Dwi Apriani, Lidya Sari, Sintia, dan Tissa Ophelia, yang merupakan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung, melaksanakan observasi di SD Negeri 59 Pangkalpinang untuk mengamati langsung praktik manajemen kelas pada Rabu, 11 Juni 2025. Mereka menemukan bahwa penerapan kedisiplinan, ketertiban, dan suasana kondusif berperan penting dalam menciptakan pembelajaran yang efektif.
Manajemen kelas yang baik merupakan salah satu komponen paling vital dalam proses pendidikan, khususnya di tingkat sekolah dasar. Suasana kelas yang tertib, disiplin, dan kondusif tidak hanya membantu siswa memahami pelajaran dengan lebih baik, tetapi juga membentuk karakter mereka sejak dini. Kedisiplinan dan keteraturan dalam lingkungan belajar menjadi fondasi untuk menanamkan tanggung jawab, kemandirian, serta sikap saling menghargai.
Kelas yang tidak tertata dengan baik akan cenderung menghadirkan suasana yang tidak teratur, penuh gangguan, dan menghambat proses belajar. Oleh karena itu, pengelolaan kelas tidak boleh dianggap sebagai tugas tambahan, melainkan sebagai bagian inti dari tanggung jawab seorang guru. Manajemen kelas yang baik menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman sehingga peserta didik dapat belajar dengan fokus dan antusias. Dalam konteks Kurikulum Merdeka saat ini, manajemen kelas yang adaptif, terencana, dan berbasis pada pembentukan karakter menjadi semakin penting untuk menjamin proses pembelajaran berjalan optimal.
“Menurut saya, kelas yang disiplin bukan berarti sunyi tanpa suara, tapi bagaimana siswa tahu kapan harus bicara, kapan harus mendengarkan dan bisa mengikuti aturan tanpa harus ditegur terus-menerus. Di kelas saya, saya membiasakan membuat aturan bersama anak-anak sejak awal tahun ajaran. Mereka lebih mudah menaati karena merasa terlibat. Dari situlah suasana kelas jadi tertib, dan mereka bisa belajar lebih tenang,” ujar Ibu Fitri Diana, salah satu guru kelas di SD Negeri 59 Pangkalpinang.
Beliau juga menjelaskan bahwa suasana kelas yang kondusif bukan dicapai dengan kekerasan atau ketakutan, tetapi melalui pendekatan yang membangun hubungan positif antara guru dan siswa.
“Lingkungan belajar yang kondusif itu butuh rasa aman, nyaman, dan saling percaya. Saya tidak menggunakan hukuman keras. Kalau ada anak yang melanggar, saya ajak dia bicara baik-baik. Anak-anak jauh lebih mudah dibentuk kalau kita bersikap tegas tapi tetap lembut. Dengan begitu, kedisiplinan lahir dari kesadaran, bukan paksaan,” ucap Ibu Fitri Diana.
Dalam hal ini, manajemen kelas yang menekankan kedisiplinan, ketertiban, dan suasana yang kondusif sangat penting untuk menciptakan pembelajaran yang berkualitas. Sejalan dengan hasil observasi tersebut, Emmer dan Evertson (2016) menyatakan bahwa manajemen kelas yang baik menjadi kunci utama dalam menciptakan lingkungan belajar yang positif, produktif, dan berorientasi pada hasil belajar yang optimal. Dengan pengelolaan kelas yang tepat, guru dapat mengurangi gangguan, mengoptimalkan waktu pembelajaran, serta membangun interaksi yang mendukung perkembangan akademik dan sosial siswa. Artinya, kelas yang terkelola dengan baik secara langsung berkontribusi terhadap terwujudnya pembelajaran yang optimal dan berkualitas (Emmer & Evertson, 2016).
Hal ini disebabkan guru memiliki peran sentral dalam menata suasana kelas, bukan hanya dari sisi fisik, tetapi juga dari sisi emosional dan sosial. Ketika siswa merasa bahwa mereka berada di ruang belajar yang teratur, adil, nyaman, dan aman, maka proses belajar tidak hanya berjalan lancar, tetapi juga berkontribusi pada terciptanya pembelajaran yang optimal dan berkualitas.
Pengalaman yang dibagikan oleh Ibu Fitri Diana menunjukkan bahwa kedisiplinan dan ketertiban bisa dibangun melalui pendekatan partisipatif dan dialogis, bukan melalui ancaman atau paksaan. Dengan mengedepankan komunikasi yang positif, guru dapat menciptakan lingkungan yang memotivasi siswa untuk berperilaku baik dan bertanggung jawab. Oleh karena itu, pengembangan keterampilan manajemen kelas para guru harus menjadi prioritas utama dalam meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah dasar.
Berdasarkan hasil observasi kami di kelas yang dikelola oleh Ibu Fitri Diana, kami menyaksikan secara langsung penerapan manajemen kelas yang efektif, ditandai dengan suasana yang tertib, disiplin, dan kondusif, namun tetap disertai dengan wibawa dan kehangatan. Interaksi antara guru dan peserta didik berlangsung harmonis, mencerminkan hubungan yang saling menghargai dan penuh empati.
Sebagai mahasiswa Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung yang tengah mempelajari dunia pendidikan, kami meyakini bahwa apa yang diterapkan oleh Ibu Fitri merupakan contoh nyata dari praktik manajemen kelas yang ideal. Hal ini sekaligus memperkuat keyakinan kami bahwa kelas yang dikelola dengan baik benar-benar menjadi fondasi utama dalam mewujudkan pembelajaran yang optimal dan berkualitas.
Daftar Pustaka
Emmer, E.T., & Evertson, C.M. (2016). Classroom Management for Middle and High School Teachers (10th ed.). Pearson Education. (BP)*












