Gema Lonceng Di Punggung Bukit Mangkol

Oleh : Alfiyatul Aryani (Siswa SD Negeri 6 Namang

 

Langit di atas Desa Teru Bangka Tengah, pagi itu tampak seperti hamparan beludru biru yang disapu awan tipis. Arka, seorang bocah berusia sembilan tahun dengan langkah yang selalu melompat-lompat kecil. Sedang sibuk mengikat tali sepatu bot karetnya. Hari ini bukan hari sekolah biasa, hari ini hari di mana keluarganya akan melakukan ritual tahunan yang bagi Arka lebih seru daripada bermain game di ponsel pintarnya.

“Arka, sudah siap tasnya? Jangan lupa bawa botol minum yang besar!” seru ibu dari arah dapur sambil memasukkan beberapa bungkus nasi lempah kuning ke dalam keranjang anyaman pandan.

“Siap mak, tongkat pendaki Arka juga sudah siap,” jawab Arka dengan penuh semangat.

Ayah Arka, seorang pria dengan kulit kecokelatan yang tegap, keluar dari rumah sambil membawa parang yang tersarung rapi di pinggangnya. Mereka bertiga sebuah potret keluarga kecil yang selalu tampak selaras, bersiap menuju kaki Bukit Mangkol. Di Bangka Tengah, Bukit Mangkol bukan sekadar gundukkan tanah tinggi, ia adalah jantung, sumber air dan saksi bisu tradisi ‘MUROK’

Perjalanan dimulai dengan menyusuri jalan setapak yang rimbun. Arka berjalan di tengah diapit oleh ayah dan ibu. Ayah mulai bercerita, suara beratnya bersaing dengan kicauan burung murai batu yang bersahutan.

“Arka tahu kenapa kita harus mendaki setiap tahun. Bukan cuma untuk jalan-jalan tapi untuk menengok saudara tua kita.”

“Saudara tua? Kan Arka anak tunggal Yah,” celetuk Arka yang membuat ibu tertawa kecil.

“Pohon-pohon ini saudara tua kita, Nak. Mereka yang memberi kita air untuk mandi, udara untuk napas Arka. Tradisi kita mengajarkan bahwa setiap jengkal Bukit Mangkol adalah titipan yang harus dijaga dari tangan-tangan yang hanya mengambil tanpa memberi.” jawab ibu sambil mengusap peluh di dahi Arka.

Di tengah perjalanan mereka bertemu dengan kelurga Pak RT dan warga lainnya. Tradisi ini menjadi ajang silaturahmi yang kental. Mereka bersama-sama membersihkan jalur mata air dari dedaunan yang kering. Arka, dengan lincah memunguti ranting-ranting kecil, merasa dirinya adalah pahlawan hutan yang sedang menjalankan misi rahasia.

Puncak keceriaan terjadi saat mereka beristirahat di dekat air terjun kecil yang jernih. Ayah mulai mengeluarkan lonceng tua kecil dari dalam tasnya, sebuah tradisi unik keluarganya. Mereka membunyikan lonceng itu di sudut Bukit Mangkol. Arka diperbolehkan memegang talinya, saat denting itu dibunyikan Arka merasakan getaran aneh yang begitu senang di hatinya seolah bukit itu menjawab dengan hembusan angin yang sejuk.

“Ting Ting Ting.”

Lonceng itu menggema di sela-sela lembah yang terdengar begitu jernih dan damai. Arka duduk di sampingnya ayahnya.

“Tradisi ini seperti akar pohon, Arka. Kalau akarnya kuat, pohonnya tidak akan tumbang diterjang badai. Seperti kita yang merawat budaya maka identitas kita tidak akan dimakan zaman.” ujar ayah

Siang merambat saat mereka mulai turun ke desa. Arka menoleh ke belakang, sekali lagi dia melihat di atas kepala yang berkabut. la tidak lagi melihat sekadar kumpulan pohon tetapi sebuah warisan yang agung.

Arka belajar bahwa merawat budaya orang lain tidak harus dilakukan di panggung megah dan bagus. Kadang dia hanya membutuhkan sepasang botol karet dan lonceng tua kecil.

Saat malam sebelum tidur, Arka belajar dengan ayahnya cara mengenali pohon-pohon yang ada di Bukit Mangkol. Di Bangka Tengah ia ingin menjadi penjaga yang lebih hebat tahun depan. Semasa ada hati kecil yang tidak mati maka jadikan contoh seperti Arka yang membawa gema masa lalu menuju gema masa depan. (BP / KM)*

 

Catatan : Cerpen ini merupakan karya peserta FLS3N Tingkat Kecamatan Namang Tahun 2026.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *