedia. Selain itu, biaya hidup yang tinggi dan gaji yang rendah menjadi alasan generasi Z memilih bekerja di luar negeri. Banyak negara, terutama di Eropa, Australia, dan beberapa negara Asia lainnya, menawarkan gaji yang jauh lebih tinggi dibandingkan di Indonesia. Sementara itu, biaya hidup di Indonesia yang semakin tinggi menyebabkan anak muda kesulitan untuk menabung dan mencapai stabilitas finansial.

Bukan hanya masalah ekonomi, masalah ketidakadilan sosial dan kesenjangan kesempatan juga dapat memperburuk keadaan. Anak muda merasa kerja keras saja tidak cukup untuk meraih kesuksesan, hal ini disebabkan oleh sistem kerja yang tidak transparan, nepotisme, dan disparitas gaji berdasarkan gender dan latar belakang. Semua ini menciptakan rasa tidak puas dan frustrasi terhadap sistem yang ada. Generasi Z juga tertarik untuk pindah ke luar negeri karena kualitas hidup yang lebih baik, seperti sistem kesehatan yang memadai, transportasi publik yang nyaman, dan lingkungan kerja yang lebih bersahabat.

Melihat lebih jauh, generasi Z juga menginginkan fleksibilitas dalam pekerjaan mereka. Mereka cenderung menghargai keseimbangan antara kehidupan dan pekerjaan, serta mencari lingkungan yang mendukung kreativitas dan inovasi. Banyak dari mereka memilih untuk bekerja secara remote atau freelance, yang memberikan keleluasaan untuk mengeksplorasi peluang di luar negeri. Hal ini menunjukkan bahwa generasi Z tidak hanya mencari pekerjaan, tetapi juga cara hidup yang lebih berkualitas.

Berdasarkan hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) pada Februari 2024, jumlah angkatan kerja mencapai 149,38 juta orang, bertambah 2,76 juta orang dibandingkan Februari 2023. Meskipun jumlah tenaga kerja meningkat, yaitu menjadi 142,18 juta orang, tingkat pengangguran terbuka juga mengalami peningkatan sebesar 1,61 poin persentase. Ini menunjukkan adanya tantangan dalam lapangan kerja, meskipun terdapat peningkatan partisipasi angkatan kerja yang mencapai 40,83 persen.

Lapangan usaha di sektor penyediaan akomodasi dan makanan mengalami peningkatan tenaga kerja terbesar, tetapi tetap saja banyak anak muda yang merasa kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan yang stabil. Dengan tingkat pengangguran yang mencapai 4,82 persen, anak muda merasa khawatir akan masa depan mereka. Selain itu, jumlah pekerja komuter menurun, yang bisa menunjukkan adanya penurunan mobilitas dalam mencari pekerjaan.

Fenomena #KaburAjaDulu sangat berdampak terhadap Indonesia. Jika banyak anak muda yang terampil dan berpendidikan memilih untuk bekerja di luar negeri, maka dapat menyebabkan hilangnya tenaga kerja terdidik atau brain drain. Di sisi lain, pengalaman bekerja di luar negeri juga bisa membawa dampak positif. Dengan pengalaman yang diperoleh, mereka bisa kembali dengan keterampilan yang matang dan wawasan yang luas, sehingga dapat membantu kemajuan ekonomi Indonesia.

Untuk mengatasi fenomena ini, pemerintah dan dunia usaha harus mengambil tindakan, seperti meningkatkan kualitas dan jumlah lapangan pekerjaan dengan mendukung industri kreatif, teknologi, dan sektor lain yang dapat menyerap tenaga kerja muda. Selain itu, mengubah standar upah agar lebih kompetitif dapat memungkinkan anak muda hidup dengan layak tanpa harus bekerja berlebihan. Generasi Z juga ingin merasa dihargai dan memiliki ruang untuk berkembang, sehingga menciptakan lingkungan yang sehat dan adil, bebas dari diskriminasi dan nepotisme.

Penting bagi pemerintah untuk menyediakan program pelatihan dan pendidikan yang relevan, sehingga anak muda dapat mengembangkan keterampilan yang dibutuhkan dalam dunia kerja saat ini. Kolaborasi antara lembaga pendidikan dan industri juga dapat membantu menciptakan kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan pasar. Dengan cara ini, generasi Z bisa lebih percaya diri untuk berkarir di tanah air.

Pada akhirnya, fenomena #KaburAjaDulu bukan sekadar keinginan generasi Z untuk hidup di luar negeri, tetapi juga mencerminkan masalah sosial dan ekonomi yang mendalam. Generasi Z tidak akan pergi jika mereka merasa dihargai dan memiliki kesempatan untuk berkembang di tanah air. Daripada menyalahkan generasi Z karena memilih pergi, lebih baik kita bertanya: Apa yang bisa diperbaiki agar mereka tetap bertahan? (BP)*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *