Oleh: Yanto,S,Pd.I M,PD (Guru, Motivator & Da,wah Indonesia)
Bekaespedia.com, Fir‘aun memang telah ditelan laut, tetapi jiwanya tidak pernah benar-benar lenyap dari sejarah manusia. Ia hidup bukan sebagai sosok bertajuk raja Mesir, melainkan sebagai watak yang bersemayam dalam diri siapa pun yang merasa paling benar, paling berkuasa, dan enggan tunduk pada kebenaran.
Fir‘aun adalah simbol keangkuhan akal ketika ia memutuskan diri dari cahaya wahyu.
Dalam pandangan ahli ma‘rifat, Fir‘aun bukan sekadar tokoh masa lalu, melainkan “keakuan” yang membatu. Ketika seseorang berkata dengan lisan atau batin
“akulah penentu segalanya”, saat itulah Fir‘aun bangkit. Ia muncul pada pemimpin yang menjadikan jabatan sebagai tuhan kecil, pada orang alim yang merasa ilmunya tak mungkin salah, bahkan pada ahli ibadah yang memandang rendah sesama.
Fir‘aun modern tidak selalu berdiri di singgasana. Kadang ia duduk di balik meja, di mimbar, di layar gawai, atau di ruang hati yang sunyi. Ia menindas bukan dengan cambuk, tetapi dengan aturan yang tak berbelas kasih, dengan kata-kata yang melukai, dengan kesombongan yang menutup pintu dialog dan taubat. Ia menolak nasihat, alergi pada kritik, dan menganggap perbedaan sebagai ancaman.
Ahli ma‘rifat memandang Fir‘aun sebagai ujian tauhid paling halus. Sebab Fir‘aun tidak selalu berkata “aku tuhanmu”, tetapi cukup merasa “tanpa aku semua runtuh”. Di situlah penyakit paling berbahaya: merasa diri sebagai pusat, bukan hamba. Padahal hakikat kehambaan adalah tunduk, sadar batas, dan rela diluruskan.
Laut yang menenggelamkan Fir‘aun sejatinya masih ada hingga hari ini: laut kerendahan hati. Siapa yang mau menyelam ke dalamnya akan selamat; siapa yang menolak akan tenggelam oleh kesombongannya sendiri.
Maka jihad terbesar manusia modern bukan hanya melawan kezaliman di luar, tetapi mematikan Fir‘aun di dalam diri dengan iman, adab, dan kesadaran bahwa segala kuasa hanyalah titipan.
Selama manusia masih mengagungkan ego dan menyingkirkan Allah dari pusat hidupnya, Fir‘aun akan terus hidup. Dan selama ada hamba yang mau merendah, bersujud, dan mengakui kelemahan, di sanalah Fir‘aun benar-benar mati._












