Oleh: Syafi Natunnajjah (Siswa SDN 9 Koba)
Di kelas 5A SD Negeri 9 koba, ada seorang anak bernama Fikal. Ia bukanlah anak yang pintar bukan pula anak yang paling kaya. Fikal berasal dari keluarga yang paling sederhana. Fikal dikenal sebagai sosok yang pendiam tetapi ia sangat suka berolahraga. Ia mempunyai seorang kakak yang saat ini kelas 3 SMP. Fikal sering diejek teman-teman karena tidak pernah membawa uang jajan ke sekolah. Teman-teman mengatakan bahwa Ibu Fikal adalah orang yang kikir karena tidak pernah memberi Fikal uang saku ke sekolah.
“Fikal kamu mau naik haji ya, kok tidak pernah membawa uang jajan ke sekolah?” kata Rasika kepada Fikal. Teman-teman mendengar perkataan Rasika menertawakan Fikal. Fikal hanya tersenyum dan tak mau membalas ejekan Rasika.
Namun, di balik pintu kelas Fikal adalah sosok yang rajin. Pagi hari, Fikal sudah datang ke sekolah kebetulan rumahnya Fikal tak jauh dari sekolah. Fikal menyapu ruangan kelas, merapikan meja guru, menyiram tanaman di depan kelas maupun di belakang kelas. Fikal melakukan dengan senang hati tanpa paksaan dari wali kelas. Pernah suatu hari wali kelas bertanya, “Fikal mengapa kamu sanang menyiram tanaman, padahal hari ini bukan jadwal piketmu?”
“Tidak apa-apa bu, saat ini cuaca semakin panas maka semakin banyak tanaman yang tumbuh di sekitar maka udara terasa dingin, sejuk, dan segar kan bu. Saat pelajaran PAI Bu Ida mengatakan bahwa menyiram tanaman bernilai sedekah bu.” Jawab Fikal dengan penuh semangat.
“Wah, betul sekali Fikal,” kata wali kelas sambil tersenyum.
“Menyiram tanaman dirawat, termasuk disiram, menunjukkan kepedulian terhadap bumi dan makhluk-Nya,” kata wali kelas sambil membersihkan tanaman rumput yang ada di sekitar pot bunga.
Suatu hari kelas menjadi sangat sepi, Rasika tidak masuk. Rasika adalah salah satu teman sekelas mereka tidak masuk karena ayahnya sakit. Rasika adalah salah satu teman yang paling heboh di kelas, sehingga suasana kelas pun menjadi sangat sepi apabila Rasika tidak masuk sekolah. Ayah Rasika bekerja di tambang timah inkonvensional. Ayah Rasika adalah tulang punggung keluarga, jadi jika ayah Rasika sakit maka Rasikalah yang membantu keuangan keluarga karena ibu Rasika sudah lama meninggal pada saat melahirkan Rasika. Saat ini Rasika mengalami penderitaan yang sangat sedih. Rasika menyembunyikan dari teman-teman sekelas. Semua teman menjadi sedih karena mendengar cerita Rasika.
“Sudah 3 hari Rasika tidak masuk sekolah, bagaimana kalau kita sepulang sekolah ini menjenguk Rasika!” ajak Lucky dengan penuh semangat.
“Ayo, aku setuju.” kata Fikal sambil memegang saku celana berisi amplop berwarna putih. Fikal menabung uangnya selama berbulan-bulan untuk membeli tas baru, dengan uangnya sendiri Fikal tidak mau menyusahkan orang tuanya karena orang tuanya juga kerja keras untuk memnuhi kebutuhan keluarga mereka.
Fikal tidak setiap hari diberi ibunya uang jajan karena keterbatasan ekonami. Fikal menabung uangnya yang diberi ibunya ditabung di tempat celengan berbentuk ayam. Fikal berniat untuk memberi uang sakunya demi membantu Rasika. Tak behenti di situ Fikal juga mengajak teman-temannya untuk membuat rangkuman pelajaran agar Rasika tidak tertinggal pelajaran.
Sesampai di rumah Rasika teman-teman terharu melihat ayah Rasika karena ayah Rasika terbaring di atas dipan bambu.
“Ini Rasika semoga membantu!” kata Fikal sambil mengeluarkan amplop dari saku celana.
“Terima kasih Fikal semoga Allah memberi kesehatan dan rezeki yang berlimpah,” kata Rasika.
Rasika terharu atas perhatian Fikal kepada Rasika. Air mata Rasika hampir jatuh ke pipinya. Rasika berkata, “kamu hebat, Kal. Padahal dulu aku mengejekmu tapi kamu tidak ada bersalah. Kalau aku jadi kamu, aku akan membalas,” kata Rasika.
“Pahlawan itu tidak harus perang, Rasika,” ujar Fikal saat menjenguk Rasika.
“Dahulu masih ingatkah kita mengejek Fikal,” kata Rasika. “Fikal hanya tersenym dan tak mau membalas.”
“Membantu teman kesusahan, jujur dalam ujian, dan tidak menyontek saat ujian, itu adalah bentuk kepahlawanan kita saat ini” kata Rasika sambil berapi-api. Teman-temanpun hening.
“Maafkan kami ya, Kal. Kami berjanji tidak akan mengejek kamu lagi dan mengulang ini lagi!” Kata teman-teman dan meminta maaf lalu mereka berpelukan bersama. Sore itupun menjadi saksi bahwa tidak ada lagi perundungan terhadap Fikal.
Esok harinya, teman-teman terlibat dalam piket kelas dan rajin menyiram tanaman. Tetapi Rasika belum bisa masuk karena ayahnya masih belum sembuh. Teman-teman bergantian untuk mengajarkan Rasika agar tidak tertinggal pelajaran. (BP/ KM)*
Catatan: Cerpen ini merupakan karya peserta FLS3N Tingkat Kecamatan Koba Tahun 2026 cabang menulis cerita.*
